YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Senyam Senyum


__ADS_3

Tiara mulai kembali bersekolah, sebelum Andika pulang beliau sempat mengurus perpindahan yang mendadak atas bantuan Raihan. Memilih SMA yang bagus di kota itu dan membelikan motor untuk Tiara agar lebih mudah pulang pergi sekolah.


Sebenarnya bukan Andika yang membelikan motor itu melainkan Rafkha tetapi ia tidak membolehkan Andika mengatakan pada Tiara. Setelah tau di belikan motor matic gadis itu tersenyum di balik air mata dan semangat untuk belajar mandiri.


Masuk ke sekolah baru tanpa canggung, "mantan bocah bengal nggak pake acara di antar dan cengeng!" Tiara menguatkan hatinya agar ia bisa mandiri menjalani hari-hari.


Masuk di kelas IPA 2 dan langsung mendapatkan sahabat yang bernama Irna. Suatu keberuntungan pertama setelah menduduki kursi yang kosong. Keduanya duduk bersebelahan, saling menyapa hingga akrab. Mulai beradaptasi dengan lingkungan dan meninggalkan cap buruk yang dulu tersemat di dirinya.


"Kamu dari tadi di liatin Wahyu," ucap Irna setelah keduanya menyelesaikan pelajaran pertama. Tiara pun tak terlalu menanggapi, sudah biasa menjadi primadona tak membuatnya GeEr apa lagi kepedean. Bersikap santai tanpa peduli tatapan cowok yang merupakan ketua OSIS di sana.


Jam istirahat Tiara dan Irna segera melangkah menuju kantin, memesan makanan yang tak jauh beda dengan kantin di Jakarta. Sikap humble Tiara mampu membawa dirinya dimana orang pun senang berteman. Mulai mengakrabkan diri hingga ke pedagang di kantin.


Sepertinya ia pun menjadi primadona di SMA tersebut, dalam waktu seminggu semua sudah kenal siapa Tiara dan dari mana dirinya. Sekarang pun Tiara menjadi sosok yang rajin belajar, rajin masuk sekolah dan rajin membantu nenek di rumah.


Setelah pulang sekolah Tiara selalu menyempatkan mengobrol dengan Rafkha melalui Vidio call.


Seperti sore ini, Tiara terduduk di kamar Bundanya dengan membuka jendela dan menatap pemandangan sawah di sana. Rafkha nampak lega melihat Tiara mulai melupakan kesedihannya, terlihat semakin hari semakin sumringah.


Meskipun sikap manjanya pada Rafkha belum hilang, tetapi Rafkha lega Tiara bisa mandiri saat tak bersamanya. "Gimana setelah semingu di sana? udah banyak teman?"


"Jangankan teman, fans aja banyak!" jawab Tiara mengundang decakan dari Rafkha.


"Inget! jangan terlalu dekat dengan pria. Loe udah gue tandain, awas sampe lari sama cowok lain!"


Tiara mengulum senyum menatap wajah kesal Rafkha dari layar ponsel. Ini yang ia rindukan, saat sikap posesif itu muncul dan merasa sangat diinginkan.


"Mana ada tandanya? kalo ditandain itu nggak akan ada yang nembak gue kak! ..UPS ..." Tiara menutup mulutnya, ia keceplosan akan itu. Memang dua hari yang lalu ada yang nembak dia, tetapi tidak di respon olehnya. Eh sekarang ia malah bicara dengan Rafkha, auto ribet nantinya.

__ADS_1


Di seberang sana Rafkha mengepalkan tangan, menatap tajam layar ponselnya dengan rahang mengeras. Andai besok ia tidak menjalani ujian nasional, sudah di pastikan malam ini juga ia akan terbang ke Surabaya untuk memastikan Tiara aman dari para predator di luaran sana.


"Kak gue cu_"


Tut


"Lah kok di matiin, ngambek kali ya. Hhhmmm......sudah ku duga, ini mulut lagian ngapa nggak bisa di rem sich, licin banget kayak soklin. Mampuuuussss gue kudu merayu manja." Tiara menepuk keningnya.


Hari ini Rafkha sudah siap mengerjakan soal-soal ujian nasional. Berangkat lebih pagi dan mulai menekuni buku untuk sekedar mengingatkan apa yang telah di pelajari sebelumnya.


Ponsel bergetar sebelum ia ingin masuk ruangan, melirik siapa si pengirim pesan dan mengulum senyum setelah membacanya.


..."Semangat pagi kesayangan Tiara 😘😘😘 vitamin pagi dari gue biar lancar jawab soal-soal."...


Pesan semangat membuatnya lancar mengerjakan, bahkan terasa mudah karena hati dan pikiran fokus ke soal. Di tambah lagi foto Tiara memakai seragam sekolah baru yang gadis itu kirimkan menambah hati tak karuan.


..."Makasih kesayangan gue, ya walaupun gue tau loe ngerayu. Tapi cukup buat gue terhibur, awas sampe tebar pesona sama cowok lain. Gue cupaang leher loe ntar!"...


Senyum Tiara ternyata di perhatikan oleh pria yang sejak tadi hanya diam, kalem dan mengamati dengan debaran jantung yang berkali lipat. Ketos yang terkenal pendiam dan tegas nampaknya luluh dengan kecantikan dan sikap manis Tiara.


Selama seminggu ia hanya memperhatikan, belum mau mendekat, karena ia bukan pria yang mudah dekat dengan perempuan. Tetapi melihat Tiara sejak awal datang, hatinya tiba-tiba gelisah dan ada daya tarik di dirinya untuk terus melirik Tiara di setiap pergerakannya.


"Tiara, aku duluan ya. Bapak udah jemput di depan. Aku nggak bisa nemenin kamu nunggu angkutan datang. Gimana? apa mau bareng aja nanti aku minta bapak buat anterin kamu pulang dulu."


Ya, hari ini Tiara tak membawa motor karena bannya tiba-tiba bocor dan Oma memintanya untuk naik angkutan umum agar tidak telat berangkat. Dan sekarang saatnya pulang ia harus menunggu di halte sendirian karena Irna yang sudah harus pulang.


"Nggak apa-apa.....kamu pulang duluan aja, kasian bapak kamu. Lagian banyak yang lain tuh!"

__ADS_1


"Ya udah aku pulang duluan ya, maaf loh aku nggak bisa nemenin. Dach.... hati-hati ya kamu!" Irna melambaikan tangan dan masuk mobil. Melihat kedekatan Irna dan bapaknya membuat Tiara mengingat akan ayah dan papahnya yang sudah hampir satu bulan tak bertemu.


Rindu, Tiara tersenyum getir kala mengingat kembali akan keduanya. Apa lagi Papah Andika yang sangat-sangat memanjakannya. Hingga saat angkutan umum datang dan berebut untuk masuk Tiara kalah cepat dan tak kebagian tempat. Alhasil harus kembali menunggu angkutan berikutnya.


"Hhuuuuhhff......baru ini gue desak-desakan, untung nggak jatuh gue." Tiara menarik nafas dalam, "sabar Tiara tenang, slow baby.....hidup butuh perjuangan." Tiara kembali duduk di halte, murid yang menunggu angkutan sudah berkurang banyak. Hanya tinggal beberapa orang saja karena tadi tidak bisa masuk. Tetapi lumayan lama untuk menunggu, rasa bosan, lapar dan gerah sudah membuatnya tak nyaman. Hingga Tiara merengut menatap jalan dan langit senja.


tin


Klakson motor membuyarkan lamunannya, Tiara menoleh melihat seseorang yang ia kenal namun tak cukup akrab. Pasti kenal karena memang cowok itu terkenal. Siapa lagi jika bukan Wahyu si ketos. Memang hidup Tiara selalu di kelilingi oleh cowok-cowok tampan dan memiliki jabatan di sekolah. Mungkin karena efek cantik dan menarik keturunan bunda Cantika yang dulunya juga menjadi primadona di sekolah.


Wahyu membuka helm, menatap Tiara yang masih diam di tempat dan segera menghampiri.


"Ayo ikut nggak?"


"Mau kemana?" tanya Tiara polos, ntah apa yang ia pikirkan. Bahkan Wahyu nampak menghela nafas panjang dan segera menarik tangan Tiara.


"Eh main tarik-tarik aja, mau kemana? di kata gue kambing kali main di tarik aja." sewot Tiara dan segera menepis tangan Wahyu.


"Ck, kamu mau pulang nggak? kalo udah sore gini angkutan umum udah mulai jarang. Ini bukan kota besar, kamu tinggal di kampung!" Wahyu mencoba mengingatkan. Memang benar, terbukti sejak tadi Tiara belum melihat lagi ada angkutan umum melintas. Dan hampir membuatnya putus asa.


Dengan penuh pertimbangan yang ekstra bahkan sempat akan di tinggal pulang oleh Wahyu, dengan berat hati Tiara menerima ajakannya.


Tak ada pembicaraan dan hanya menunjukkan jalan. Tampak dari jauh Oma sedang berdiri di teras, mungkin menunggu dirinya yang tak kunjung sampai di rumah. "Makasih ya udah nganterin, sorry kalo bikin kamu jadi kesorean," ucap Tiara tak enak.


"Nggak apa-apa lagian udah dekat kok," Wahyu menundukkan kepala pada Oma dan pamit pulang.


"Pulang dulu nek," ucapnya.

__ADS_1


"Makasih ya sudah mengantar Tiara pulang, maaf merepotkan le... hati-hati ya!" seru nenek pada Wahyu. Tiara pun segera masuk kerumah setelah memastikan Wahyu telah pergi. Mendekati Oma dan menyalaminya. Tetapi seketika tubuh Tiara menegang saat suara khas yang sangat ia kenal begitu jelas di telinga.


__ADS_2