YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Lanjut di Kamar


__ADS_3

Rafkha menatap jengah dua orang yang kini berada di ambang pintu, mengganggu dan menggagalkan kesenangannya. Rafkha yang sudah on seketika kentang gegara tertangkap basah. Dia melindungi tubuh Tiara dengan mendekap erat.


"Sorry ganggu kak, loe bisa pakai kamar gue sepuasnya asal bayar pajak oke!" ucap Lily santai dengan bersidekap dada menatap dua sejoli yang tampak acak-acakan.


"Dan gue bagian keamanan biar kalian nggak ada yang mengganggu lagi, tapi gue juga butuh uang tutup mulut. Gimana?" tanya Aara, kedua adiknya memang rusuh sekali. Sudah tau lagi enak-enak, bukannya pergi dan diam malah memergoki dengan berujung malak. Toh seandainya mereka menunggu keduanya selesai dan keluar kamar pasti Rafkha tidak akan diam. Dia akan memberikan persenan hitung-hitung uang cuci sprei.


Rafkha menghela nafas berat, tanpa menanggapi keduanya Rafkha segera membawa Tiara ke kamar.


"Ayo sayang kita lanjut di kamar," bisik Rafkha, kemudian tanpa pikir panjang mengangkat tubuh Tiara dan membawanya menuju kamar. Hal itu sempat membuat Tiara terkejut namun setelahnya dia menikmati dengan mengalungkan tangannya di leher Rafkha dan bersembunyi di dada bidangnya.


Lagi-lagi Tiara merasa sangat malu, ke geb dua kali rasanya ingin kabur dan bersembunyi sejauh-jauhnya. Apalagi terlihat sekali ia sedang menikmati dan bagaimana jika keduanya mendengar suara desaahan darinya. Omg Tiara benar-benar merutuki dirinya yang tidak bisa menahan.


Keluar kamar pun tak selancar itu karena ia kembali bertemu dengan Papahnya dengan posisi dalam gendongan. Mau turun nanggung sudah ketauan, mau diam saja juga kasihan Rafkha keberatan.


Andika menatap kedua sejoli yang sudah tidak sabaran ini, beliau menyeringai tipis dengan gelengan kepala penuh arti. Rafkha menghela nafas berat, ia tau Papah mertuanya ini sedang meledek.


"Hati-hati pulangnya Om, Rafkha masuk dulu kasihan Tiara capek mau istirahat." Rafkha memilih pamit ke kamar untuk menghindari Andika, secara tidak langsung dia mengusir secara halus. Kembali melangkah menuju kamar namun ucapan Andika menghentikan pergerakaannya.


"Awas jangan buang dalam, tuh si joni bibit unggul! inget syarat Tiara kemarin," Ucap Andika mengingatkan, karena ia tau mustahil keduanya bisa menahan. Apalagi jika sudah tau surga dunia, itu anak soang nggak bakal cukup sekali celup.

__ADS_1


Rafkha kembali menghela nafas berat, ia tak menanggapi dan segera masuk kamar. Ucapan Andika ada benarnya si cebong keluarga Baratajaya bibit unggul, sudah pasti akan subur dengan sekali sembur. Rafkha menurunkan tubuh Tiara setelah berhasil masuk kamar tak lupa mengunci pintu, malas jika ada yang kembali mengganggu.


Tiara yang sejak tadi diam kini menatap Rafkha dengan bibir merengut, malu, kesal, menjadi satu. Dan itu justru membangkitkan kembali hasrat Rafkha untuk melanjut kegiatan.


"Ini bibir mancing gue, udah siap lanjut lagi?" tanyanya lembut dan mendekati Tiara yang sudah merubah ekspresi menjadi tatapan awas. Rafkha benar-benar meresahkan, nggak bisa slow masalah beginian. Kalem di luar, tetapi membuat gelisah jika sudah berduaan.


"Kak....kita keluar aja yuk. Ngumpul sama yang lain, kok gue jadi di kurung di kamar begini sich kak. Kan malu  masih sore udah ngamar. Terus tadi kata Papah jangan dibuang di dalam, apanya yang jangan di buang di dalam? Emang kakak mau buang Tiara?" tanyanya polos membuat Rafkha diam memijit pelipisnya kemudian ia segera mengajak Tiara untuk duduk di sofa. Rafkha malas menjelaskan dan Tiara pun tak perlu tau cukup diam terima beres.


Rafkha menatap dalam wajah wanita yang akan sangat ia rindukan, tinggal menghitung jam ia akan meninggalkan Indonesia meninggalkan keluarga dan istri tersayang. Namun cukup lega sudah bisa menikahi Tiara, meskipun was-was meninggalkan Tiara dalam waktu yang tak sebentar.


Tiara tersenyum membalas tatapan Rafkha, kembali harus menjalani hubungan jarak jauh membuatnya meragu. Apa lagi Rafkha yang akan tinggal di luar negeri dengan banyak godaan dan lingkungan bebas. Kuatkah dia menahan dirinya dari para bule sexy disana yang jelas lebih cantik dari dia. Dan tak ada keluarga yang mengawasi. Tiara menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan namun kegelisahan Tiara dapat ditangkap baik oleh Rafkha.


"Sedang mengkhawatirkan apa, hmm?" tanyanya dengan mengusap lembut pipi Tiara. Tetapi tak ada jawaban hanya tatapan yang semakin dalam hingga Rafkha menarik tubuh Tiara agar masuk ke dalam pelukannya.


"Kenapa sayang? kok malah nangis?" Rafkha merenggangkan pelukannya, merangkum kedua pipi Tiara dan mengecup kedua mata yang kini nampak basah. "Takut?" tanya Rafkha lembut mencoba menyelami perasaan Tiara yang tidak baik-baik saja. Dan benar saja, Tiara menganggukkan kepala membenarkan pertanyaannya.


"Bagaimana kalo di sana kakak tergoda dengan Bule cantik? dan lupa jika di sini memiliki istri tak kalah manis?"


Rafkha tersenyum lalu menghujani wajah basah Tiara dengan kecupan, dia senang di khawatirkan seperti ini tetapi harus bisa meyakinkan Tiara jika di sana ia tak akan macam-macam.  Agar sama-sama tenang dan bisa menjalani kehidupan dengan lancar.

__ADS_1


"Cinta sama kakak?" Rafkha mengangkat dagu Tiara mempertemukan kedua pasang mata. Wajah Tiara bersemu merah, dengan malu-malu menganggukkan kepala. Rafkha pun mengecup bibirnya gemas dengan menyesap begitu kuat dan singkat.


"Makasih, gue juga cinta banget sama loe. Dalam suatu hubungan kepercayaan nomor satu meskipun gue juga takut istri gue bakal di deketin cowok lain. Tapi gue percaya cinta loe cuma buat gue dan nggak akan bercabang seperti ranting. Begitupun dengan loe, dari dulu sampai sekarang dan sampai kapanpun. Hati gue cuma ada nama loe, nggak ada yang lain."


"Dan jangan pernah lupa jika hubungan kita sakral dan bukan main-main. Cukup inget loe adalah istri gue setiap godaan itu datang dan itu sudah cukup menguatkan. Begitupun dengan gue..."


Tiara tersenyum kemudian memeluk Rafkha dengan erat, hatinya sedikit lega sekarang. Berusaha mengerti dan memahami lalu mengingat terus ucapan Rafkha agar lebih tenang menjalani hubungan yang baru akan di mulai.


Rafkha merenggangkan pelukannya mengikis jarak dan kembali mengecup bibir tipis yang membuatnya candu. "Masih ada waktu kurang dari 24 jam kita bersama, gue nggak mau jauh-jauh dan ingin menikmati pacaran halal sama istri gue. Jadi tetap di kamar dan jangan kemana-mana, hhmm?" bisik Rafkha, tanpa menunggu jawaban dari Tiara kembali menyatukan indra perasa dan mereguk candu dengan dalam. Keduanya kembali saling membelit, meyesaap dan melumaat dengan nikmat. Tiara pun membalas dengan aktif membuat Rafkha semakin tergoda.


Rafkha mengangkat tubuh Tiara ke pangkuannya tanpa melepas kecupan yang semakin dalam, menekan tengkuk Tiara dan mengeratkan pelukan mengikis jarak. Posisi yang sangat intim membuat Rafkha tak sabar bergerak liar, tanganpun kembali aktif bekerja menelusup masuk ke dalam pakaian Tiara mengusap kembali punggung halus yang membangkitkan gairah.


Tiara pun tak menolak, menikmati,dan membiarkan tangan Rafkha kembali singgah dan aktif membuka kancing bajunya karena sudah tak sabar ingin melihat dan menyesap bagian yang sangat menantang. Tak ingin kembali gagal, Rafkha terkesan terburu-buru hingga Tiara melepas kecupan dan membusungkan dada untuk mempermudah. Gadis itu pun tak menampik jika dirinya ingin dan cukup penasaran karena baru di sentuh dari luar saja rasa nya sudah luar biasa bagaimana jika dari dalam.


Desahaan kembali meluncur dari bibir Tiara saat merasakan untuk yang pertama kalinya lidah itu singgah bahkan rasanya seperti tersengat namun cukup melenakkan dan membuat suara indah itu tak tertahan. Rafkha pun semakin menyesaap saat jambakan dirambutnya semakin kuat dan Tiara menekan kepalanya semakin dalam.


Kini keduanya sudah menanggalkan pakaian dan hanya menyisakan bagian bawah. Tiara pun mencoba untuk sadar saat tangan Rafkha mulai menyibak roknya dan mencegah dengan menghentikan pergerakannya.


"Kenapa sayang?" bisik Rafkha namun tak menghentikan aksinya, ia sadar akan penolakan Tiara lalu menelusuri leher jenjang yang terpampang nyata dengan banyak bintang hasil karyanya.

__ADS_1


"Jangan sekarang kak, takut nggak bisa nahan...."


"Loe cukup diam menikmati dan jangan takut hamil sayang. Percaya sama gue...." nyatanya Rafkha tak mau melepas dan ingin memiliki Tiara seutuhnya.


__ADS_2