YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Nongki-nongki


__ADS_3

Mata Tiara berkaca dengan tangan mengepal, Lily segera mendekati dan mengajaknya masuk ke dalam kelas. Lily tak ingin membahas sesuatu yang membuat Aara dan Gibran tau. Kemudian melangkah bersama menuju kelas tanpa menanyakan apapun.


Di dalam kelas banyak yang mengucapkan selamat pada Zea, semua murid salut pada Zea yang bisa meluluhkan tembok es di hati Rafkha. Dan itu cukup mengusik hati Tiara, belum hilang keterkejutannya saat tau Rafkha yang kini menjadi pacarnya akan bertunangan lusa. Kini hatinya kembali di uji dengan ucapan-ucapan dari para teman-temannya yang ikut senang dan memuji Zea.


"Tenang, loe nggak usah khawatir. Kak Rafkha nggak akan diem gitu aja Tiara. Loe harus inget gombalannya Kak Rafkha tempo hari di rumah om Bayu."


Lily berusaha menenangkan Tiara yang sejak tadi hanya diam dan bungkam. Hingga rasanya ia ingin sekali membawa Tiara keluar dari kelas andai ia tak mikir jika bolos justru akan menambah masalah. Jadi mau tidak mau harus menelan pahit-pahit semua yang di dengar dengan hati tak karuan.


Dan di jam istirahat Tiara memilih untuk melipir ke belakang kelas, tempat sepi yang bisa membuat pikirannya lebih tenang dan damai. Sempat ingin ditemani oleh Lily, tetapi ia lebih memilih sendiri. Hingga kehadiran seseorang di sebelahnya membuat ia tersenyum, segera memeluk dan menangis tersedu. Menumpahkan segala rasa yang menyakitkan hatinya hingga benar-benar lega dan merenggangkan pelukannya setelah sadar jika dirinya telah membuat seragam pria itu basah.


"Ck, jangan meper juga! jorok loe jadi perempuan!" sewotnya dan Tiara cekikikan dengan mengusap pipinya yang basah.


"Makasih ya kak, makasih udah pinjemin dada loe yang sok bidang itu buat gue peluk dan makasih udah mengikhlaskan seragam loe basah kena air mata sama ingus gue! loe kakak yang jempolan." ledek Tiara dengan mengacungkan kedua jempolnya karena memang setelah ia menangis kini rasa sesak di dada berkurang dan lebih tenang.


Gibran mengusak rambut Tiara dengan kasar hingga berantakan. Kemudian menatap begitu dalam membuat Tiara yang tadi kesal karena di buat berantakan jadi heran dengan sikap kakaknya.


"Loe suka sama kak Rafkha?" tanyanya membuat Tiara membuang muka dan menghindari tatapan mata Gibran. Tapi Gibran menjadi paham jika Tiara bahkan sudah sangat mencintai Rafkha. Kedekatan mereka memang sudah sejak kecil tapi itu hal wajar bagi Gibran dan dia pun seharusnya berterima kasih karena tanggung jawabnya berkurang dan ia bisa main bersama teman-temannya menikmati kebersamaan yang entah sampai kapan. Karena ia sadar kelak akan ada tanggung jawab besar yang harus ia jalankan.

__ADS_1


Gibran menarik nafas dalam dan segera beranjak dari sana, melihat Gibran yang semakin menjauh membuat Tiara bernafas lega dan segera kembali ke kelas.


Rafkha pun sejak tadi tak terlihat di kantin, tak mengirim pesan apapun pada Tiara dan tak mencarinya. Tiara cukup maklum dan terus berusaha berfikir positif walaupun di hati ketar-ketir apa lagi tadi pagi Rafkha main pergi saja.


Hingga di jam pelajaran terakhir selesai dan semua murid sudah mulai meninggalkan kelas, Tiara tampak santai bersama Lily. Mereka keluar kelas setelah semua kelas sudah tampak sepi. Niatnya mereka berdua ingin mampir ke cafe sekedar ingin makan dan melupakan hal yang tadi. Sambil cuci mata dan memanfaatkan WiFi gratis.


Keduanya memutuskan menaiki taksi karena Aara tak bisa ikut. Hampir sore keduanya nongki-nongki cantik. Makan, ngemil, ghibah, sampai nobar Drakor kesukaan mereka. Tak jarang keduanya menjadi pusat perhatian tetapi tampak cuek dan tak menghiraukan.


"Kalo pertunangan itu fiks, loe bakal dateng juga?" tanya Lily yang mulai berani bertanya setelah ia melihat wajah Tiara aman jika di singgung kembali tentang masalah yang terjadi.


Tiara meminum minumannya dan menatap dengan tatapan kosong ke depan. "Alasan apa buat nolak datang? kita tau sendiri keluarga kita tuh selalu kompak. Mau kabur juga kasian bokap nyokap. Mau nggak mau ya gue harus datang, gue nggak mau menghindar. Mungkin benar kata Zea, sejak awal mereka itu sudah berjodoh. Dan gue tuh orang yang nggak tau diri masuk ke hubungan mereka berdua. Apa lagi kalo di lihat kedudukan gue, gue adik sedangkan Zea orang lain. Mustahil aja....."


Lily menghela nafas panjang, dalam hal ini ia tak bisa membantu banyak. Hanya bisa menemani di saat Tiara sendiri tetapi tak bisa memberi solusi. Karena Rafkha saja yang sudah melayangkan penolakan dan membantah tak di hiraukan oleh Daddy nya. Semua rencana tetap akan berlangsung, gimana dengan dirinya yang cuma anak bawang di rumah.


Keduanya memutuskan pulang saat matahari sudah hampir tenggelam, memesan taksi masing-masing dan segera meninggalkan cafe.


"Gue duluan ya, udah dateng tuh drivernya." Lily pamit lebih dulu karena taksi pesanannya lebih dulu datang. Sedangkan taksi pesanan Aara masih berjarak lumayan.

__ADS_1


"Ya udah duluan, punya gue drivernya masih pamit sama bini nya dulu kali ini," sahut Tiara santai dan segera melipir ke halte depan. "Hati-hati ly!"


"Yo..Yoi....kabarin gue kalo sudah sampe rumah Blai....." seru Lily dan segera masuk mobil.


"Iye Njir....!" Tiara menggelengkan kepala dan segera menjauh dari cafe. Tetapi belum sampai di halte tiba-tiba ada yang membekap hidung dan mulutnya hingga pandangnya kabur, sayu dengan tubuh layu dan tak sadarkan diri.


Tubuh Tiara kini terkulai lemah di atas ranjang dan dirinya belum kunjung sadar, sedangkan sejak tadi ponselnya berdering dengan panggilan atas nama Papah dan Mamahnya. Mereka khawatir karena sejak waktu pulang sekolah hingga lepas magrib Tiara belum kunjung pulang kerumah. Lily pun ikut menghubungi karena dirinya khawatir ketika om dan tantenya menanyakan keberadaan Tiara yang ia tau sudah pulang bersamanya.


Lily bahkan berpikir jika Tiara di bawa kabur oleh driver online seperti kasus-kasus yang ada di tv, karena tadi mereka terpisah saat ingin pulang dan Tiara menunggu taksi datang.


Seragam Tiara tergeletak di lantai, entah kapan di lepaskan tetapi Tiara tampak terlelap di balik selimut tebal dengan hanya terlihat pundak polos dan bagian dada atasnya saja.


Seorang pria keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri dengan tatapan sulit di artikan. Mendekat dan memperhatikan wajah cantik dengan leher yang membuat jakunnya naik turun. Pria itu merangkak dan mengecup bibir tipis yang sedikit terbuka dan berakhir di pundak polos Tiara dengan bebas.


Entah obat bius macam apa yang di berikan hingga hampir tiga jam ia tak sadarkan diri. Tetapi pergerakan sang pria membuatnya perlahan terusik dan mulai membuka mata, hingga mampu mengembalikan kesadaran dengan posisinya yang berada di bawah kukungan pria yang bertelanjang dada.


"Aaakkkkkhh.......eemmpppfft" teriakan Tiara tertahan saat bibirnya di bungkam dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2