
" Loh kok bisa pulang bareng sama Daddy sayang? Lily nya mana?" tanya Andini saat melihat Tiara keluar dari mobil suaminya.
"Lily nganter kak Aara Mom, aku bertemu Daddy di depan pintu masuk kompleks tadi. Jadi bareng dech," ucapnya jujur tetapi sebisa mungkin Tiara tak menceritakan tentang Wahyu, bisa kepo nanti mantan aunty nya ini.
"Terus kamu naik angkot?" tanya Mommy lagi, "kenapa nggak ngabarin Mommy atau Daddy tadi? tau gitu kan biar sekalian di jemput di kampus."
Tiara menghela nafas berat, jika bukan mertua dan masih aunty mungkin sudah ia bungkam dengan kata-kata konyolnya seperti dulu. Tetapi karena sekarang hubungan mereka antara mertua dan menantu sebisa mungkin Tiara harus menjaga sikap. Dia menatap Daddy nya yang diam menyimak, kemudian kembali menatap Mommynya lagi.
"Tadi Tiara bareng sama temannya sampai depan komplek saja, udah yuk ke kamar! siapin aku air untuk mandi ya gerah banget aku." Raihan segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam.
Tiara menghela nafas lega melihat Daddy sangat bisa di ajak kerja sama. Andai Daddy tak membantu sudah pasti Mommy terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Tiara segera masuk kamar dan bergegas membersihkan diri. Merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mengecek ponselnya berharap ada pesan nyasar dari sang suami.
"Ini orang udah jadi bang toyib beneran, nggak ngasih kabar lagi." Tiara terlelap dengan pipi yang basah. Benar kata Dilan rindu itu berat dan rasanya ia ingin menyerah jika perlu mendatangi dan memintanya untuk ikut pulang. Semesta seperti tak berpihak pada Tiara, sudah berusaha sepenuh hati semangat 45 tetapi tak kunjung bertemu dengan Rafkha karena ada saja halangan, kendala, dan kesibukan. Rasa rindu sudah menggunung namun kecewa pun tak kalah besar. Rafkha tak ada kabar berita, setiap di tanya pun keluarga tak ada yang tau hingga Tiara jengah dan memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya sampai D3.
Kini Tiara memegang kendali perusahaan almarhum Bunda Cantika dan memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan Bundanya dulu yang masih terawat dengan baik. Tiara tinggal bersama dengan wanita paruh baya anak dari pelayan yang dulu merawat bundanya sejak kecil dan satu tukang kebun merangkap menjadi penjaga di rumahnya.
Hubungan dia dengan keluarganya baik namun Tiara tak bisa memungkiri jika dirinya sangat kecewa karena merasa ada yang di tutupi dari mereka hingga dia sulit bertemu dengan Rafkha yang sudah 4 tahun tak ada kabar berita. Status istri tetapi ntah masih bisa di sebut istri atau tidak jika hubungan keduanya saja tak ada perkembangan malah semakin renggang.
Hubungannya dengan Wahyu pun masih cukup baik, malah tak ada kendala. Meski berulang kali Wahyu menyatakan cinta namun Tiara tetap pada pendiriannya dan masih menjaga setidaknya sampai jelas hubungannya dengan Rafkha.
"Gue pasrah, semau loe mau gimana kak. Gue udah ngejaga sampai saat ini tapi jika loe yang terus ingkar gue bisa apa. Mundur jadi jalan yang utama," gumamnya sebelum mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Tiara pun sudah lega Ayah Tara sudah menikah lagi meski sempat tak percaya jika yang beliau nikahi adalah sahabatnya sendiri. Benar-benar di luar ekspektasi dan ia hanya mampu menerima dengan ikhlas setiap apapun yang telah Tuhan gariskan untuknya.
"Tiara.....Yuhuuuu....How are you baby, I miss you so much cantik." Lily datang pagi-pagi mengantarkan sarapan buatan Mommynya, ya Andini selalu ingat makanan kesukaan Tiara meski menantunya memilih tinggal terpisah dan ia sangat menyayangkan namun tak bisa melarang.
"Non Tiara belum turun Non mungkin sedang mandi," Ucap Bibi yang sedang menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Oh baik Bi, Lily nik ya Bi," ucapnya dan segera menerobos masuk kamar Tiara tanpa permisi. Sudah menjadi kebiasaannya dan hanya Lily yang berani demikian. Hanya dengan Lily juga Tiara tampak masih akrab karena dengan yang lain seperti menghindar.
Lily duduk pinggir ranjang menunggu Tiara keluar dari kamar mandi, melihat sekitar dan menemukan cincin pernikahan Tiara tergeletak di atas nakas. Dia tau betul perasaan Tiara, kecewanya dia dan sedihnya saat semua seperti tak berpihak padanya. Apa lagi saat ia melihat wajah pias setiap Tiara harus mendengar kata "Rafkha baik-baik saja" tanpa ada yang mau menjelaskan. Dan ia pun tak tau apa mau kakaknya sebenarnya.
"Kehilangan Tiara mampuuuus loe kak! Dan gue cuma bisa bilang selamat loe berhasil buat anak orang menyerah!"
ceklek
"Eh ngapain loe pagi-pagi udah ada di mari? nggak kuliah?' Tiara terkesiap melihat Lily yang meringis menatapnya. Dia segera masuk ke kamar ganti dan memakai setelan kantor. Tiara saat ini terlihat dewasa dengan wajah yang semakin cantik dan anggun, keimutan yang dulu membuat orang gemas kini terlihat sensual dan meresahkan bagi pria yang melihatnya.
Setelan kantor dengan kemeja yang pas di body dan rok di atas lutut. Belum lagi belahan di roknya yang melebihi sejengkal tangan orang dewasa. Dan sepatu high heel yang mempercantik kaki jenjangnya. Sudah pasti menggoda iman pria dewasa.
"Widih Ibu bos sexy banget dah akh!" celetuk Lily yang melihat Tiara saat ini sedang duduk di kursi meja rias merapikan penampilannya sebelum siap berangkat ngantor.
"Ini apa?" Tiara membuka isi dari paper bag tersebut setelah duduk di samping Lily.
"Dari Mommy, loe nggak main-main ke rumah. Mommy masak dendeng daging terus inget sama loe. Makanya gue pagi-pagi suruh datang kesini. Kangen sama mantu kesayangannya tuh!" Lily segera mengambil satu porsi nasi goreng dan melahapnya.
Tiara kembali menutup bekal yang telah di siapkan oleh Mommynya dan segera meminum susu yang telah di siapkan untuknya. Makanan kesukaannya sama dengan apa yang di sukai Rafkha, jelas itu membuatnya teringat akan pria yang saat ini ntah dimana. Sudah cukup kuat hatinya bahkan tak sesedih sebelumnya. Tiara pun lebih bisa menyikapi segala apapun dan lebih dewasa dalam bersikap.
"Bilang sama Mommy, makasih banyak dan lain kali jangan repot-repot buat masakin ini. Kasihan Mommy capek pagi-pagi udah ribet." Tiara segera sarapan sedangkan bekalnya akan ia bawa ke kantor.
"Kan gue bilang Mommy kangen sama loe. Kalo lagi nggak sibuk main lah kerumah. Udahan ngambeknya, nggak apa loe marah sama kakak gue tapi jangan sama orang tua kita!"
__ADS_1
"Hmmm....bakal gue usahain kesana."
Setelah sarapan Tiara segera melajukan mobilnya menuju kantor. Semenjak bekerja Tiara lebih memilih membawa mobil dari pada motor. Lebih aman apa lagi dengan penampilannya saat ini, tidak pas jika naik motor. Sampai di kantor ia segera masuk keruangannya. Tiara sosok atasan yang humble, dia di bimbing oleh orang kepercayaan keluarga Bunda Cantika hingga bisa menjadi pemimpin yang baik.
Semenjak di pegang oleh Tiara juga perusahaan semakin berkembang dengan banyaknya investor yang mengajak gabung. Selain pintar kecantikan dan sikapnya yang ramah menjadi nilai plus bagi klien yang ingin mengajukan kerjasama. Sampai Tara di buat bangga dengan kinerja putrinya yang sangat membanggakan. Siapa yang tidak tau Tiara CEO cantik dari perusaahan Carata company.
Ya nama itu di ambil dari nama Bunda, Ayah dan dirinya. Karena semenjak TIara bergabung ia ingin memulai dari nol dengan mengganti nama perusahaan dan sebagai nilai jual agar orang lain tau jika sekarang sudah ada yang menghandlenya semenjak berpuluh tahun hanya di handle oleh orang kepercayaan tanpa ada CEO yang memimpin.
Ketukan pintu dari luar membuat fokus Tiara buyar, ia mempersilahkan masuk sekretarisnya yang kebetulan ingin cuti melahirkan.
"Maaf Bu, calon sekertaris sekaligus asisten untuk menggantikan saya cuti sudah datang, bagaimana Bu apa akan di interview sekarang?" tanyanya ramah.
"Mmmm....boleh dech, silahkan suruh masuk aja orangnya ya!"
"Baik Bu," Rani sekertaris Tiara pun segera keluar dari ruangan. Sedangkan Tiara menyelesaikan pekerjaannya sebelum interview dan makan siang. Ia orang yang tak mau menunda pekerjaan, selalu keluar dari ruangan saat pekerjaan sudah selesai di kerjakan. Apa lagi semenjak sekretarisnya hamil besar, Tiara lembur-lemburan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.
tok
tok
tok
"Masuk!" titah Tiara tak mengalihkan pandangannya pada layar laptop.
"Duduk!" titahnya lagi. Orang itu pun segera menggeser kursi dan duduk di hadapan Tiara.
__ADS_1
"Sebelumnya sudah pernah bekerja dimana?" tanya Tiara belum kunjung menutup layar laptopnya. Namun seketika gerakan tangannya terhenti kala mendengar suara yang tak asing menjawab pertanyaannya. Dengan cepat Tiara menutup laptop tersebut dan segera melihat siapa orang yang kini duduk tersenyum padanya.