
Pagi ini seperti biasa Rafkha akan menjemput Tiara di rumahnya. Menyempatkan untuk sarapan bersama dan segera pamit pada Andini dan Raihan.
"Yakin mau berangkat sekolah? kamu masih panas gini badannya Rafkha!" Andini menempelkan punggung tangannya di kening Rafkha dan memperhatikan hidung Rafkha yang bersemu merah.
"Nggak apa-apa Mom, nanti Rafkha bisa istirahat di basecamp." Sebenarnya ia agak lemas, tetapi ntah mengapa rasanya tak ingin di rumah. Jika hanya untuk tidur dia bisa di basecamp dan meminum obat.
"Ya sudah, jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Kamu mau menjemput Tiara dulu? apa tidak sebaiknya Tiara ikut Gibran?" tanya Andin dengan tatapan selidik. Memang sudah biasa jika Rafkha sangat perhatian pada Tiara, tetapi yang tak biasa karena kini Rafkha dan Tiara sudah remaja dan menginjak dewasa.
Rafkha menghela nafas berat, sedangkan ia sangat ingin masuk sekolah karena memikirkan Tiara. "Rafkha akan menjemputnya Mom, Rafkha pamit!" ia segera mencium tangan mommynya dan mengecup pipi kemudian melakukan hal sama kepada Daddy Rai.
"Awas kamu ya, nanti jika sudah beristri akan Daddy balas, Daddy peluk dan cium istri kamu juga!"
"Coba saja jika berani!"
"Mas!" sentak Andini membuat Raihan menghela nafas berat.
"Baru niat, sudah di bentak. Jangan macam-macam Dad!" seru Rafkha kemudian segera berangkat diikuti kedua adiknya yang sejak tadi hanya menyimak.
"Kalian nggak pamit Mommy?" Andini menyorot kedua anak gadisnya yang berlalu begitu saja.
"Mommy lagi mode macan, jadi dari pada kita ikut kena semprot mending kabur saja. Pamit ya Mom Dad bye!" seru Aara dengan mengecup jauh.
"Lanjutkan perangnya Mom, jika perlu ajak Daddy ke kamar. Anak-anakmu sudah tidak ada di rumah!" lanjut Lily dengan senyum genit.
"Dasar anak-anak Raihan!"
Mendengar seruan Lily membuat Raihan menyeringai, ia seperti di beri ide dari anaknya dan menoleh ke arah sang istri yang menatapnya dengan garang.
"Dari pada marah-marah mending kita ngamar, aku berangkat siang saja. Karena aku tau istri aku belum dapat jatah maka tak heran bawaannya ingin makan orang." Raihan segera mengendurkan dasinya dan menatap Andini dengan tatapan lapar.
"Masih pagi mas!"
"Justru masih pagi si Jony lagi seger-segernya! Makin gagah sayang, yuk! rindu dia sama Jeni jadi jangan dihalangin dari pada nanti ngamuk, si Jeni bisa kewalahan ngadepinnya."
"Ngerayu aja kamu mas!" Andini membuang muka menutupi warna merah di pipinya.
__ADS_1
"Kamu kelamaan sayang, nggak tau si Joni udah ngiler!" Raihan segera mengangkat tubuh Andini dan membawanya masuk kedalam kamar.
.
.
.
"Kakak kok suhu badannya hangat gitu?" seru Tiara saat memeluk Rafkha dalam perjalanan.
Rafkha tak menjawab, dia sejak tadi hanya diam dengan menahan kepalanya yang begitu berat. Fokusnya saat ini ke jalan agar mereka berdua selamat sampai tujuan.
Tangan Tiara menyentuh tengkuk Rafkha dan benar saja suhu badannya tinggi dan Rafkha hanya diam saja tak memberitahu sejak tadi. Hingga sampai di sekolah, Tiara menatap wajah Rafkha memerah.
"Kakak sakit loh! ngapain masuk sekolah sich, pulang lagi aja ya Tiara antar." Tiara benar-benar khawatir, Rafkha jarang sakit. Dan kini matanya sudah berair dengan suhu badan yang tinggi.
"Nggak apa-apa, nanti kakak bisa istirahat di basecamp. Loe tenang aja, Kakak juga sudah minum obat tadi!" Rafkha mengusak rambut Tiara yang begitu terlihat khawatir.
"Benar?" tanyanya dengan bibir mengerucut.
Rafkha mendekat dan mengikis jarak hingga Tiara mengatupkan bibirnya dengan mata awas. "Benar sayang!" bisiknya dan sukses membuat wajah Tiara merona.
"Nanti istirahat gue tunggu di basecamp ya!"
"Mau ngapain? nanti gue ganggu istirahat loe kak! lagian nggak enak sama fans berat kakak, mending gue godain ketos baru. Lebih seru!"
Rafkha menjewer telinga Tiara dan menatapnya dengan tajam. Di tunggu saja nakal apa lagi ia tidak masuk sekolah, sudah pasti Tiara membuat onar.
"Auw.....sakit kak!" Tiara meringis dengan mengusap telinga yang sudah Rafkha lepas. "Nyebelin!"
"Berani loe deketin ketos baru, hhmm?" tanyanya dengan sikap datar. Dengan tatapan yang masih sama.
"Terus gue harus takut gitu?" tanyanya dengan wajah polos menggemaskan.
"Loe lupa loe itu siapa? mau gue umumin biar satu sekolah tau, hhmm? jangan macem-macem Tiara, loe itu milik gu_"
__ADS_1
"Kak Rafkha!" seru Zea.
Melihat Rafkha masih ada di parkiran membuat Zea yang baru datang bersama kakaknya segera menghampiri kemudian melingkarkan tangannya di lengan Rafkha. Dengan mata berbinar menatap Rafkha tanpa peduli ada Tiara di sana.
Rafkha segera menurunkan tangan Zea tetapi dengan cepat Zea kembali mempererat. Brian hanya bisa menggelengkan kepala melihat adiknya begitu agresif. Kemudian melirik Tiara, wajah gadis itu begitu datar dengan seringai penuh kegetiran.
"Kak Brian kita ke kelas yuk!" ajak Tiara dengan melingkarkan tangannya di lengan Brian, meniru Zea tanpa ada rasa canggung dan takut.
Bahkan dengan sengaja Tiara menempel hingga tubuh Brian kaku mendapat serangan mendadak dari gadis imut yang ditaksir para siswa. Yang sampai hari ini masih di jadikan bahan rebutan para anggota OSIS. Hanya saja karena mereka takut pada Rafkha, mereka menahan diri hingga Rafkha lulus dan meninggalkan SMA.
"Ayo kak Brian sayang! harus di sayang-sayang dulu baru mau jalan ikh!" Tiara segera menarik lengan Brian tanpa peduli dengan Rafkha yang sudah menatapnya dengan tatapan mematikan, tangannya pun sudah mengepal siap menghajar Brian andai bukan sahabat.
"Thanks ya kak udah anter gue sampe kelas."
"Loe sakit? atau kesambet setan pohon mangga yang ada di parkiran? sejak kapan loe manggil gue sayang? kalo sampe fans loe pada tau, bisa di keroyok gue rame-rame!"
"Ck, gue waras! atau loe mau jadi pacar gue beneran kak?" tanyanya enteng.
"Loe nembak gue?"
"Anggap lah begitu, tapi nggak usah di jawab sekarang. Gue mau masuk kelas!" Tiara segara masuk kelas, sedangkan Brian menganga di buatnya.
"Gue di tembak primadona SMA, gila aja kalo nolak. Nggak dapet neng Lily, neng Tiara boleh juga lah!" Brian segera melangkah menuju kelasnya dengan terus memikirkan ucapan Tiara. Hingga jam pelajaran pun ia merasa tak tenang, konsentrasinya seketika buyar dan tak fokus belajar.
Sedangkan sejak masuk Rafkha mendadak bisu, ia pun sama halnya dengan Brian. Sama-sama memikirkan Tiara, bedanya ia kesal dengan sikap gadis itu dan ingin sekali memberikan pelajaran secepatnya. Belum lagi kepala yang pening, membuatnya tambah tidak nyaman. Dan saat tatapan Rafkha mengarah pada Brian, dia di buat heran dengan tingkah sahabatnya yang tak biasa.
"Loe kenapa?"
"Sebenarnya adik sepupu loe itu waras nggak sich? atau stress gara-gara putus dari Vero berharap di tembak ketos baru terus nggak kesampaian dan sekarang jadi gila!"
"Ck, loe ngomong apa sich!"
"Tiara nembak gue!"
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Hayo....masih inget sama Joni dan Jeni nggak?
pasangan viral yang tak bisa di pisahkan. Hingga ke anak-anak mereka...