YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Butuh Pengaman?


__ADS_3

Rafkha menutup kembali pintu kamar dan kembali mendekati Tiara yang kini nampak setengah sadar karena cukup lelah mengimbangi untuk yang pertama kali. Tiara menatap samar wajah Rafkha yang tersenyum hangat padanya dengan Rafkha yang kemudian duduk di sisi ranjang menatap wajah sayu istrinya.


"Capek, hmmm?" tanyanya lembut dengan mengusap peluh yang masih tersisa di kening Tiara. Matanya pun kembali terbuka dan tersenyum menatap Rafkha. "Mau makan nggak?" Tanya Rafkha lagi, ia tak ingin egois sang istri pun butuh makan agar nanti bisa mengulanginya lagi. Tak apa menahan pusing sebentar agar setelahnya lancar jaya.


"Mau tapi malas turun Kak, sakit benget kak masih perih gitu. Nggak santai sich, repot kan jadinya." Jangankan turun mau bangun saja dia malas. Bahkan sampai sekarang Tiara belum memakai pakaiannya. Entah kemana semua baju dan **********, bisa di tanyakan lagi nanti pada Rafkha pelaku utama yang membuang dengan semena-mena.


"Nanti aku buat agar tak sakit lagi sayang, kita ulangi lagi agar hilang perihnya. Lagian aku belum mau selesai loh sayang, pusing nanti si Joni kalo nggak di turutin." Rayuan maut dari Rafkha segera ia layangkan agar kembali dapat mengulang. Lagi pula dia tak menerima penolakan karena esok pun tak lagi bisa melakukan.


Tiara memijit pelipisnya, menatap tak percaya. Bagaimana bisa tidak sakit jika sebesar itu masuk ke miliknya yang masih chibi-chibi. Rasanya Tiara ingin sekali menjerit meminta tolong pada Ayah dan Papahnya untuk mengikat menantu yang selalu merusuh di kala bertemu.


Rafkha menyibak selimut yang membalut tubuh Tiara, menatap dengan mata berbinar dan tatapan ingin kembali menjamah.


Melihat tatapan Rafkha yang berbeda membuat Tiara menutupi dadanya dengan kedua tangan. Merengut kesal dengan tatapan awas. Sungguh Rafkha meresahkan, bukannya mengajak makan justru dirinya yang akan di lahap.


"Jangan celamitan Kak! katanya tadi ngajak makan tapi malah lihat aku begitu banget. Bikin aku adem panas tau nggak!" celetuk Tiara. Namun Rafkha tak menggubris, ia menyeringai tipis dan menepis kedua tangan Tiara agar tak menghalangi pemandangan yang menyegarkan. "Kakak!"


"Apa sayang?" tanya Rafkha lembut dan kembali mendekati. Godaan memang besar saat mata di manja oleh tampilan yang aduhai sampai lupa jika Mommy dan keluarga yang lain telah menunggu di meja makan.


"KAKAK!" Teriak Tiara saat RAfkha kembali mendekat dan mulai ingin bermain kembali. Pria itupun tak menggubris seruan dari istrinya, terus merusuh membuat Tiara kembali harus menahan gelayar syahdu.


"Tadi katanya ngajak makan tapi kenapa malah aku yang dimakan!" kesal Tiara, anak soang satu ini memang tak bisa di biarkan. Semakin meresahkan dan membuat gelisah. Tiara di buat seperti cacing kepanasan, siapa lagi jika bukan Rafkha pelakunya.


"Berhenti atau nggak aku kasih jatah sampai pagi!" ancaman maut yang membuat pergerakan Rafkha terhenti, kali ini ia tak akan bisa berkutik. Ingin mengabaikannya pun enggan karena waktunya tinggal beberapa jam lagi terbang.

__ADS_1


Rafkha beranjak dari atas tubuh Tiara dan segera turun mengambil pakaian yang masih tergeletak di atas lantai. Kembali mendekati Tiara membantunya beranjak dan mengajak mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi. Membantu Tiara membersihkan diri, memakai pakaian kembali dan menyisir rambut Tiara dengan telaten.


Tiara tersenyum mendapat perlakuan manis dari Rafkha begitu perhatian dan pengertian. Membuat hatinya menghangat, ia benar-benar diratukan dengan pria yang kini mendapat predikat suami olehnya.


"Makasih kakak....cup..." Tiara mengecup pipi Rafkha namun wajahnya sendiri yang nampak merona membuat Rafkha yang sempat terkesiap kini begitu gemas melihatnya. Tiara memang menggemaskan dan ini yang akan dia rindukan saat wanitanya jauh dari jangkauan.


Keduanya segera melangkah menuju ruang makan, Tiara begitu kerepotan berjalan dan menarik perhatian Rafkha. Melihat Tiara yang kesulitan berjalan Rafkha pun tak tega dan segera berjongkok menghadang jalan.


"Naik!" titahnya, Tiara sempat terdiam berpikir sejenak di gendong malu tetapi butuh berjalan pun masih kaku dan ngilu. Wanita itu segera naik hingga mendarat mulus di ruang makan dengan tatapan keluarga yang berbeda.


 Raihan dan Andini yang paham hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Putranya yang begitu gercep memanfaatkan waktu. Melihat hasil mahakarya yang begitu banyak di leher Tiara membuat Mommy tak tahan ingin berkomentar tetapi Daddy segera mencegah takut membuat canggung menantunya.


Namun Aara mewakili mulut jail mommynya dengan meledek keduanya yang kini memulai untuk menikmati makan malam yang hampir ketinggalan.


Uhuuk....Uhuuk...Uhuuk....


Rafkha dengan sigap memberikan minum untuk Tiara dan menatap tajam wajah adiknya yang mengulum senyum dengan wajah meledek. Sebenarnya tak hanya Mommy dan Aara yang gatal ingin menggoda Lily pun sama tetapi tak cukup berani karena kasihan Tiara yang akan risih setelahnya.


"Udah?" tanya Rafkha dengan memperhatikan pipi Tiara yang merona.


Tiara pun menganggukkan kepala menatap Rafkha dengan puppy eyes yang membuat Rafkha semakin tak tega. Pria itu kembali menatap Aara yang kini tengah melanjutkan makannya.


"Jangan digodain Ra!" Rafkha memperingati Aara yang tampak merengut melanjutkan makan. Tampak cuek saja padahal dia tak akan melepas Tiara setelah keberangkatan Rafkha besok. Pengalaman itu harus di bagi-bagi apa lagi yang mengandung ilmu.

__ADS_1


"Sudah-sudah cepat makan dan istirahat. Jangan kalian ganggu kakak kalian!" tegas Raihan, beliau segera menyelesaikan makannya dan lebih dulu beranjak dari sana menuju ruang kerja. "Raf, setelah mengantar istrimu ke kamar Daddy tunggu di ruangan kerja Daddy!"


"Iya Dad," jawab Rafkha kemudian meminta Tiara untuk segera menyelesaikan makannya agar tak kemalaman dan bisa melanjutkan kembali setelah menemui Daddy.


Rafkha keluar kamar setelah memastikan Tiara aman dan mau menunggu menyelesaikan urusan dengan Daddy. Ia pun akan memastikan berbicara dengan Daddy nya tak memakan waktu lama agar tak keburu Tiara ketiduran.


"Ada Apa Dad?" tanyanya setelah duduk di depan meja kerja Daddy nya.


Raihan berdehem sebelum menjawab pertanyaan dari putranya. "Putra Daddy sudah dewasa, apa akan buru-buru memberikan cucu untuk Daddy?" pertanyaan yang membuat Rafkha seketika mengerti maksud dan arah pembicaraannya. Rafkha menghela nafas panjang menatap Daddy nya yang kini mengulum senyum melihatnya.


"Apa Daddy meragukan aku?"


Pertanyaan yang Rafkha ajukan membuat Daddy nya tertawa, beliau menganggukkan kepala percaya. "Butuh pengaman? Daddy yakin kamu belum sempat membelinya." Raihan sangat dekat dengan Rafkha hingga tak canggung membahas masalah ranjang dengan putranya.


"Aku tak butuh itu Dad, Tiara tidak akan nyaman. Jika Daddy memanggilku hanya untuk membahas itu aku kira Daddy paham bagaimana aku. Dan aku tidak ingin membuang waktu, aku permisi keburu Tiara tidur Dad."


Raihan menghela nafas berat melihat kepergian Rafkha  dan mengetahui apa yang akan ia lakukan. Sadar sifat Rafkha tak jauh berbeda dengan dirinya membuat Raihan tak bisa mencegah. Dan semoga Rafkha pergi tak meninggalkan benih apa lagi Tiara yang masih sekolah.


"Sayang...." Rafkha mengeram melihat Tiara yang tertidur pulas tanpa menunggunya datang. Alamat si Joni merana dan harus di tuntaskan segera. Tanpa mendekati Tiara, Rafkha segera masuk ke kamar mandi. Sudah sangat menahan hingga pusing tak karuan kini gagal di manja. Auto bekerja sendiri dari pada tak bisa tidur sampai pagi, setidaknya lega dan bisa menagih jatah besok pagi.


Rafkha benar-benar merealisasikannya sendiri dibantu bayangan akan istrinya agar cepat tuntas dan tidur pulas. Rafkha begitu menghayati dan menikmati sampai ia tak mendengar pintu kamar mandi terbuka lebar.


"Kakak si joni di apain? pantas jadi berotot begitu!"

__ADS_1


__ADS_2