
Kini semua telah berkumpul di meja makan, Tiara tampak canggung dan terdiam di apit oleh Rafkha dan Lily. Sang mamah pun hanya bisa menghela nafas panjang memandang wajah putrinya yang tampak tak bersemangat.
Seorang ibu paham akan apa yang di rasakan oleh putrinya, Gibran pun tanggap akan perasaan Tiara. Dia yang berjarak dan nampak cuek seakan tak terima ketika senyum palsu itu terukir nyata. Sejak awal Gibran sudah curiga akan perasaan lebih yang Tiara berikan pada Rafkha. Andika juga tampak sedih dan menyayangkan jika memang benar dugaannya akan perasaan putrinya.
Semua yang ada di sana pun berpikir demikian kecuali Andini dan Cika yang tadi kebetulan masih membuat sambal di dapur. Keduanya tidak tau apa yang terjadi. Dan Bayu berusaha memecah suasana agar kembali hangat.
"Dik, kapan kita ke vila yang ada di puncak? loe kata kemarin ngajakin kesana. Ayolah kita healing-healing nyari angin. Butek otak gue megang gunting sama pisau terus. Sekali-kali refreshing biar otak nggak pusing!"
"Bolehlah, disana kan sejuk tuh pas buat kelonaan sama bini!" celetuk Andika.
"Ada anak-anak soang! Dijaga itu mulut! loe bikin mereka traveling bro!" sahut Raihan, dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak iparnya.
"Eh, adik soang! mereka udah pada gede, udah bisa kalo cuma di suruh bikinin kita cucu sekebon juga. Kecuali bocah piyek yang kagak ngerti apa-apa!" jelas Andika.
"Justru udah pada bisa bikin cucu gue takutnya malah traveling terus dipraktekkan! ck...."
"Udah Rai! loe kayak nggak pernah muda aja. Loe pernah nengokin sabun di kamar mandinya anak loe nggak?" timpal Bayu sukses membuat semua tatapan orang yang ada di sana menatap Rafkha dengan tatapan yang entah. Sedangkan yang di tatap hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali menghabiskan makanannya agar bisa keluar dari situasi yang membuatnya harus ia hindari. Karena jika sudah para ayah yang berkumpul, obrolan tak akan jauh dari hal ranjang dan pangkal paha.
Tiara melirik Rafkha yang hanya diam dengan wajah jutek membuat Tiara mengulum senyum meledek. Bahan candaan yang membuatnya ingin tertawa ngakak. Tapi mungkin saja Rafkha yang terlihat dingin benar-benar sering berlama-lama di kamar mandi. Berhubung dia tau sifat di balik diamnya Rafkha, pemuda itu pun sama seperti ketiga soang dedengkot di sana. Tepatnya soang belia yang baru kenal betina. Hingga tatapan keduanya bertemu dan Tiara berdehem mengalihkan pandangan dan kembali fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Mata kalian harap di kondisikan! anak gue nggak ngabis-ngabisin stok sabunnya. Emang Om nya pas masih muda, sampe di marahin Mamah!" Andini membela anaknya bahkan Raihan tersenyum bangga pada sang istri.
"Emang loe tau kalo dia beli sendiri? tergantung inisiatif dan kemauan, apa lagi kalo udah nggak tahan. Apa boleh buat, jari lima maju semua. Apa lagi kalo si Joni ngelunjak, bisa jadi sepuluh jari maju bergantian!" sahut Andika dengan seringai jail khas dirinya yang sejak dulu tak pernah hilang.
__ADS_1
"Tergantung keturunannya juga sich, liat aja bapak moyangnya. Diam-diam menghanyutkan, gimana Din? nggak mengecewakan kan? masih gagah perkasa seperti dulu? Gue sich yakin dia juga pemain, kalo mau bukti tanya bininya noh."
"Haish....... kalian ini bicara apa! masalah seperti ini jangan di bawa ke meja makan! lihat tuh anak-anak perempuan kalian pada nunduk aja dari tadi. Yang laki pada merah mukanya. Kalian ini, intinya like Daddy like son dan stop berghibah!" sewot Erna yang membuat trio soang terdiam dan anak-anak mereka menahan tawa.
"Ya...ya....ya....bini gue emang paling jempolan!" jawab Andika dengan mengacungkan kedua Ibu jarinya.
"Diem soang!" celetuk Andini.
.
.
.
"Sakit kak!" rengek Tiara memberontak agar bisa keluar dari jeratan tangan Rafkha. Dan segera di lepas oleh Rafkha.
"Sabun di rumah gue banyak Kak, besok gue bawain. Gratis! mau rasa-rasa juga boleh biar lebih wangi. Emmmmmmm......" Tiara memejamkan matanya dengan menghirup udara mempraktekkan iklan pewangi pakaian.
"Boleh tapi gue pinjam tangan loe, gimana?" tanya Rafkha dengan mendekatkan wajahnya di hadapan Tiara membuat gadis itu tampak gelagapan dengan wajah merona. Tetapi ketukan di jendela mobil membuatnya tersadar jika sejak tadi di lihat oleh kedua orang tuanya dan Gibran. Belum lagi mobil Raihan dan Andini yang masih menunggu Rafkha masuk.
"Dasar anak soang!" celetuk Tiara dan segara masuk ke dalam mobil meninggalkan Rafkha yang tampak gemas dan ingin sekali membungkam bibir tipis yang sejak tadi membuatnya ingin mengigit karena berani meledek dirinya. Kemudian Rafkha segera masuk kedalam mobil dan mereka segera pulang.
"Pah.....kapan pertunangan aku dengan kak Rafkha di laksanakan?" tanya Zea setelah melihat adegan yang membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
"Sabar nak, om Raihan belum membicarakannya lagi. Perjodohan kalian memang sudah di rencanakan tetapi Papah tidak tau pastinya. Karena Rafkha juga sedang sibuk mempersiapkan untuk ujian, kenapa? kamu sudah tidak sabar?" tanya Bayu dengan tatapan selidik melihat wajah putrinya yang tampak menunduk setelah pertanyaan dari Papahnya justru seperti umpan untuknya.
"Bukan begitu Pah...." lirihnya.
"Fokuslah belajar, jika memang jodoh kalian pasti akan bersatu. Walaupun Papah dan Om Rai sudah sepakat sejak kalian kecil. Tetapi Papah tidak ingin membuat kamu terobsesi hingga berambisi. Apa kamu lupa, jika ada hati yang terluka? dua tahun Papah sengaja menjauhkan kalian agar bisa berdamai dengan hati kalian masing-masing, tetapi tampaknya tidak ada perubahan setelah Papah lihat kalian justru tidak bertegur sapa."
"Apa kamu tidak menyayanginya? kalian sempat sangat dekat, jangan karena satu pria membuat persahabatan kalian hancur. Bahkan Papah sangat menyayangkan itu."
Zea menarik nafas dalam, ia sadar ia salah. Tapi ego mengalahkan semua, bahkan ia telah mengorbankan persahabatannya. Bayangan akan perdebatannya dulu dengan Tiara kembali melintas dan tak banyak yang tau alasan utama atas perdebatan itu.
"Maaf Pah, Zea mau ke kamar dulu!" Zea segara berlari menuju kamar. Bayu hanya bisa menatap nanar dan menyayangkan akan semua yang telah terjadi. Beruntung persahabatannya dengan Andika tidak ikut terpecah karena anak meraka.
"Jadi benar Zea di jodohkan dengan Rafkha?"
Bayu menoleh kebelakang, melihat putranya dengan helaan berat dan menganggukkan kepala padanya.
"Tapi Rafkha sama sekali nggak suka sama Zea Pah, apa nggak kasihan pada Zea juga nantinya? Rafkha benar-benar menolak dekat dengan Zea, bagaimana jika para orang tua melanjutkan rencana itu? Papah tau bagaimana Rafkha." Brian segera melangkah menuju kamar.
...🍃🍃🍃...
like, coment n vote...jangan lupa🤗 . Cover ganti ya man-teman, jangan pada kabur🤭
Dan ada yang baru sambil nunggu Rafkha dan Tiara. Affair After One Night With Ibu Tiri
__ADS_1