
Zea tersenyum melihat Rafkha yang tertidur di sofa panjang, ia yang tadi sempat bertemu dengan Brian saat ingin ke kantin akhirnya memutar arah setelah membeli makanan. Zea melangkah mendekat kemudian duduk tepat di dekat perut Rafkha.
Merasakan ada orang yang tiba-tiba mendekat membaut Rafkha membuka mata dan segera terduduk setelah tau siapa yang datang.
"Ngapain loe kesini?" tanya Rafkha dengan wajah datar dan malas menatap.
"Aku denger dari Kak Brian kalo kakak sakit, makanya aku kesini. Kakak makan ya, aku beliin kakak makanan tadi." Zea segera mengambil satu bungkus makanan yang ia bawa dan meletakkan di depan Rafkha.
"Gue nggak pengen makan, loe bawa lagi aja dan mending loe keluar, gue mau tidur." Rafkha segera mengambil botol minum yang ada di atas meja tetapi dengan cepat Zea berdiri dan meraihnya lebih dulu.
"Ini kak..." Zea memberikan botol minum pada Rafkha dan dengan kasar dia meraih botolnya hingga tangan Zea ikut tertarik dan terjatuh di pangkuannya.
Jantung Zea berdebar melihat wajah Rafkha begitu dekat, bahkan jarak keduanya sangat intens. Rafkha yang tak siap dengan tubuh yang lemah tak bisa menahan tubuh Zea. Hingga kedekatan mereka yang baru berlangsung dalam hitungan menit membuat gadis yang kini berdiri di ambang pintu salah paham.
"Tiara...."
Zea segara menoleh dengan posisi yang sama dan belum juga beranjak dari pangkuan Rafkha. Rafkha pun terpaku melihat wajah kecewa Tiara bahkan dengan jelas Rafkha melihat Tiara mundur dengan mata berkaca-kaca.
"Turun!" sentak Rafkha.
"Kak.."
"Turun gue bilang!" sentaknya lagi membuat Zea terjingkat dan turun dari pangkuan Rafkha.
Dengan susah payah Rafkha beranjak dari sana, berjalan sempoyongan dengan kepala yang begitu pening. Rafkha segera melangkah keluar ruangan meninggalkan Zea yang diam menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
"Jangan lagi loe deketin gue! ini yang terakhir setelah dua tahun yang lalu loe melakukan hal yang sama. Kalo sampe Tiara marah sama gue! loe yang harus tanggung jawab!" lirihnya dengan penuh penegasan dan segera pergi dari sana meninggalkan Zea yang menghela nafas berat.
Rafkha melangkah ke kelas Tiara, andai Zea bukan adik dari sahabatnya, andai Zea bukan anak dari sahabat Daddy nya, mungkin tak seperti ini. Dia masih menjaga kekerabatan walaupun ia merasa muak dengan tingkah Zea.
"Tiara mana?" tanya Rafkha dengan memegang kedua bahu Lily.
__ADS_1
"Nggak ada kak, loe nggak liat tuh. Tasnya aja nggak ada, makanya punya hati tuh di jaga! loe udah kayak kacang goreng yang bisa di makan rame-rame! Dengan Tiara kabur begini, gue yakin sekarang kalo selama ini dia suka sama loe kak! Vero dan yang lainnya cuma dia buat pengalihan!" Lily benar-benar geram dengan sikap kakaknya dan juga Zea. Kerena sejak awal dia tau hati Rafkha berlabuh kemana.
Rafkha mengusap kasar wajahnya, dia merasa gagal menjaga hati. Wajahnya semakin memerah dengan tangan yang mengepal. Tidak mungkin ia pun ikut membolos, sedangkan setelah ini ada pembagian soal untuk persiapan ujian.
Namun belum sempat kembali ke kelas, matanya berkunang, kepalanya semakin pening dan pandangannya menjadi gelap.
Brugh
"Kak Rafkha!"
"Tolong... tolongin kakak gue dong!" teriak Lily kepada teman sekelasnya.
.
.
.
"Sistem kekebalan tubuhnya menurun, mungkin karena kelelahan dan banyak pikiran. Hal itu menyebabkan pasien mudah terserang virus dan penyakit. Demamnya juga sangat tinggi dan ia mengalami flu berat. Itu yang membuat kepalanya pusing dan tekanan darah nya yang rendah semakin memperparah sakit kepalanya."
Andini menganggukkan kepala, berterima kasih dan setelah itu masuk menemui Rafkha. Seorang Ibu tidak akan tega melihat anaknya terbaring di rumah sakit. Apa lagi yang Andini tau Rafkha itu kuat dan sekarang harus di rawat.
Kabar Rafkha masuk rumah sakit pun sudah sampai di telinga Raihan dan Andika. Raihan segera meninggalkan kantor setelah mendapat kabar dari istrinya. Bahkan ia meninggalkan meeting penting sore ini dan menyerahkan semua urusan kantor pada Andika.
" Rafkha belum sadar sayang?" Raihan yang baru datang segera melihat keadaan putranya yang masih belum sadarkan diri.
"Belum, tapi kata dokter tidak apa Mas, dia butuh banyak istirahat dan kini sedang tertidur. Sabar saja nanti juga bangun. Kasian demamnya baru turun, semoga saja bisa cepat pulang. Anak itu paling tidak suka berlama-lama di rumah sakit.
Setelah jam pulang sekolah pun Aara dan Lily menyusul ke rumah sakit, mereka datang bersama dengan Brian dan juga Zea. Brian yang tadi sempat khawatir terhalang dengan pelajaran alhasil tidak bisa mengantar Rafkha ke rumah sakit.
"Mom......"
__ADS_1
"Eh sini sayang, masuk!" Keempatnya masuk dan melirik ke arah Rafkha yang masih memejamkan matanya.
"Bagaimana kabar Upin Mom?"
"Keadaan Rafkha sudah membaik, kita tinggal tunggu ia bangun. Kalian langsung kesini? berarti belum makan dong?" tanya Andini melihat satu persatu personil yang datang, tetapi seperti ada yang kurang. "Eh tunggu, Tiara dan Gibran nggak ikut?"
"Tiara_"
"Tiara sudah pulang duluan Mom!" sahut Lily memotong ucapan Zea, lalu menatap Zea dengan tatapan penuh makna.
"Tumben, dia tau kan kalo Rafkha sakit?" tanya Andini penuh selidik, tak mungkin jika Tiara tau dan tak menjenguk. Mereka sudah seperti sepasang baju dan celana, tetapi melihat wajah Lily seperti ada yang disembunyikan.
"Tadi Tiara pulang cepat Mom, biasa kayak Mommy nggak tau aja," ucap Lily santai kemudian mendekati Rafkha agar tidak terus di cecar pertanyaan olah Mommy nya.
Saat Lily mendekat bertepatan dengan Rafkha yang membuka mata, ia melihat sekitar ruangan yang asing baginya, kemudian melihat tangan kanan yang di infus membuatnya menghela nafas berat dan memejamkan mata.
"Mom, kak Rafkha bangun Mom!" seru Lily membuat kedua orangtuanya segera mendekati.
"Alhamdulillah kamu sudah bangun nak....Gimana masih ada yang sakit?"
"Tinggal pusing sedikit Mom." Rafkha melihat Mommynya kemudian memandang semua yang ada di sana, mencari seseorang tapi tak ada, kemudian ia menatap Lily dengan tatapan penuh tanya. Dan jawaban dari Lily membuat Rafkha memijit pelipisnya.
"Cari!" ucapnya tanpa bersuara.
Andini dan Raihan menangkap kegelisahan Rafkha, keduanya saling memandang hingga dering ponsel menarik atensi keduanya. Raihan segera menerima dengan masih menatap putranya.
"Tiara nggak ada di sini!"
...✨...
Jangan lupa follow Ig aku ya weni0192 🤗🤗
__ADS_1