
Rafkha merasakan apa yang Tiara rasakan, kesedihan yang tertutup senyum. Ya Tiara berusaha terus tersenyum, bahkan saat Rafkha membalikkan tubuhnya dan mulai berhadapan dengannya, Tiara masih tersenyum. Ada rasa bersalah di hati Rafkha tetapi bagaimana jika semua sudah terencana sejak awal dan kelak pun semua yang ia lakukan untuk istri tercinta.
"Maaf....." lirih Rafkha lembut dengan saling menatap dalam. Tiara menggelengkan kepala, ia tetap tersenyum meski dadanya begitu sesak.
"Aku tunggu kakak datang dan menjemputku untuk memulai semua dalam versi dewasa bukan pengantin remaja." Tiara kembali memeluk Rafkha, mengusap air matanya yang tak bisa tertahan dengan segera sebelum Rafkha sadar.
Setelah semua sudah rapi Rafkha diantar oleh semua keluarga menuju bandara. Rafkha berangkat sendiri karena Aara tak ikut serta. Gadis itu memilih berkuliah di ibu kota karena tak ingin jauh dari keluarga, terutama mommynya. Sedangkan Brian pun yang notabene sahabat Rafkha mulai berjarak semenjak kelakuan adiknya membuat malu keluarga.
Rafkha tak ada masalah dengan Brian namun sahabatnya cukup tau diri dan tak ingin Zea kembali membuat ulah saat keduanya kembali dekat. Memilih satu kampus dengan Aara dan tetap kuliah di Jakarta. Sekarangpun ia tak ikut mendekat, datang dengan memberi jarak, namun mendoakan kesuksesan sahabatnya.
Sejak dari rumah sampai bandara Rafkha tak kunjung melepas Tiara dari pelukannya. Ia tak membiarkan Tiara berjalan sendiri atau bersama dengan keluarganya yang lain.
Tiara pun tak menolak, hanya tinggal beberapa menit lagi bisa berduaan sebelum Rafkha berangkat. Begitupun dengan keluarga yang mengerti tak banyak berkomentar meski sejak tadi Aara dan Lily ingin sekali bertanya banyak tentang malam pertama yang keduanya sudah lalui. Apa lagi penampilan Tiara yang saat ini benar-benar tertutup dengan syal yang melingkar menutupi daerah lehernya.
Pasti sudah sangat banyak sekali tanda yang membekas di sana dan mereka hanya menemukan satu di leher Rafkha yang pria itu biarkan tak tertutup padahal terlihat begitu jelas hampir membiru. Kuat juga sesapan Tiara pikir Aara dan Lily yang sejak tadi saling menatap dengan mengulum senyum jail.
Rafkha mendekati Ayah Tara sebelum ia berpisah dan meninggalkan keluarganya dengan tangan Tiara yang masih ada di dalam genggaman.
"Ayah, Rafkha titip Tiara selama Rafkha jauh. Maaf jika Rafkha merepotkan Ayah dan belum bisa bertanggung jawab penuh menjadi suami yang baik untuk putri Ayah. Tapi Rafkha usahakan selalu memberi yang terbaik dan tidak mengecewakan Ayah dan Tiara," ucap Rafkha tegas dengan menatap Ayah mertua yang tampak menganggukkan kepala.
"Jangan khawatir Tiara akan baik-baik saja bersama Ayah dan kamu hati-hati di sana. Semoga sukses dan jangan mengecewakan Tiara dan keluarga yang menunggu kepulanganmu." Tara memeluk menantunya dengan sayang, berharap kelak Tiara mendapatkan kebahagian yang utuh dalam keluarga kecilnya.
__ADS_1
Waktu terus berputar dan waktunya Rafkha pamit dengan yang lainnya juga, Mommy sejak tadi menahan tangis. tak bertemu selama bertahun-tahun jelas membuat beliau sedih. Apalagi Rafkha menolak di jenguk dan dikirimi uang untuk biaya hidup. Pria itu benar-benar mau mandiri dan mendewasakan diri.
"Jangan sedih Mom, aku pergi untuk mencari ilmu. Sehat-sehat disini bersama Daddy dan jangan mengkhawatirkan aku, aku sudah besar sekarang Mom...Dad...Doakan aku bisa cepat menyelesaikan studi ku dan kembali pulang." Rafkha memeluk Mommy dan Daddy bergantian. Kesedihan pasti ada, tapi demi masa depan semua ikhlas.
"Tolong bantu aku menjaga istriku Mom Dad, kalian bisa menengok Tiara di kampung Ayah."
"Kamu tenang saja, Mommy dan Daddy akan sering-sering menengok Tiara, ya kan Dad?" tanya Andini yang masih kerepotan membuat suaminya agar tak terus cemburu pada Tara, apa lagi semenjak dia menduda. Raihan jadi sedikit mengkhawatirkan sesuatu yang tak penting.
Raihan menganggukkan kepala dan menepuk punggung putranya. "Tiara baik-baik di sini, jangan mengkhawatirkan apapun!"
"Justru Daddy loe yang khawatir karena istri akan lebih sering bertemu dengan sang mantan!" celetuk Andika dan mendapatkan tatapan tajam dari Andini.
"Nggak usah mulai kak! bikin kepo anak-anak aja!" kesal Andini dan menatap anak-anaknya yang kini menjadikan ia pusat perhatian.
Rafkha pun hanya diam dengan menatap Tiara yang tak berkomentar apapun. Kemudian Rafkha tak lupa pamit dengan Om gokilnya. "Rafkha pamit Om, jangan banyak membuat masalah sama MOmmy Om!"
"Nyokap bokap loe yang baperan! Hati-hati, disana awas jangan sampe berani-berani nyebur ke sumur bule. sampe gue tau loe macem-macem, gue potong si Joni biar modar sekalian!"
Reflek si Joni terjingkat beruntung segera di amankan dengan pemiliknya, namun bukan itu yang menjadi masalah. Semua menjadi menganga melihat Tiara yang begitu posesif menutupi si Joni dengan sigap. Bahkan tanpa malu sedangkan Rafkha sudah menahan malu.
"Sayang..."
__ADS_1
"Papah jangan mengancam begitu, ini tuh masa depan aku. Kalo di potong apa kabar denganku, nggak janji aku akan bertahan dengan si Joni yang tampak kerdil!" celetuk Tiara membuat kesedihan yang menyelimuti perpisahan menjadi kegilaan yang membuat semua nampak mendelik tak percaya setelah mendengar ucapan Tiara.
Rafkha mengusap kasar wajahnya, baru di kasih semalaman aja Tiara benar-benar ketagihan pesona si Joni, gimana jika tiap malam. Dan bagaimana mungkin ia begitu gamblang sekali berbicara ingin mengganti Joni yang lain jika miliknya tak lagi sempurna.
"Emang gagah banget ya punya Rafkha ra?" tanya Papah Andika yang kembali membuat Rafkha ketar ketir dan segera menarik tubuh Tiara menjauh sebelum kembali menjawab.
"Kak aku belum selesai bicara kak, masak si Joni mau di mutilasi kan masih biasa yang lain hukumannya jika kakak macam-macam." Tiara merengut kesal merasa sudah berteman baik dengan si Joni dan tak terima jika sampai dianiaya.
"Sssttt.....nggak perlu! Ini punya kamu akan baik-baik saja oke dan nggak akan ada yang berani memutilasi. Sekarang kakak mau pamit sama kamu, kakak sudah harus masuk ke pesawat." Rafkha begitu lembut menenangkan Tiara padahal dia begitu gemas, andai tak sedang berada di bandara pasti sudah ia lumaat habis bibirnya.
Tiara menganggukkan kepala dan memeluk Rafkha dengan erat begitupun dengan Rafkha yang membalas dengan tak kalah erat. "Jaga hati jaga semua milik Tiara ya kak, jangan ada yang berkurang sampai pulang nanti!"
"Iya, kamu juga ya. Tunggu kakak dan selalu ingat kamu milik kakak, istri Rafkha!" Rafkha mengecup kening Tiara begitu dalam, bulir air matanya menetes ke pipi Tiara. Sejak tadi Tiara menahan air mata di depan Rafkha tetapi justru ia melihat Rafkha tak kuasa menahan tangis.
Tiara merangkum kedua pipi Rafkha, mengusap air mata dengan terus tersenyum menatap menahan sesak. "Suamiku jangan menangis, hati-hati disana dan terus mencintaiku tanpa henti."
cup
Tiara mengecup bibir Rafkha dan segera melepas pelukannya, melangkah mundur dengan melambaikan tangan.
Bye
__ADS_1
Rafkha tau Tiara begitu pilu namun pandai menyembunyikan rasa dengan terus tersenyum sampai ia melangkah menjauh.
"I LOVE YOU KAK!" seru Tiara saat Rafkha sudah semakin menjauh dan hanya lengkungan manis di bibir yang masih terlihat membuat tangis Tiara terurai di pelukan Mamah Erna yang sejak tadi paham jika putrinya hanya tersenyum palsu.