
Hari ini Rafkha mengajak Tiara honeymoon sederhana. Setelah kemewahan ia berikan hingga Tiara begitu bahagia. Kini ia mengajak istrinya berlibur berdua sebelum kembali berkutat pada pekerjaan dan kesibukan.
Tak ada hotel mewah atau Villa bertingkat, yang ada hanya tenda yang berdiri di dekat sungai dan perkebunan yang terlihat menyejukkan jiwa. Tak ada pesawat atau jet pribadi yang mengantar keduanya. Hanya motor milik Rafkha jaman SMA yang mengantar sampai tempat tujuan.
Keduanya pun bergaya apa adanya, memakai celana jeans serta kaos dan jaket yang membungkus tubuh keduanya. Tak lupa ransel di punggung Tiara sebagai tempat beberapa baju yang mereka bawa.
Puncak, tujuan keduanya honeymoon, mungkin berbeda dengan pasangan lainnya yang memilih pergi keluar negri dengan baju hangat dan segala apapun yang branded menempel di tubuh. Rafkha ingin bernostalgia ala anak remaja yang begitu senang motoran dengan pasangan dan berpegangan erat di atas motor memeluk tak berjarak.
Tiara pun tak keberatan, momen remaja yang hilang karena keduanya terpisah membuatnya semangat mengulang. Dan begitu antusias meski hanya di ajak tidur di dalam tenda yang hanya beralaskan kasur lantai.
Pasangan bucin meski hanya beralaskan tikar yang penting bisa bersama. Makan tanpa piring dan beralaskan daunpun terasa nikmat. Dunia serasa milik berdua yang lain hanya menyewa.
"Mau istirahat dulu atau mau jalan-jalan melihat kebun?" Rafkha melingkarkan tangannya di perut Tiara dengan memeluk dan mengecup tengkuk yang terekspose nyata. Sebenarnya Rafkha ingin berduaan saja di dalam tenda, seperti penghuni tenda sebelah yang datang dan segera masuk langsung menutup tenda rapat-rapat.
Tapi Rafkha tak ingin egois, urusan mencetak anak bisa nanti yang terpenting mood istri terjaga sudah pasti boleh nambah. Dan itu akan menjadi kesempatan baginya untuk terus meminta sebagai balasan selama 4 tahun berpuasa.
"Mau makan mie instan di warung itu kak, sepertinya enak. Pas sama cuacanya yang adem-adem gimana gitu." Mungkin puncak habis di guyur hujan semalam membuat siang ini tambah dingin. Rafkha pun menyetujui, makan mie instan dengan segelas teh panas rasanya pasti nikmat.
Berjalan lumayan menyita tenaga dan waktu apa lagi jalanan yang menanjak, ingin memakai motor namun Tiara tidak mau. Wanita itu ingin menikmati pemandangan dengan berfoto mengabadikan momen berdua yang belum tentu akan terulang.
Hampir 30 menit keduanya baru sampai di warung yang hanya berdinding kayu namun bersih dan rapi. Penjualnya pun sepasang suami istri paruh baya yang saling membantu melayani pembeli. Tapi tak mengapa, keduanya tampak nyaman meski duduk berdempetan.
"Pelan-pelan panas sayang!" Rafkha mengingatkan dengan mengikat rambut Tiara agar tak mengganggu makannya. Perhatiannya membuat mata pembeli lain menatap ke arah keduanya.
" Iya Kak, makasih ...." Tiara dengan lahap menikmati mie dengan pelengkap sayuran sawi dan telor serta bawang goreng menambah wangi.
Melihat Tiara yang begitu lahap membuat Rafkha tersenyum senang. Ia juga segera melahap hidangan hingga habis tak tersisa. Ternyata benar, makan mie instan di puncak rasanya sangat berkesan. Apa lagi di temani dengan pasangan halal.
__ADS_1
"Enak kan kak?" tanya Tiara setelah melirik isi mangkuk Rafkha yang sudah bersih. Kemudian dia meraih tisu untuk membersihkan bibir Rafkha. "Sampe belepotan begini suami aku!" Namun belum sempat tisu itu singgah di bibir Rafkha, pria itu sudah lebih dulu mengecup bibir Tiara dengan menyapu lidahnya membersihkan kuah mie yang juga menempel di bibir tipis itu.
Mata Tiara membola dan segera melihat ke sekitar, beruntung gerakan Rafkha cepat sehingga tak sempat menarik perhatian orang lain. Jika sampai ada yang melihat sudah pasti Tiara akan sangat malu.
Tiara memukul dada Rafkha protes dengan apa yang pria itu lakukan namun hanya senyuman yang ia dapat setelah melihat wajah kesal dan merona istrinya.
"Gantian! Mau bersihin juga kan? tapi aku nggak butuh tisu, lakukan seperti aku tadi!" titah Rafkha membuat Tiara mendelik mendengarnya.
"Nggak mau!" jelas ia menolak, apa-apaan suaminya ini. Di tempat umum ngajak begitu-begitu, niatnya ingin membersihkan tetapi bisa membuat orang lain salah paham.
"Sayang!"
Tiara tak mendengarkan panggilan Rafkha, ia segera beranjak dan membayar semua makanan kemudian pergi dari sana tanpa mengajak Rafkha.
Melihat istrinya yang berjalan lebih dulu membuat Rafkha segera mengejar dan menyusul Tiara yang sudah berlari menuju tenda. "Tunggu Sayang!"
Namun bukan Rafkha jika tak dapat menjinakkan Tiara, pria itu mengangkat tubuh Tiara dengan tiba-tiba membuat wanita itu menjerit saat mendadak merasakan tubuhnya yang melayang.
"Kakak turunkan aku! malu kak di lihat orang!"
"Diam kalo tidak kita akan jatuh sayang!" Tiara tak lagi berontak, dia diam dan mengalungkan tangannya di leher Rafkha. Sampai di tenda baru Rafkha menurunkan Tiara dan mengajaknya masuk ke dalam.
Rafkha duduk di sofa yang hanya tersedia satu di sana dan menarik tubuh sang istri untuk duduk di pangkuannya. Tiara pun menurut dan tak banyak protes, menatap Rafkha dengan perasaan yang masih kesal dengan bibir merengut dan muka di tekuk.
"Gimana aku bisa tahan kalo ngambeknya aja gemesin begini!" Rafkha mengecup pipi Tiara sedikit brutal hingga wanita itu terhuyung ke samping.
"Kakak!"
__ADS_1
"Lakukan seperti yang aku lakukan tadi! dan sudah tak ada alasan untuk menolak karena kini kita tinggal berdua." Tiara tercengang mendengar perintah Rafkha yang seperti menagih hutang. Padahal bibir Rafkha terlihat sudah bersih lalu untuk apa ia melakukannya lagi.
Tubuhnya tersentak merasakan pelukan di pinggangnya begitu erat, sontak tubuh Tiara menggeliat dan menatap Rafkha yang kini mengunci pandang. Meresahkan sekali suaminya ini, hingga ia merasa jantungnya berdebar dengan bar bar.
"Ayo!" lirihnya dengan suara berat dan tatapan yang semakin sayu merayu.
"Kak, masih siang loh! Lagian ini bibir kakak sudah bersih terus mana lagi yang harus di ber_" Rafkha yang sudah tak sabar segera menyerang duluan, menunggu Tiara bisa sampai sore tak akan terealisasikan. Sedangkan waktu terus bergulir dan acara honeymoon yang sesungguhnya harus segera di mulai.
Benar saja, ia tak membiarkan Tiara lepas dan terus menyerang area sensitif yang membuat Tiara tak berkutik. Membawa wanita itu ke kasur lantai dan menyatu di sana setelah sempat memastikan tenda aman. Kegiatan pun berbeda dari sebelumnya, kini Rafkha harus mengontrol suara manja Tiara agar tak terdengar sampai keluar. Namun hal itu memberi sensasi tersendiri yang membuat keduanya semakin menggebu.
Setelah acara honeymoon yang mereka habiskan hampir seminggu dengan berpindah-pindah tempat, kini keduanya sudah kembali sibuk dengan pekerjaan dan keseharian yang tak melulu membuat keduanya bertemu. Terkadang hanya di ranjang dan makan malam bisa bersama selebihnya mereka begitu aktif bekerja.
Hingga tak terasa sudah tiga bulan setelah acara resepsi di lakukan hubungan keduanya tampak semakin harmonis saja. Seperti pagi ini, Tiara nampak sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya untuk berangkat ke kantor. Belum lagi miliknya, beruntung ada art yang membantu untuk urusan dapur dan rumah jadi Tiara tak terlalu kerepotan.
"Aku mandi dulu ya kak, bajunya sudah aku siapkan."
cup
Tiara menyematkan kecupan di bibir Rafkha kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak ada kecanggungan seperti dulu malah Tiara yang kadang lebih agresif dari Rafkha. Dan itu membuat Rafkha semakin bahagia.
Pagi ini Rafkha tak bisa mengantar Tiara ke kantor karena dia sendiri ada meeting penting. Berangkat terpisah dan berjanji akan menjemput ketika pulang. Namun baru saja jam makan siang, ponsel Rafkha berdering menunjukkan nomor Wahyu memanggil.
Rafkha yang baru akan makan siang dengan kliennya sengaja mengabaikan namun ponselnya terus saja berdering hingga Rafkha terpaksa pamit dengan Klien untuk mengangkat telpon sebentar.
"Halo..."
"Lama banget sich angkatnya! istri bapak ada di rumah sakit sekarang!" sewot orang yang ada di sebrang sana.
__ADS_1
Sejenak Rafkha terdiam mencerna apa yang terjadi sebenarnya, namun seketika bola matanya melebar dan segera pamit pergi dengan perasaan panik tanpa menyantap hidangan yang sudah tersedia.