YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Loe Bunting!


__ADS_3

"Kenapa belum pulang? mau nyari penyakit?"


deg


Tiara memejamkan mata, tanpa melihat pun ia tau siapa yang datang menjemputnya. Seperti ada telepati yang tersembunyi, Rafkha selalu dapat menemukan di manapun ia berada.


"Nggak usah di pikirin kalo itu ganggu hidup loe, anggep gue nggak pernah ngomong apa-apa sama loe! sekarang ayo balik! semua udah nyariin."


Hanya pada Tiara dia bisa berbicara panjang lebar, hanya dengan Tiara dia bisa sangat marah jika di bantah.


Tiara hanya diam, menatap pun tidak tapi langkah mendekati motor Rafkha dan berdiri menunggu si empunya mendekati.


"Pakai!" selalu ada perhatian kecil tersemat di setiap pertemuan. Entah sudah berapa puluh jaket yang ada di lemari Tiara. Dan Rafkha selalu mempunyai stok baru keesokan harinya.


Rafkha menarik tangan Tiara untuk memeluknya, tak ada penolakan hingga terasa nyaman dan memejamkan mata. Rafkha menggenggam tangan Tiara saat di rasa tangannya mulai renggang dan sudah di pastikan Tiara tidur di belakang punggungnya.


"Rafkha, Tiara kenapa?" tanya Andika yang sejak tadi menunggu di teras dan terkejut melihat Tiara memejamkan mata di belakang Rafkha.


"Tidur."


"Sini om pegangin, terus kamu gendong Tiara ke kamarnya! om nggak kuat, takut encok naik tangga. Kecuali kalo naikin Tante Erna, tiap malem juga om jabanin."


Rafkha menggelengkan kepala kemudian mengangkat tubuh Tiara dan memindahkannya ke kamar. Rafkha merebahkan tubuh Tiara perlahan, merapikan anak rambut yang berantakan dan mengecup kening Tiara begitu dalam.


"Please jangan buat gue khawatir!" bisiknya dan segera pergi.


Tiara membuka mata dengan tetesan air mata yang membasahi hingga ke telinga. Entah apa yang ia rasa tapi begitu sesak saat mendengar Rafkha begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Rafkha pulang Om!"


"Iya hati-hati Rafkha, makasih ya udah jagain Tiara." Andika mengantar Rafkha sampai teras, ia bangga dengan ponakannya yang begitu perhatian dan dapat diandalkan.


"Cepat cari pacar, biar nggak boncengin adik kamu terus! emang nggak pengen itu bibir berguna buat yang lain?"


"Buat apa sich Om?" tanyanya dengan menatap jengah.


"Buat ngerayu cewek Raf! jangan di buat mingkem terus itu bibir. Om denger-denger Zea pulang. Nggak di terusin aja?"


Rafkha hanya menatap datar dan segera memakai helm lalu pergi tanpa peduli umpatan dari omnya yang membuat sakit di telinga.


"Dasar anak monyet! orang tua lagi ngomong nich...ampun gue, baru ngalem tapi udah bikin kesel. Sama banget kayak bapaknya!" Andika mendengus kesal dan segera masuk ke dalam rumah.


Pagi ini tak biasanya Tiara keluar kamar telat hingga Erna meminta Gibran untuk mendatangi kamar Tiara dan memintanya untuk segera sarapan.


Gibran menarik nafas dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Tiara. Dia tau betul jika Tiara sedang ada yang di pikirkan. Apa lagi kemarin sempat heboh jika Tiara dan Rafkha bertengkar di tambah lagi Vero mengamuk di depannya karena kekesalannya pada Rafkha.


tok

__ADS_1


tok


tok


"Tiara...."


"Loe udah siap belum? ayo sarapan, nanti keburu telat!"


"Tia..."


ceklek


Gibran mendelik melihat penampilan Tiara yang masih acak-acakan dan mata yang membengkak. Bahkan Tiara masih memakai baju tidur bergambar Doraemon.


"Loe nggak sekolah?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


"Enggak, pala gue pusing mau pecah."


"Loe sakit?" Gibran segera menempelkan punggung tangannya di kening Tiara.


"Nggak panas, bokis loe ya! mandi cepetan, gue tungguin! berangkat bareng gue mumpung gue lagi bae!" sewot Gibran yang tau jika Tiara hanya ingin membolos sekolah dengan berkedok sakit.


"Perut gue yang sakit, beneran!" Tiara memasang wajah polos dengan puppy eyes yang menambah kesan imut.


"Tuh pala pindah ke perut? sejak kapan perut loe ada palanya? loe bunting! mmmmppptttfff ...tangan loe bau njiiir!" kesal Gibran karena Tiara membekap mulutnya.


"Gue bilangin Kak Rafkha kalo loe bolos sekolah," ancam Gibran, karena hanya Rafkha yang Tiara takuti dan bertindak cepat menangani Tiara.


"Ngaduan loe! pergi sana!"


BRAK


"Sepuluh menit nggak pake lama!" seru Gibran dan kembali ke meja makan.


.


.


.


"Anak papah kenapa cemberut begitu, hhmm? bete sama siapa? bilang sama Papah, biar Papah sunatin orangnya," ucap Andika saat melihat Tiara turun dengan bibir merengut.


"Mamah ada kunciran sayang, apakah bibir kamu mau di kuncir ekor kuda juga seperti rambutmu?" ledek Erna yang sudah siap dengan karet gelang di tangannya.


"Mamah...Papah ... " rengek Tiara dengan mata berkaca.


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Gibran Pah ...."


"Owh yang mau di sunatin lagi Gibran?" Andika segera menatap wajah kesal dari Gibran, di tambah lagi Gibran melihat sang Papah yang memajukan pisau roti padanya.


"Papah pikir mau potong sosis? milikku tak selangsing itu!"


"Wooww.....sosis jumbo?" bukan Papah yang menyahut tapi Tiara yang tampak antusias hingga memajukan wajahnya dan sukses membuat kedua orangtuanya menganga.


"Tepatnya hotang!"


"Ish...ish....ish...badanmu tak sebesar kak Rafkha mana mungkin milikmu sebesar hotang! aku tidak percaya!" Tiara segera meraih gelas susunya dan meminum susu buatan mamah.


"Memang kamu sudah melihat milik Rafkha?"


uhuuuk


uhuuuk


uhuuuk


"Minum....minum!"


"Dia sudah minum Pah! apa perlu kasih air satu baskom!" celetuk Gibran asal.


bugh


"Ini gara-gara Papah!" sewot Tiara setelah mampu mengendalikan diri. Sedangkan mamah hanya menggelengkan kepala melihatnya.


"Gara-gara Papah tapi yang di gebuk gue! sarap loe ye..." ketus Gibran dengan wajah kesal.


"Kalian juga, lagi sarapan kok yang di bahas sosis! apa tidak ada pembahasan lain yang lebih berbobot!" Erna menghela nafas berat menatap suami dan kedua anaknya.


Setelah drama keluarga yang berujung Omelan dari Erna kini Gibran dan Tiara sudah sampai di sekolah. Cukup mepet, tapi masih ada celah untuk Gibran masuk di menit ke 55.


Keduanya segera menuju kelas sebelum bel berbunyi dan guru memulai pelajaran. Tapi saat Tiara baru saja melangkahkan kaki di kelas, pemandangan yang tak biasa cukup membuatnya terusik.


"Jadi dia kembali...."


Entah mengapa Tiara malas melihat dan kembali ingin keluar kelas tetapi tarikan di tangannya membuat langkah terhenti tanpa niat menoleh kebelakang.


"Mau cabut?"


"Tiara melepaskan genggamannya dan kembali melangkah tetapi tubuhnya kembali tertahan karena Rafkha dengan cepat menarik lengannya hingga berbalik dan menabrak dada Rafkha.


"Duduk kalo nggak gue cium loe di sini!" bisik Rafkha dengan tatapan tajam begitu dalam.


Tiara mendelik mendengar ancaman yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2