YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Mendekap


__ADS_3

"Maaf ....."


Kini Tiara kembali berdiri di hamparan pasir putih yang ingin ia tinggal pergi. Kata maaf terasa aneh di telinga. Seharusnya memang tidak perlu mengingat tak ada hubungan dan komitmen di antara keduanya. Tetapi mengapa menjadi penting saat sadar telah melukai.


"Untuk apa kak?" Tiara masih tidak menyangka jika ia bisa di temukan. Padahal ini kali pertama ia datang ke pantai. Menepi dan mencari kedamaian, tetapi Rafkha datang bahkan kini tengah melingkarkan tangan di tubuhnya.


"Karna udah buat loe sakit hati, loe salah paham dek! jangan hanya melihat tapi juga harus bisa mendengar. Karena apa yang loe lihat itu nggak benar. Gue sama Zea_" ucapan Rafkha terhenti saat suara Tiara memotong perkataannya.


"Ck, loe berhak sama siapapun kak, gue nya aja yang baperan. Lagian buat apa juga gue salah paham, kita nggak ada hubungan ap_"


"Loe milik gue, kita jadian sekarang!" tegas Rafkha.


Kalimat Rafkha membuat keduanya terdiam memandang gelombang air yang membasahi kedua kaki mereka. Pelukannya pun semakin erat saat Tiara berusaha merenggangkan. Bahkan bukan hanya pelukan, Rafkha mulai mengecup tengkuk Tiara menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang memberi ketenangan.


"Kita pacaran dan selamanya loe milik gue, begitupun sebaliknya. Jangan pernah ragu dan berpikir ingin menjauh! Gue bisa gila nggak ada loe!"lirih Rafkha, kepalanya kembali berdenyut tetapi sedikit reda saat merasakan ketenangan di tengah hembusan nafas yang menerpa leher Tiara.


Perlakuan Rafkha kali ini mampu membuat otak Tiara ngeblank, katakan ia bahagia. Tapi apakah benar saat hubungan keduanya adalah sepupu yang berusaha menyatu. Apa lagi dengan sikap Rafkha saat ini, membuat tubuh Tiara meremang membuat dan mulai menggigit bibir bawahnya.


"Kak, tapi kita .."


"Seiring berjalannya waktu mereka pasti tau, nggak ada yang salah karena kita sebatas sepupu! percaya sama gue dan bertahan walaupun akan sulit."


Tiara memejamkan mata dengan bulir air yang terjun membasahi pipi, dia pun menyentuh tangan Rafkha berusaha membalas. Tapi saat sadar sesuatu menempel di punggung tangan Rafkha, ia segera berbalik menatap Rafkha.


Tiara kembali melihat punggung tangan Rafkha dan memperhatikan jika yang ia pikirkan tidak salah. Dan kembali melihat tatapan teduh yang memandangnya penuh cinta.


"Kakak tangan ini.....kakak abis di rawat? ini bekas selang infus kan kak?"


"Hmm...."


"Terus kenapa Kakak ada disini sekarang? kakak sakit kan? kenapa nggak istirahat? apa kakak kabur buat nyari gue? astaga kak, gue tau jalan pulang jadi nggak usah loe khawatir juga! tadi juga kan gue mau pu_"


"Karena gue cinta sama loe! gue tau hati loe nggak baik-baik aja! gue tau loe kecewa! dan gue tau kalo selama ini loe cinta kan sama gue! apa bisa gue tenang saat wajah kecewa loe tadi terus ada di pikiran gue? dan kabar loe belum pulang buat gue semakin frustasi."


deg


Tiara tertegun mendengar pernyataan Rafkha, cinta.....benarkah ini cinta yang sesungguhnya, cinta yang seakan hanya mimpi baginya, cinta yang nyata di depan mata.

__ADS_1


Rafkha menarik tengkuk Tiara dan pinggulnya, membungkam bibir Tiara yang terbuka. Menyapa Indra perasa yang ia rindukan dengan bibir tipis menggoda. Bukan cuma mengecup, bahkan Rafkha memperdalam saat Tiara masih diam dengan mata membola. Ini bukan yang pertama, tetapi setiap mendapatkan serangan dari Rafkha jantungnya berdebar kencang dan otaknya berhenti di tempat.


"Balas sayang!" lirih Rafkha dan kembali memejamkan mata. Kembali menyatukan dan bergerak aktif di dalam sana. Tiara yang merasakan kelembutan yang Rafkha berikan pun ikut memejamkan mata dan membalas sebisanya.


Kedua insan yang saling mencinta saling mendekap dan menyatukan lidah. Remaja yang ingin memulai hubungan, Rafkha tau apa yang ia lakukan belum saatnya, tetapi jiwa mudanya mengalahkan akal sehat.


"Gue cinta sama loe ..." Rafkha melepas ciumannya, ia tak ingin membiarkan nafsu terus berkuasa. Masih dengan jarak yang begitu dekat bahkan kedua hidung masih bersinggungan dengan nafas keduanya tersengal.


"Gimana, hhmm?" tanyanya lembut membuat Tiara semakin mati gaya. Bahkan sejak tadi ia merasakan pipinya yang panas.


Sebuah anggukan yang membuat senyum Rafkha mengembang, kecupan di bibir pun Rafkha layangkan. "Nakal!" bisiknya.


"Kak, kok cium terus sich! jantung gue nggak aman tau nggak!"


"Sebatas cium nggak apa-apa, karena ini milik gue! jangan pergi lagi, apapun yang loe liat loe harus tetap berjalan ke arah gue. Apapun yang loe dengar, jangan jadiin alasan loe menjauh dari gue! inget, gue cinta sama loe dan nggak ada yang lain di sini!" Rafkha membawa tangan Tiara agar menyentuh dadanya.


Dapat Tiara rasakan debaran yang sama begitu terasa, bahkan lebih kencang dari jantungnya. Tiara tersenyum menatap wajah Rafkha, menyentuh rahang kokoh pemuda yang beberapa menit lalu menyatakan cinta.


"Kakak serius?"


Tiara semakin mengembangkan senyumannya dan selanjutnya ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rafkha. "Kakak yang nakal, adik sendiri di pacari!"


"Karena adik gue yang bisa buka gembok di hati ini!"


"Kakak gombal! tapi gue suka!" seru Tiara.


Tiara semakin mengeratkan dengan kaki berjinjit meraihnya. Rafkha pun membalas dengan mendekap erat tubuh Tiara.


"Kalo cinta tuh bilang, jangan diem-diem nangisin gue!" Rafkha terkekeh saat teringat mata Tiara yang membengkak, pemandangan yang membuatnya ingin tertawa. Dengan Tiara semua berbeda bahkan sikapnya bisa berubah hangat dan mesra.


Tiara melepas pelukannya dan memberi jarak, ia menatap Rafkha dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap dada.


"Ini tuh kelilipan pasir pantai! ngapain gue nangisin loe kak!" Tiara membuang muka dan menghindari tatapan Rafkha.


"Sekalipun loe tau gue di rawat setelah pingsan di depan kelas loe?" tanya Rafkha dengan memajukan wajahnya. Dapat ia lihat perubahan wajah Tiara, mata yang kembali berbinar kini tampak redup dan sendu.


"Kakak pingsan?" tanyanya dan di angguki oleh Rafkha.

__ADS_1


"Ayo kita pulang! kakak pasti kabur kan? kalo masih sakit kenapa masih aja ngurusin gue sich Kak! gue juga heran, gue kemana loe pasti tau. Keturunan jin iprit loe ya kak?"


Rafkha hanya menggelengkan kepala saat tangannya mulai di tarik keluar pantai dengan ocehan Tiara yang membuatnya gemas. Hatinya lega bisa menemukan dan mengungkapkan perasaan. Setidaknya Tiara harus tau dan tak kembali memacari pacar baru.


"Maaf kalo hubungan ini masih harus di rahasiakan."


Tiara tersenyum, dia tau alasannya tanpa Rafkha menjelaskan. Dan hanya bisa menganggukkan kepala tanpa banyak bicara.


"Pinter!" Rafkha mengusap lembut kepala Tiara dan melemparkan kunci motor padanya.


"Ini?" Tiara mengangkat kunci motor itu dengan tatapan penuh tanya.


"Loe di depan!"


"Serius?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Mau nggak?"


"Mau banget lah, gue tunjukkin Valentina Rosa kalo beraksi di jalanan." Tiara segara naik ke atas motor Rafkha dengan memperhatikan roknya yang naik keatas seiring posisinya yang duduk di jok besar motor Rafkha.


"Aman?" tanya Rafkha saat memperhatikan paha Tiara yang terekspos.


"Aman! gue pake short kak! asal loe nggak cari kesempatan buat grepee-grepee gue aja pas di jalan."


Rafkha menggelengkan kepala dan menduduki jok belakang dengan tangan di kedua pundak Tiara.


"Siap kak?" serunya di balik helm.


"Hati-hati!"


"Oke...." jawabnya dengan semangat dan senyum mengembang.


"Bahagia loe tuh sederhana...." batin Rafkha dan melingkarkan tangannya di perut Tiara.


...****************...


Jangan lupa follow ig aku ya weni0192

__ADS_1


__ADS_2