
Setelah seminggu tes akhir semester kini Tiara di beri kabar dari pihak polisi dan segera berlari menuju parkiran sekolah. Tak pikir panjang Tiara segera datang ke tempat dimana ayahnya berada. Hatinya begitu senang tetapi seketika khawatir karena ayah belum tau kabar tentang bundanya. Ntah harus mulai dari mana ia memberitahukan namun dirinya lega karena sebentar lagi bisa bersama.
Seminggu itu pula Tiara sama sekali tak ada komunikasi lagi dengan Rafkha, usahanya menjauh sepertinya berhasil. Rafkha sudah tidak menghubungi Oma lagi dan Tiara tak harus banyak berkelit ketika Rafkha ingin berbicara padanya.
"Ayah...."
"Tiara..." Rindu akhirnya bisa bertemu. Setelah sebulan lebih tak menjenguk kini keduanya bisa saling memeluk. Haru menyelimuti hati keduanya, apa lagi Tara yang sudah hampir 18 tahun mendekam di penjara dan kini akhirnya bisa bebas dengan di jemput oleh putrinya.
Masa tahanan yang masih tersisa dua tahun lebih sudah di pungkas karena selama ini berkelakuan baik dan mengikuti pemotongan masa tahanan tiga kali idul Fitri. Kini ia bisa kembali menghirup udara segar dan kembali pulang ke pelukan anak dan istri.
"Selamat ya Ayah sudah kembali bebas dan Tiara bisa berkumpul lagi dengan Ayah. Ayo ayah kita pulang! Oma sudah memasak banyak makanan, pasti ayah rindu kan masakan rumahan?"
"Ia sayang, Ayah rindu sekali masakan rumahan dan Ayah juga rindu dengan Bunda. Bunda kamu sudah tau jika hari ini Ayah pulang?" Tara begitu sangat merindukan Cantika. Setelah tertangkap dan di penjara ia tak lagi bertemu dengan Cantika karena kondisi istrinya yang tak memungkinkan untuk keluar rumah.
Dan kini Tiara bingung harus menjawab apa. Gadis itu berpikir keras, hingga Ayahnya bisa menangkap kegelisahan dari mata putrinya. Hati Tara tiba-tiba tidak enak, dia terus memandang wajah Tiara hingga satu bulir air mata lolos dan menjawab pertanyaan dengan lirih.
"Bunda sudah tiada Ayah..."
deg
Jantung Ayah Tara berdebar kencang bahkan rasanya ingin lepas. Masih adakah semangat hidup di saat teman hidup telah berpulang lebih dulu. Tara menarik nafas berat. Kakinya mendadak lemas dan mungkin akan terjatuh jika Tiara tidak segera menangkap tubuh Ayahnya.
"Ayah.....Ayah minum dulu Ayah." Tiara memberikan botol minumnya yang masih penuh. Gadis itu pun kembali duduk di kursi halaman lapas.
"Kenapa tidak ada yang mengabari ayah nak?" Tara menangis mengingat ia tak bisa melihat wajah istrinya untuk terakhir kali. Harapannya pupus dan ia tak tau harus bagaimana menjalani hidup.
__ADS_1
"Tiara takut Ayah semakin terpuruk. Maafkan Tiara Ayah, Tiara tidak bermaksud menyembunyikan. Tiara pun sama seperti Ayah, sama-sama kehilangan." Tiara menggenggam tangan Ayahnya dan menunduk menyembunyikan air mata. Tugasnya kini mengembalikan senyum Ayah dan memberi semangat untuk beliau.
.
.
.
"Sayang....hiks....hiks....hiks....maafin aku, maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Maaf nggak bisa mendampingi di saat kamu butuh. Dan maaf nggak ada di penghujung waktu kamu. Aku sudah bebas sayang dan sekarang aku sudah bersama dengan putri kita. Aku ikhlas melepasmu....aku ikhlas....tenanglah di sana, aku akan menjaga putri kita dengan baik."
Tiara hanya diam dengan menahan Isak tangis, melihat Ayahnya yang sudah bisa mengikhlaskan Bunda membuat Tiara lega, meskipun ia tau sang Ayah masih sangat sedih tetapi ikhlasnya Ayah semoga menjadikan ketenangan bunda di sana.
Tara mengecup nisan istrinya, menangis dalam diam dan beranjak di saat sudah tenang. Beliau tersenyum menyapa Tiara dan mengajaknya segara pulang.
"Maaf, Ayah terlalu cengeng ya sayang?" tanya Tara dengan sedikit tertawa, mengusap air matanya dan kembali melangkah.
"Mah, terimakasih sudah menjaga dan merawat Cantika hingga ajalnya. Dan sekarang menjaga Tiara, Tara banyak merepotkan Mamah." Setelah makan dan beristirahat kini Tara berkumpul di ruang keluarga bersama dengan Tiara yang sejak tadi menempel dan Ibu mertuanya. Hatinya sudah lebih baik dan kini saatnya ia kembali menata hidupnya.
Di umur 42 tahun masih banyak kesempatan untuknya kembali bekerja dan mengurus kembali perkebunan yang sudah lama ia pasrahkan pada kepercayaan Bapaknya setelah beliau meninggal seminggu setelah kejadian tragis itu.
"Mamah ikhlas Tara, mamah senang, apa lagi sekarang kamu telah keluar dan bisa kembali menjalani hidup dengan normal. Setelah ini apa kamu akan kembali mengurus usaha peninggalan Bapak kamu atau ke Jakarta mengurus perusahaan almarhum Cantika?"
Tara menoleh ke arah Tiara yang anteng menyimak, sempat ragu mengambil keputusan karena ia ingin Tiara ikut serta tetapi ia ingin segera kembali bekerja seperti dulu lagi.
"Yang di Jakarta biarkan orang kepercayaan Cantika yang mengurusnya Mah. Kelak mungkin Tiara yang akan meneruskan. Untuk sekarang saya ingin kembali ke kampung Bapak. Di sana butuh perhatian lebih Mah. Tadi Tara sudah mendapat informasi rumah di sana. Karena rumah Bapak Tara jual untuk mengubur kenangan buruk."
__ADS_1
Tiara bangkit dan menatap Ayahnya, jika keputusan Ayahnya kembali ke kampung tempat kelahiran beliau. Lalu bagaimana dengan dirinya.....
"Mamah mendukung apapun yang kamu putuskan semoga bisa kembali sukses dan seperti dulu lagi. Syukur-syukur bisa mendapatkan Ibu pengganti untuk Tiara."
"Belum ada kepikiran Mah, Tara ingin fokus memperbaiki semua dulu. Dan masih belum bisa menggantikan Cantika untuk saat ini. Tapi Tiara bagaimana? Ayah lusa kan berangkat. Kamu mau ikut atau tetap di sini?"
Tiara kembali dilema, ia menatap Ayah dan Oma bergantian. Ntah mengapa ia malas jika pindah lagi yang mengharuskan sekolahpun ikut pindah. Tapi bagaimana Ayahnya jika sendiri, ia pun tak tega.
"Mungkin Tiara akan ikut Ayah, tapi Tiara ingin ke Jakarta besok. Oma juga kesana kan? kak Rafkha dan kak Aara lulusan. Aku pengen pamit sekalian. Gimana Ayah? Apa ayah bisa ikut?"
Meskipun hati kesal tetapi Tiara ingin datang sesuai permintaan Rafkha, cintanya lebih besar dari pada kecewa. Sakit hatinya masih ada, namun Tiara tau jika Rafkha masih sangat mencintainya. Dan berharap kelak bisa bersama-sama lagi.
"Besok akan Ayah antar sekalian Ayah mau menengok kantor Bunda kamu."
"Makasih Ayah...." Tiara kembali memeluk Ayahnya, "Oma jangan bilang Kak Rafkha jika Tiara datang, rahasiakan karena Tiara mau memberi kejutan." Tiara sudah merencanakan surprise untuk Rafkha dan semoga besok berhasil. Setidaknya sebelum ia ikut Ayahnya, hubungan keduanya membaik. Dan Tiara pun mencoba tidak egois karena waktu dua Minggu sudah cukup untuk mendiami Rafkha.
"Katanya mau udah dulu, tapi mau kasih kejutan. Apa nggak malah balikan?" ledek Oma.
"Oma....jangan gitu, namanya ABG labil. Cinta nya sulit di bendung Oma, tapi Tiara akan tetapi ikut Ayah. Hanya ingin pamit aja sama kak Rafkha, berdamai dan memaafkan kan lebih baik Oma."
"Jadi kamu sama Rafkha..."
"Iya siap-siap kamu mau menimang cucu Tara!" sahut Oma membuat Tiara tercengang mendengar nya.
"Eh nggak Ayah, jangan dengerin Oma. Tiara masih mau sekolah sampai tinggi dan berhasil membahagiakan Ayah, papah, dan mamah, Oma juga. Lagian Tiara mau fokus dulu sama masa depan bukan masa jadi ibu dadakan!" ucap Tiara mengelak. Omanya benar-benar membuat Tiara gugup bicara dengan Ayah, salah-salah Ayahnya tak membolehkan dengan Rafkha, tetapi Tiara justru menemukan fakta baru.
__ADS_1
"Mau sekarang juga nggak apa sayang, ayolah otw penghulu, jangan pacaran aja nikahin nggak! awas lama-lama, emang kamu mau cosplay jadi scurity penjaga hati? Jagain jodoh orang bikin makan hati!" celetuk Tara.
"Ikh ayah bisa ngelawak juga?" tanyanya dengan wajah polos.