YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Berakhir Bahagia


__ADS_3

"Astaghfirullah Kak, ini kontraksi apa gimana sich? perut aku kak!"


Rafkha menghentikan gerakannya, ia yang sedang asyik berpacu di atas tubuh Tiara dengan posisi sang istri menyamping agar lebih aman, merasa terganggu dengan rintihan Tiara.


"Ini di cabut dulu apa gimana Sayang? nanggung loh! mungkin si dedek lagi berontak kali karena merasa tidurnya terganggu."


Rafkha kembali memacu dengan perlahan, baru beberapa saat singgah mana mungkin ingin lepas. Sedangkan hpl semakin dekat dan ia sadar akan puasa setelahnya. Maka dari itu setelah acara tujuh bulan sampai dua bulan berikutnya Rafkha tak pernah absen tiap malam.


Tiara kembali merilekskan diri, ia menarik nafas dalam dan membuang dengan perlahan agar tubuh sedikit tenang. Kembali menikmati permainan yang Rafkha pimpin sejak tadi.


"Akh....enak tapi ugh sakit...."


Desahaaan kembali terdengar namun justru membuat pergerakan Rafkha terhenti seketika. Ia melihat wajah sang istri yang begitu tegang namun sedikit pucat.


"Sayang, kamu nggak apa-apa? sebenarnya enak apa sakit?" tanya Rafkha memastikan, si Joni pun cukup sabar. Mau di ajak kompromi sebentar tanpa melepaskan.


"Enak tapi sakit, tapi nikmat, gimana sich kak rasanya...Ugh....sakit lagi kak!" Tiara benar-benar sudah tak bisa menahan, hingga Rafkha merasakan cairan bening keluar begitu banyak mengguyur si Joni hingga kuyup.


"Sayang ini apa? kamu *******? tapi kok nggak bergetar?" celetuk Rafkha namun Tiara tak menggubrisnya, ia meringis dengan menggigit bibir bawahnya. Melenguh merintih hingga Rafkha sadar jika Tiara sedang tak baik-baik saja.


Rafkha segara beranjak dan membersihkan diri, mengambil lap basah untuk membersihkan Tiara yang kini meringkuk dengan mencengkeram sprei yang semakin berantakan.


"Sakit Kak....kayaknya dedeknya mau keluar dech."


"Iya sayang, sebentar aku pakaikan kamu baju dulu ya." Rafkha seketika panik, dirinya yang belum selesai menyudahi permainan. Pala pusing membuatnya semakin pening melihat sang istri terus merintih.


Rafkha segera membawa Tiara ke rumah sakit setelah sudah rapi dan meminta Bibi untuk membersihkan dan membereskan kamarnya. Tak peduli dengan segala pikiran asisten rumah tangganya. Yang terpenting ia segera membawa sang istri.


Oek ....oek.....oek....


Rafkha tersenyum dengan air mata yang sudah berlinang. Begitu Indah jalan Tuhan padanya, kini ia di berikan kepercayaan untuk menjaga buah hati yang telah lahir dengan sempurna. Tak peduli dengan dirinya yang berantakan karena sejak tadi Tiara merusuh saat rasa sakit begitu hebat menyerang.


Para orang tua dan keluarga pun sudah menyambut Tiara di ruangan yang telah di hias, ruangan untuk rawat inap yang di sulap menjadi sedemikian rupa dengan warna biru sesuai jenis kelamin bayi yang Tiara lahirkan.


Tangis haru dan senyum hingga tawa menyelimuti ruangan tersebut, para nenek berebut menggendong bayi yang Tiara lahirkan. Membuat para kakek hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.

__ADS_1


"Masih sakit?" tanya Rafkha begitu lembut, setelah melihat pengorbanan yang istrinya lalui membuat hati semakin sayang dan tak akan pernah menyiakan. Bahkan saat mommynya datang Rafkha segera memeluk dan meminta maaf pada ibu yang telah melahirkan dirinya ke dunia.


" Masih, tapi hati bahagia jadinya nggak berasa." Tiara tersenyum manis menatap sang suami yang begitu setia menemani hingga ia mampu melewati masa sulit.


"Makasih ya, kamu hebat. Aku semakin cinta sama kamu...."


"Sama-sama kak, kakak pun hebat. Sabar banget ngadepin aku, perih banget ya kak tangannya? sampe pada merah gitu kak." Tiara menyesal telah bar-bar sekali sampai tak sadar telah menyakiti Rafkha.


Rafkha pun hanya tersenyum menanggapi, mengecup hangat kening sang istri dan kembali menatap penuh cinta. "Semua tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang kamu hadapi."


"Ehem.....udah Raf, stop sayang-sayangannya, ini anak mau di namakan siapa?"


Rafkha menoleh ke arah para orang tua yang menunggu jawaban darinya dan kembali menatap Tiara yang senantiasa tersenyum ke arahnya.


"Daffa Adzriel Baratajaya," dengan lantang Rafkha memberikan nama untuk putra pertamanya. Berharap kebaikan selalu mengikuti langkah putranya.


Kebahagiaan begitu terasa sempurna, memiliki anak sebagai pelengkap pernikahan, meskipun masih sama-sama belajar dalam mengurus bayinya, namun perasaan senang membuat semua terasa ringan.


"Selamat ya Ra..."


"Tampan, hay ponakan aunty....sehat ya sayang. Kalau sudah besar kita main bersama," dengan menyurut air mata Lily mengangkat tubuh Adzriel dan menimang dengan sayang.


Pemandangan itu pun tak luput dari pandangan kedua pria yang kini tengah menatap dengan perasaan yang berbeda. Rafkha yang sempat di kecewakan oleh adiknya, kini sudah ikhlas menerima. Bahkan tak jarang ia meminta Lily untuk tinggal bersama karena ia tau Lily butuh teman.


"Semoga semua berjalan lancar dan kelak Lily mendapatkan pria yang bertanggung jawab."


Brian hanya bisa menghela nafas berat tanpa berkomentar dan memilih untuk menyapa Tiara.


...🍀🍀🍀...


"Daffa Adzriel!"


"Daffa!"


"Nak bangun! Kamu ini tidur apa pingsan, apa nggak dengar dari tadi adikmu minta di temani ke minimarket?" Sudah menjadi kebiasaan untuk Tiara berteriak setiap pagi, beruntung hari ini weekend. Setidaknya tak membuat putranya kembali telat dan berujung panggilan dari pihak sekolah.

__ADS_1


"Mah.....aku ngantuk banget loh! nggak bisa gitu minta tolong Lian? aku ngantuk banget loh Mah!" Adzriel kembali menarik selimut namun dengan cepat mamahnya menahan. Putranya yang satu ini memang sangat menyayangi orang tua dan adik-adiknya, namun jiwa nakal putra sulungnya terkadang menguat Tiara pusing kepala.


"Mamah kawinin aja kamu sekalian biar tiap pagi ada yang gantiin tugas Mamah, capek banguninnya! atau mamah carikan wanita santri biar di tatar anak Mamah nich!"


Adzriel segera membuka selimut dan berlari menuju kamar mandi, dia selalu malas jika seng mamah sudah mengeluarkan ancaman yang membuatnya geram.


"Jangan samakan anakmu dengan kucing Mah, main kawinin aja!" seru putranya dari dalam kamar mandi, Tiara tak menghiraukan lagi dan segera keluar kamar.


Melihat wajah penat sang istri membuat Rafkha yang sedang ngopi, beranjak dari sofa dan mendekati Tiara.


"Apa masih seperti itu, hhmm?" tanyanya dengan lembut.


"Iya dan aku terkadang ingin sekali memasukkannya ke pesantren saja biar tau waktu."


Rafkha mengulum senyum dan merenggangkan pelukannya. "Apa kamu lupa jika dulu Mamahnya Adzriel pun nakal?"


Wajah Tiara merona dengan melayangkan pukulan di dada Rafkha. "Aku dulu ada pawangnya kak, sedangkan dia sepertinya butuh kita carikan pawang juga."


"Jangan membuatnya merajuk sayang, dia pria jadi wajar!" Rafkha mencubit hidung sang istri dengan gemas.


"Maksudnya aku nggak wajar gitu! iya kan? Wah minta tidur di luar sepertinya Bapak Rafkha ini ya!" dengan kesal Tiara segera berlari menuju kamar dengan sang suami yang dengan sigap mengejar agar lebih dulu sampai untuk segera menyembunyikan kunci kamar.


"Semoga Mamah dan Papah selalu sehat dan romantis selalu...."


"Aamiin...." Adzriel segera merangkul pundak adiknya dan mengantar ke minimarket terdekat.


...****************...


Hay....hay....Hay... Sudah selesai ya man teman untuk Rafkha dan Tiara. Semoga mereka selalu bahagia hingga akhir hayat.


Dan ini yang kalian tunggu, mulai meluncur perlahan ya. Jangan lupa dukungannya dengan like, coment dan vote.


Makasih semua yang selalu setia membaca tulisanku yang tak seberapa ini....🤗🤗


__ADS_1


__ADS_2