Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Kebenaran Mulai Terungkap


__ADS_3

Melangkah kearah mesin Z1, ketiga sahabat itu melanjutkan perjalanan kembali. Awalnya tidak ada beban di pikirannya, namun perlahan selangkah demi selangkah Zaskia terus memikirkan masalah yang belum tuntas berada di benaknya.


...Semacam keraguan untuk diucapkan namun tidak akan lega bila tak diutarakan....


"Sudahlah jangan terlalu berlebihan. Aapapun yang dilakukan, waktu akan tetap berdetak maju ke depan. Nggak akan mundur ke belakang" Kata Zevana yang berpikir menurut logikanya itu hanya untuk menghibur Zaskia, agar tidak terlalu larut dalam masalahnya.


"Iya juga sih masuk akal" Jawab Zaskia.


Mengiyakan maksud Zevana, padahal dirinya masih belum terlalu paham apa maksudnya.


"Menurut logika orang awam kaya lo itu benar adanya, nggak termasuk dengan pikiran ilmiah seorang Profesor" Sahut Zinta yang menambahkan opininya dalam sesi tanya jawab ini.


"Sorry ya gue lagi nggak mood buat berdebat" Sahut Zevana yang sikapnya mulai terlihat agak angkuh menurut penglihatan Zinta.


"Berdebat? Lucu deh, nggak ada untungnya juga ko buat gue. Bilang aja nggak berani buat menjelajah kesalahan dari masa lalu" Sahut Zinta kembali.


Zinta tertawa kecil dan melanjutkan pengecekkan ulang di setiap sudut ruangan.


Hatinya Zevana sudah mulai terpercik api kekesalan dari ucapan Zinta. Keadaan menjadi kian memanas. Bola basket ditangannya mulai berani melompat kearah meja monitor mesin. Tatkala Zinta merespon dengan sigap, tahu benar apa yang mesti dilakukan.


"Zevana jangan! Stop! Selangkah lo bertindak yang tidak-tidak, kita akan benar terjebak didalamnya" Sergah Zinta yang mencoba menahan amarah Zevana.


Tiba-tiba mesin Z1 bersuara seperti menghantam bongkahan batu diluar sana.


πŸš€ BRUKKKK


...Langit sudah mulai terlihat cerah...


...Sepertinya awan kelabu akan tetap ada...


...Walau dengan perlahan berubah...


...pasti ia akan kembali di keadaan semula...


...****...


* Flashback on

__ADS_1


Terdapat seperti sebuah pertunjukan film yang benar nyata dialami Zevana ketika ia merasa benci dengan watak dari Maminya sendiri yang sibuk dengan segudang belanjaan. Setiap kali ia pulang ke rumah, tidak pernah merasa nyaman, sebab seringnya cekcok dengan kedua orangtuanya.


Padahal kedua orangtuanya bersikap begitu dengan alasan, terlalu perhatian terhadap Zevana. Mungkin juga karena anak semata wayang. Setiap kali Maminya menangis sendirian, semuanya tak dapat diketahuinya. Sedangkan papinya juga merasa bersalah atas sikapnya yang mendambakan seorang anak laki-laki.


"Mamih, Papi?" Tanya Zevana dengan berlinangan air mata dan mengusapnya.


Di zona masa lalu itulah Zinta dan Zevana seketika mengabaikan persoalannya dan lupa bagaimana ia memulainya.


Seketika layar itu pun berpindah ke tempat yang berbeda, terlihat tayangan di sebuah ruang laboratorium milik Zinta.


Terlihat Zevana mencoba memutar bola basket dengan satu jari, tiba-tiba bola basket menggeser tabung reaksi berwarna putih dan tercampur ke tabung reaksi lain, tepatnya di rak perak yang bertuliskan BIURIN.


Lalu ia segera merapikannya persis sekali ketika ia melakukannya. Tak pelak, Zinta kini menoleh kearah Zevana, rancangan emosi sedang bercengkrama di ingatannya.


Melaju dengan yakin dan mendorong tumpuan Zevana berpijak.


...BRUKKKK.......


Zevana terjatuh, ia didorong oleh Zinta dengan tiba-tiba. Keadaannya kini sedang tidak ada rasa untuk membalasnya. Hati yang berkecamuk dan menangisi kesalahannya di masa lalu itu nyatanya ia ketahui kembali. Tak hanya itu saja, perbuatannya pun disaksikan oleh kedua sahabatnya.


Zinta merasa tertipu oleh sikapnya Zevana. Hingga ia menuduh Zweta tanpa bukti yang jelas pada saat itu. Dengan amarah yang membuncah, Zinta memakinya hingga tangannya bergetar. Sungguh momen yang jarang diperlihatkan.


Zaskia merasa tegang dan ia tidak tahu bagaimana cara memisahkannya.


"Jadi semua ini ulah lo? Jawab Zev!!" Teriak Zinta dengan suara yang menggelegar di tempat itu.


Teriakannya hampir menyerupai suara petir yang menyambar. Bertepatan dengan keadaan itu, Zweta terbangun dari tidurnya yang lelap. Melihat lampu dan sinyal ruangan laboratorium menjadi seperti pertanda bahaya di time travel.


"Hah kenapa nih? Waduh, gue harus cepat-cepat periksa. Ya Allah semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja" Ucap Zweta sambil bergegas menyusun laporannya.


⌨️πŸ–₯️


"Ii-yaaa Zin" Jawab Zevana dengan terbata-bata.


Merasa ketakutan setelah melihat amarah yang membuncah terpancar di setiap sudut wajah sahabatnya.


Kerah baju seragam sekolahnya Zevana ditarik oleh tangan Zinta dengan penuh tenaga.

__ADS_1


"Bagus!! Hekh.. ternyataa.. lo dari dulu udah bilang dari awal, kalau lo pelakunya. Dan sialnya gue nggak curiga apa-apa sama lo!!!" Geram Zinta dengan nafas yang memburu.


"Sorry ya Zin, to-long maafin gue yah" Sahut Zevana dengan nada suara yang masih terbata-bata.


"Sorry? Segitu gampangnya bilang sorry hah? Setelah apa yang terjadi, gue sampai berpikir itu kesalahan gue sendiri Zev!" Timpal Zinta.


Melihat situasi genting ini, Zaskia sekarang tidak bisa tinggal diam. Ia pun ikut mendekati kedua sahabatnya, serta ikut bersuara.


"Sudah cukup! Oh.. jadi dengan perkelahian bisa menyelesaikan semua masalah?? hekh.. Enggak kan? Sebenarnya yang berhak marah bukan lo doang Zin! Gue juga berhak marah atas perbuatannya Zevana!!" Teriak Zaskia yang kini berganti menjadi amarah kedua untuk Zevana.


Setelah mendengar sahutan Zaskia, akhirnya Zinta mau melepas genggamannya itu yang ia tarik kerah bajunya Zevana tadi.


Zinta menoleh kearah Zaskia dan sekelilingnya, menatap keadaan dan termenung sejenak dengan nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan.


"Toh semuanya sudah terjadi kan? Dengan adanya time travel ini, kita bisa tau kan siapa pelakunya? Andaikan sampai detik ini pun kita nggak pernah tahu jalan keluarnya, apakah kalian masih ingin berkelahi?" Tanya Zaskia menambahkan pembicaraan dengan menangis tersedu-sedu.


Dengan suara tangis yang sesenggukan itu pun, Zinta dan Zevana sadar serta menghampiri Zaskia yang sedang menangis disana, mereka akhirnya saling memaafkan.


Perjalanan masih mengantarkan mereka ke zona terakhir yaitu zona masa lalu Zinta.


Ternyata Zinta mempunyai kebencian terhadap predikat nama profesor karena ia dianggap aneh oleh kebanyakan orang disekitarnya. Ditambah lagi ia juga merasa jenuh dengan watak Ibunya yang pikun tersebut.


πŸš€πŸš€πŸš€ Mesin Z1 telah berhasil membantu dan menyelamatkan permasalahan diantara mereka semua. Kini mereka akan bersiap kembali ke ruang laboratorium.


Tak lupa dengan satu pertanyaan yang belum terpecahkan yaitu sosok pria dari masa lalu Zaskia, dalam ingatannya wajah pria itu mirip dengan Adnan kekasihnya yang kini hanya sebuah nama saja.


Kenapa begitu? Karena ia masih ragu apakah ini nyata atau sesaat saja.


Mungkin saja ia bisa mengubah jalan pikirannya saat ini, yaitu kembali ke masa lalu dan tetap tinggal.


Karena menurutnya percuma juga bisa kembali seperti semula, nyatanya hubungan cintanya dengan Adnan tidak bisa kembali.


Adalah petunjuk sebuah teka-teki yang sangat rumit untuk ditebak.


Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


* to be continued....

__ADS_1


__ADS_2