YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Ayah


__ADS_3

Tiara berdiri menatap pria yang tampak kurus dengan rahang yang di tumbuhi bulu lebat dan rambut gondrong tak terurus. Air matanya menetes melihat Ayahnya datang dengan baju orange kebesaran yang membungkus tubuhnya. Baju yang di peruntukan untuk seorang Nara pidana, orang yang melakukan kesalahan dan bisa si bilang penjahat.


Benarkah ayahnya seorang penjahat, pencuri atau pembunuh. Habis hatinya mendapati fakta yang bertubi-tubi hingga ia merasa sudah tak mampu lagi berdiri. Tiara gadis manja yang nakal dan biasa membuat ulah kini mendapat masalah begitu besar. Hingga rasanya tak kuat untuk berdiri jika tak ada keluarga sebagai penguat dan penyemangat.


Tiara menarik nafas dalam dan berusaha tersenyum ketika pria itu semakin mendekat. Meskipun Tiara mendapatkan tatapan bingung dari beliau namun tak menyurutkan senyum yang telah mengembang menghiasi wajahnya.


Tara bingung saat dirinya di beritahu oleh polisi jika ada yang ingin bertemu, sedangkan belum lama Andika datang menjenguk. Namun melihat gadis yang tiba-tiba berdiri saat melihatnya datang membuat Tara semakin bertanya-tanya. Hingga dirinya mendengar panggilan yang menggelitik hati hingga jantung berdebar kencang.


"Ayah....."


deg


Tara menghentikan langkah mendengar panggilan ayah dengan suara lirih bergetar dari seorang gadis yang berada di hadapannya. Gadis yang memiliki wajah sama persis dengan sang istri. Hingga air matanya runtuh dan kembali melanjutkan langkah setelah sempat melirik ke arah Andika dan Raihan yang berada di belakang Tiara.


"Tiara....anak ayah?"


Tiara pun menganggukkan kepalanya dengan pipi yang sudah basah. Keduanya saling berpelukan, ini kali pertama Tara melihat Tiara. Selama dia berada di sana hanya Andika dan Raihan yang sesekali menjenguk tetapi karena waktu yang hanya sedikit untuk bertemu, membuat dirinya tak berkesempatan banyak untuk menanyakan perihal putrinya. Yang ia tau Tiara sehat, itu sudah cukup baginya.


"Maafin Ayah nak, kamu pasti malu memiliki Ayah seorang Nara pidana. Maaf...."


Tiara menggelengkan kepala, ia berusaha menenangkan Ayahnya. Mata beliau tersirat penyesalan dan kekecewaan, hingga membuat Tiara tak tega. Belum tau pasti alasan Ayahnya kini menjadi penghuni lapas yang sepanjang hari berada di balik jeruji besi.


"Ayah jangan berfikir seperti itu, aku bangga memiliki orang tua sepertimu. Semua kesalahan pasti ada hikmahnya dan semoga kedepannya menjadi lebih baik. Ayah mendapat salam dari Bunda, Bunda bilang Bunda rindu pada Ayah, Ayah sehat ya disini."

__ADS_1


Tara menganggukkan kepala, tak banyak waktu untuknya bersama putrinya namun sudah cukup membuatnya bahagia dan kembali bersemangat.


"Sayang, bilang pada Bunda jika Ayah sangat merindukannya dan maafkan Ayah yang belum bisa mendampingi Bundamu sampai detik ini. Kamu pun semoga selalu dekat dengan orang-orang yang selalu menyayangimu." Tara memeluk sang putri dengan sayang dan haru yang mendalam hingga akhirnya pamit karena waktu jenguk telah habis.


"Kak, makasih...." Ucap Tara tulus menatap pada Andika. Pria yang sejak dulu mengasuh putrinya sejak bayi hingga kini putrinya tumbuh menjadi gadis cantik dan sehat.


Andika menepuk pundak Tara dengan tersenyum, tinggal tiga tahun lagi Tara menghabiskan masa tahanan. Dan sebentar lagi dia bebas dari hukuman, Andika bersyukur Tara bisa menjalani semua dengan ikhlas dan menerima dengan lapangan dada.


Sepulang dari sana Tiara segera masuk ke kamar Bundanya, di sana sudah ada Mamah, Tante Andini dan Oma. Tak ketinggalan juga para sepupunya dan juga Gibran. Ntah apa yang terjadi, namun selang infus yang menancap di punggung tangan kanan Bundanya mewakili segala bentuk pertanyaan walaupun Tiara masih penasaran.


"Bunda....bunda kenapa?" tanya Tiara yang kemudian duduk di pinggir ranjang. Erna pun tersenyum menatap Tiara, putri satu-satunya yang tak di sangka akan hadir di saat tubuhnya berangsur melemah.


"Tidak apa-apa Nak, sudah biasa bunda mendapatkan ini. Jangan di hiraukan, Bunda baik-baik saja bahkan sangat baik setelah bisa kembali bertemu dengan putri bunda. Bagaimana dengan kabar ayah kamu nak?" lirih Bundanya dengan suara yang semakin lemah membuat Tiara semakin khawatir.


Satu jam lalu kondisi Cantika melemah hingga meminta dokter untuk memeriksa. Cantika memiliki penyakit yang sama dengan almarhum ibunya. Dan kini semakin melemah setelah hampir 15 tahun ia melawan penyakit yang mematikan.


"Kenapa sayang?" tanya Cantika kemudian menggenggam tangan Tiara dengan lembut.


"Tiara ingin tau bunda alasan Ayah masuk penjara..."


Cantika menghela nafas berat, mungkin sudah saatnya ia menceritakan semuanya yang terjadi di masa lalu. Kerumitan dan kesakitannya dulu, hingga kini berakhir dengan perih, tak memiliki kaki, di tinggal suami dan anak yang terpaksa harus ia titipkan karena keadaan.


"Ayah masuk penjara karena telah membunuh ibu tirinya."

__ADS_1


deg


"Pembunuh...."


Mata Tiara membola setelah tau alasan utama sang Ayah mendapatkan hukuman hingga 20 tahun lamanya. Ternyata Ayah kandungnya adalah seorang pembunuh. Tiara meneteskan air mata, ingin tak percaya tetapi ini kenyataan.


Sepupu mereka yang lain pun tidak menyangka dengan apa yang mereka dengar. Hingga Erna kembali menangis melihat Tiara terisak dengan menutup wajah. Rafkha pun segera memeluk Tiara dan mendekapnya. Tangis Tiara pecah di pelukan Rafkha membuat pemuda itu pun mendekap begitu erat.


"Kak.....hiks....hiks..."


"Sabar sayang.....sabar....." Rafkha mengusap lembut punggung Tiara. Hingga Tiara tenang dan siap kembali mendengarkan apa yang ingin Cantika ceritakan. Matanya sembab dengan wajah sendu menatap Rafkha dengan tatapan sayu.


cup


Rafkha mengecup kening Tiara kemudian menatap Bunda Cantika dengan wajah memerah. "Maaf Tante kebablasan. Rafkha nggak tahan lihat Tiara sedih."


Cantika tersenyum menatap Rafkha dan menjawab dengan anggukan.


"Bisa banget kamu nyari kesempatan, inget calon bini orang itu!"


"Mom.... Tiara hanya milik_"


"Kamu!" celetuk Andini dengan bersedekap. " Itu semua karena kamu memaksakan kehendak Rafkha, sampe Tiara kamu ajak ngamar duluan. Dan masalah ini belum selesai, kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan. Mommy nggak mau punya anak yang lepas tanggung jawab, inget itu!"

__ADS_1


"Justru itu yang Rafkha harapkan, tanggung jawab!" Rafkha tersenyum menatap Tiara yang kini menundukkan kepala, mendengar ucapan Rafkha yang ingin bertanggung jawab atas dirinya hati Tiara mendadak tak nyaman. Merasa tak pantas dan sadar diri dengan siapa dirinya kini.


"Bunda, ada yang bisa di jelaskan agar Tiara mengerti dengan apa yang terjadi di masa lalu? Apa Ayah semengerikan itu? Dan kenapa ayah menjadi seorang pembunuh Bunda?" Setelah melihat wajah Ayahnya mustahil beliau pernah membunuh orang, dan jika ia kenapa sang bunda masih mau menerima hingga saat ini.


__ADS_2