YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Malu Kak...


__ADS_3

Rafkha segera melepaskan genggamannya, ke geb dengan istri sendiri membuatnya malu sekali. Bukannya tadi sang istri sudah pulas kenapa tau-tau masuk kamar mandi mengangetkan. Ini suatu keberuntungan atau kesialan mendapati Tiara yang melihat sendiri kegiatan panas nya yang membutuhkan konsentrasi lebih.


Rafkha menghela nafas berat kemudian membenarkan lagi pakaiannya dan mendekati Tiara, sudah tiga kali gagal meluncur membuat kepalanya serasa ingin pecah.


"Kak..."


"Sssttt.....Ayo kita keluar dulu," Rafkha segera menarik tubuh Tiara keluar kamar dan mendudukkan Tiara di atas ranjang. Mengecup dengan gemas hingga Tiara terbaring kewalahan. "Kakak! belum juga jawab pertanyaan aku sudah kembali merusuh, kakak tadi ngapain sama si Joni?" Tiara benar-benar di buat penasaran, hingga terus mempertanyakan.


Rafkha kembali duduk dan membiarkan Tiara kembali bangkit namun menuntun tangannya untuk menengok keadaan si Joni yang masih saja tegak berdiri.


"Dia butuh masuk lagi, gue kan tadi bilang sama loe tungguin gue sampe gue masuk kamar dan jangan tidur dulu. Eh taunya udah pules, ya udah gue ajak olahraga biar nggak pusing banget. Yuk!" ajaknya lembut namun mampu membuat Tiara kembali bergidik ngeri.


"Yuk mau kemana?" tanya Tiara memastikan.


"Kita mengulang yang tadi," bisik Rafkha kemudian menyambar bibir Tiara dengan tak sabar. Kali ini harus bisa tuntas karena sudah tak dapat di tahan.


Rafkha melancarkan aksinya, memberikan sentuhan lembut agar Tiara tak memberontak dan menerima dengan suka rela. Suara manja Tiara mulai terdengar, Rafkha mulai paham dimana titik sensitif Tiara yang membuatnya mati gaya. Menambah tanda sayang yang kini memenuhi leher Tiara karena wanita itu mulai tak tahan saat lidah menyapu hingga belakang telinga.


Kembali polos dan menyatu, bertukar peluh dan saling berpacu. Semangat Rafkha bertambah saat Tiara mendapatkan pelepasan pertama yang membuat Rafkha bergerak semakin liar. Mencoba terus sadar agar tak kebablasan menabur benih di tempat yang belum waktunya di tanam. Hingga Rafkha tak tahan dan melepas penyatuan karena si joni yang sudah ingin muntah.


Suara erangan dan desahaan terdengar merdu menggema memenuhi kamar. Nampak dua insan terengah-engah dengan dada naik turun tak beraturan. Aktivitas yang melenakkan di akhiri dengan pelepasan yang membuat tubuh keduanya lemas. Apalagi Tiara yang begitu kewalahan mengimbangi gerakan liar Rafkha yang berirama. Hal pertama membuat penasaran, tanpa sadar mereka telah menghabiskan waktu hampir dua jam padahal masih pemula dan masih ajaran.

__ADS_1


Anak soang memang tak bisa diremehkan, hanya dengan mengandalkan insting dia mampu bekerja dengan baik bahkan membuat mantan gadis itu bergetar berkali-kali. Rafkha mengecup kening Tiara begitu dalam, lega tapi masih ingin mengulang. Menatap wajah yang nampak malu-malu dengan pipi bersemu menarik selimut ingin menutupi wajahnya namun ditahan oleh Rafkha.


"Malu kak..." rengek Tiara saat Rafkha berhasil menghentikan pergerakan tangannya, membuka selimut dan menutupi sebatas dada. Tiara benar- benar malu apa lagi mengingat dirinya yang begitu agresif mengimbangi gerakan Rafkha dengan suara menggelikan yang tak henti keluar dari bibirnya.


"Kenapa malu sayang? aku suka..." ucapnya lembut dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Tiara semakin tak kuasa dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rafkha. Tiara mencerna ucapan Rafkha, seperti ada yang berbeda. Panggilannya sudah berubah, tak lagi gue tapi berganti aku.


"Kakak...jangan menggodaku!" rengeknya lagi tak melepaskan pelukan, nampaknya ia pun mulai nyaman dan semakin betah mencium aroma maskulin tanpa penghalang kain.


Rafkha pun mengeratkan pelukannya, menempel, menahan si joni yang kembali bereaksi dengan baik. Hari ini malam pertama bagi keduanya dan malam terakhir sebelum terpisah jarak dan waktu. Berat rasanya meninggalkan tetapi ini demi masa depan Tiara dan anak-anaknya kelak.


"Aku mencintaimu sayang, makasih sudah mau menjadi istriku. Dan menjadi milikku seutuhnya," bisik Rafkha.


Tiara mendongakkan kepala, menatap Rafkha dengan senyum manja. Sudah dua kali kata aku tersemat berarti fiks Rafkha mengajaknya memperbaiki panggilan agar lebih sopan karena hubungan keduanya yang lebih dari sekedar pacar.


"Jadi aku kamu?"  tanya Tiara tak melepas pelukan, ia mengulum senyum dengan mendongakkan kepala. Dan kembali melihat senyuman itu terbit menambah pesona dan ketampanan Rafkha naik berkali-kali lipat. Rafkha tak menjawab namun mengecup bibir Tiara dengan mesra.


"Aku mencintaimu kak..." lirih Tiara dan dianggukki oleh Rafkha.


"Jangan nakal selama aku nggak ada," Rafkha percaya Tiara bisa menjaga diri namun dia tak percaya jika godaan tak datang begitu saja. Apa lagi harus lama terpisah, bisa saja Rafkha pulang saat liburan datang namun tak Rafkha lakukan. Begitupun dengan Tiara, bisa saja dia datang menemui Rafkha namun Tiara pun tak akan melakukan itu. Perpisahan keduanya akan benar-benar dijadikan pembelajaran untuk proses kedewasaan diri. Hanya melalui via telepon ia akan berkabar setiap saat.


"Akan aku usahakan tetapi nggak bisa janji," jawab Tiara manja dengan mengukir abstrak dada Rafkha membuat Rafkha harus pandai menahan diri yang sudah ingin kembali. Rafkha memejamkan mata dengan menahan nafas, mengatur agar si Joni tak kembali mengajak walau serasa mustahil karena sudah kembali terusik.

__ADS_1


"Eheem....aku nggak minta kamu untuk berjanji tetapi berusahalah selalu ingat akan statusmu sebagai istri dari Rafkha Baratajaya sekarang." Rafkha berusaha tenang meskipun sudah tampak kembali gelisah. Hatinya tenang wanitanya mengangguk patuh dan tersenyum manis membuatnya tak konsen selalu ingin menyambar bibirnya yang membuat candu.


Tiara memukul dada Rafkha protes karena Rafkha kembali merusuh tak hanya mencium tetapi tangannya pun mulai bergerilya mengitari tubuhnya di balik selimut. Tiara resah saat kakinya bergerak dan menyenggol sesuatu yang membuatnya tak aman.


"Kak....."


"Sekali lagi ya, si Joni belum bisa tidur," bisik Rafkha. Tanpa aba-aba Rafkha kembali melancarkan aksinya membuat Tiara tersentak dan pasrah, karena percuma menolak jika Rafkha sudah kembali bergairah. Dan kembali menyatu meraih madu di malam yang syahdu untuk kedua pasutri baru.


Pagi ini Tiara ikut di sibukkan dengan mempersiapkan barang-barang yang ingin di bawa suaminya. Barang-barang pretelan pun tak boleh lupa. Jam tangan, charger, powerbank, minyak rambut, sabun muka dan barang yang lainnya. Peran sebagai istri hari ini begitu di perlukan, menahan badan yang remuk redam dan bagian bawah yang sangat ngilu, Tiara memaksakan diri bergerak kesana kemari.


 Tiara menarik nafas dalam,melihat ada dua koper besar dan satu koper kecil sebagai pelengkap. Rasanya ia ingin menangis namun ia tahan sebisa mungkin. Tiara tak ingin membuat Rafkha kepikiran, apa lagi sampai membatalkan. Sesuai rencana setelah keberangkatan Rafkha ia akan ikut Ayahnya dan meneruskan sekolah di sana sampai Rafkha pulang dan menjemput dirinya.


"Eh....." Tiara terkesiap saat merasakan tangan melingkar di pinggulnya, ia tersenyum tau siapa gerangan pelakunya. Wangi sabun di tubuh Rafkha begitu menyegarkan.


"Ngelamun apa sayang?" tanyanya dengan mencari titik ternyaman di tubuh Tiara. Rafkha menelusup di leher jenjang Tiara yang begitu banyak tanda sayang hasil mahakaryanya.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu kak!" jawabnya lirih bahkan hampir tak terdengar.


...🍀🍀🍀...


Jangan lupa like, coment dan vote...makasih 🤗

__ADS_1


follow Ig aku \= weni0109


__ADS_2