
Mata Tiara membulat saat ia merasakan bibirnya di sesap dengan sangat kuat. Otaknya seketika blank tak mampu lagi berpikir apa yang terjadi saat ini. Begitu lembut gerakannya namun gairah menuntut membuat Tiara kewalahan. Bahkan Rafkha yang sudah lama tak merasakan dan menahan tidak membiarkan Tiara memberontak apa lagi menolak.
Dekapannya semakin kencang hingga dada Tiara semakin sesak. Tiara diam tak menyambut setiap gerakan yang meresahkan dari Rafkha. Bahkan ia merasa Rafkha semakin keterlaluan hingga air matanya pun mengenai pipi Rafkha.
Tak munafik rindu itu kembali hadir namun begitu menyesakkan kala mengingat semua yang Rafkha lakukan. Membuatnya merana dan gelisah bertahun-tahun, sempat tak semangat sampai kembali menemukan semangat yang nyata namun harus terhempas setelah tau keluarga pun ikut peran.
Rafkha tak perduli air mata Tiara, ia begitu merindukan hingga tak mampu menguasai diri dari segala nafsu yang mulai menyelimuti diri. Yang ada di pikirannya kali ini, Tiara adalah miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya. Istri yang paling ia cintai hingga kini.
"Maaf..." Lirih Rafkha saat memberi jarak agar Tiara dapat mengambil nafas dan kembali menyatukan setelah Tiara terlihat kembali baik-baik saja. Ia seakan tak mau menyiakan, bahkan jika perlu malam ini juga Rafkha ingin membawa Tiara pulang. Dan tak membiarkan Tiara kembali tidur sendirian lagi.
Tiara mendorong tubuh Rafkha sekuat tenaga, pikirannya mulai sinkron dengan apa yang terjadi dan memicu emosi Tiara meluap. Dengan pipi yang basah Tiara menatap nyalang pria yang begitu merindukan dirinya.
"Pergi!" sentak Tiara.
"Sayang...." panggil Rafkha dengan lembut.
"Pergi aku bilang!"
"Tiara aku minta maaf jika apa yang aku lakukan membuat kamu terluka. Aku menyesal, tapi please jangan ada kata pisah. Kita bisa memulainya dari awal, aku sadar aku yang bodoh di sini karena dengan mudah termakan emosi setelah tau istriku di dekati pria lain. Tapi yang membuat aku semakin marah kenapa wanita yang sangat aku cintai begitu membebaskan dan memberikan celah pria lain mencintai meski aku tau kamu tidak membalasnya."
__ADS_1
"Salah jika aku marah? aku pun kecewa akan sikap kamu, di saat jarak memisahkan dan kita tak bisa saling tegur sapa, tetapi kamu membiarkan kedekatan kalian semakin menjadi atas dasar persahabatan yang kamu agungkan. Sadarkah kamu akan sikap kamu yang terlalu open dengan pria lain? Apa kamu lupa akan status kamu? Di saat suami tak ada di rumah seharusnya kamu menjaga diri kamu dengan baik dari pria manapun itu."
Kali ini Rafkha yang berusaha menjelaskan dan menyadarkan akan kesalahan yang terjadi begitupun kesalahpahaman yang menyertai di dalamnya. Ia ingin Tiara pun sadar jika keduanya sama-sama salah. Dan menjadikan ini untuk introspeksi diri agar semua membaik bukan sama-sama keras dan memilih bubar.
Tiara membalikan tubuhnya, air matanya kembali mengalir setelah mendengarkan ucapan Rafkha yang begitu memojokkan dirinya. Bukan sadar justru Tiara semakin di buat kesal. Rasa sakitnya membuat ia merasa paling di kecewakan karena merasa tidak di anggap. Di tambah lagi, tak ada yang mengabarkan sama sekali tentang kepulangan Rafkha. Padahal ia yang paling berhak karena dirinya masih sah sebagai seorang istri tetapi seakan tak lagi di hargai.
"Tiara.."
"Pergi kak! biarkan aku sendiri dulu."
"Pergi dan kamu akan kembali berdua dengan sahabatmu itu? nggak akan! sudah ada aku sekarang dan aku tidak akan membiarkan kamu kembali dekat dengannya."
Tiara mengusap kasar air matanya, ia butuh sendiri untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu kembali melangkah menuju meja kerjanya, jalan satu-satunya adalah memanggil scurity untuk membawa Rafkha pergi.
Tiara terjingkat saat dekapan begitu erat, Rafkha meraih tubuh Tiara dan membawanya ke dalam dekapan. Ia tau bagaimana sifat Tiara, wanita itu tak bisa di kasar dan di keras. Mungkin mengalah jalan satu-satunya untuk kembali meluluhkan. Karena Rafkha sudah tak mampu lagi menahan kerinduan.
"Jangan memintaku untuk pergi sayang, aku sangat merindukanmu. Maaf jika aku membuat kecewa dan menjadi penyebab air matamu terbuang sia-sia. Aku minta maaf sayang." Rafkha membalikan tubuh Tiara agar dapat menatap wajah basah istrinya.
Namun perlakuan dan ucapan Rafkha justru membuat Tiara semakin terisak dengan tangan memukul dada Rafkha dengan hati tak karuan. Rafkha pun tak melawan, ia membiarkan Tiara memukulnya sesuka hati hingga wanita itu puas melampiaskan dan berhenti dengan tubuh lemas.
__ADS_1
Rafkha kembali mendekap tanpa perlawanan, Tiara pun sudah mulai tenang dengan Isak lirih yang masih terdengar di telinga Rafkha.
"Sakit, tapi nggak sesakit jauh dari kamu." Bisik Rafkha kemudian mengecup kening Tiara begitu dalam. Rafkha mengangkat tubuh Tiara dan melangkah menuju sofa tanpa melepaskan. Jadilah wanita itu terduduk di pangkuannya. Tiara pun hanya diam, sudah habis tenaganya dan tak ingin lagi banyak bicara.
Hatinya sudah lebih membaik dari sebelumnya segala kekesalan telah ia lampiaskan pada orang yang tepat. Dan kini ia lelah duduk bersandar dada dengan kemeja Rafkha yang sudah lusuh karenanya.
"Aku merindukanmu sayang, maaf membuatmu menunggu," Lagi-lagi Rafkha meminta maaf pada Tiara dan mendekap dengan gemas. Sudah 4 tahun lebih ia menunggu momen agar bisa kembali bersama. Menahan segala rasa hingga kini kembali berjumpa. Meski hubungan di selimuti masalah namun hatinya masih sama. Hatinya begitu mencinta hingga tak tau lagi cara menjelaskan jika ia sangat cinta.
Rafkha mengusap punggung Tiara dengan lembut, memberikan ketenangan dan kenyamanan. Sejak kembali melihat Tiara Rafkha sudah di buat geram. Penampilan sang istri membuatnya ingin marah, apa lagi saat melihat mata para pria yang begitu jelalatan memperhatikan Tiara.
"Mau pulang, hhmm?" tanyanya dengan melirik Tiara yang mulai nyaman dengan mata sayu. Efek emosi sejak pagi membuat makan hati dan badan letih.
Hati menolak namun tubuh menginginkan hingga nyaman dengan mata yang semakin lama semakin terpejam. Mulutpun serasa tak kuat untuk menjawab hingga benar-benar terlelap dalam dekapan.
Rafkha mengusap lembut pipi Tiara, membaringkan tubuh istrinya dan membuka jas yang ia kenakan untuk menutupi bagian bawah sebelum ia mengangkat Tiara dan membawanya pulang.
Wahyu menghela nafas berat saat dengan jelas melihat Rafkha membawa Tiara dan memasukkan wanita itu ke dalam mobil. "Memang sejak awal aku kalah."
Tiara membuka mata saat merasakan tubuhnya begitu sesak hingga sulit bernafas namun terasa nyaman dengan aroma parfum yang begitu sangat ia kenal. Pandangannya jatuh pada pria yang kini mendekapnya dengan erat. Dengan melingkarkan tangan di perutnya.
__ADS_1
"Ini dimana?" gumam Tiara yang kini menatap sekitar kemudian mencoba melepaskan tangan Rafkha tetapi pria itu semakin mendekapnya dengan erat.
"Lepas Kak!" ucap Tiara terus mencoba melepaskan diri namun tak kunjung di bebaskan oleh Rafkha hingga ia capek sendiri dan berujung merengut kesal.