
Setelah suara ledakan membelah udara, menjadi titik awal bagi mereka yang mencari tahu keberadaan seseorang.
"Kau mendengar sesuatu?" Tanya seorang perempuan kepada rekan setimnya.
Mereka segera menangkap sinyal tersebut pada monitornya.
"Lihatlah aku mendapatkannya!" Sahutnya dengan antusias.
"Kerja bagus" Sahutnya tak percaya.
"Aku tak menyangka kita akan keluar dari dunia ini" Jawabnya penuh haru.
"Sudah lima tahun lamanya mengenang bencana itu terjadi. Hantaman bebatuan yang sempat menerjang saat kita berada di dalam mesin Z1" Kenangnya.
"Aku tahu. Bahkan kau juga sempat berpikir setelah serangan terakhir itu, penelitian yang baru ditemukan Zinta ternyata bisa menghilang tanpa jejak" Sahutnya.
"Awalnya aku mengira situasi akan lebih damai dari sekarang, tapi kenyataannya dunia ini masih mengalami kesulitan besar" Jawabnya menambahkan.
"Lebih tak menyangka nya lagi usiaku makin berkurang" Ucapnya.
"Hei kau tidak setua yang dibayangkan" Sahutnya.
"Sedang apa dia sekarang?" Ia bertanya kembali.
"Apa kau lagi membicarakan Adnan?" Tanya rekannya.
__ADS_1
"Seperti yang kau tahu" Jawabnya seraya membendung buliran beningnya.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja" Ucap Zweta menyemangatinya.
Saat sebelum binatang buas itu menerjang ke arahnya, ada sesuatu yang berputar di udara dan mendarat dengan mantap di atas tanah. Seseorang bergerak maju dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, tentu semua dibekali dengan peralatan yang lengkap.
"Jarak dari tempat penginapan ke tempat ini sekitar sepuluh meter, aku mencoba mengkalkulasi waktu menggunakan bayangan. Tapi ternyata ini lebih sulit dari dugaanku" Suara seorang lelaki mencapai pendengarannya.
Dia berbicara saat setelah bercak merah mengambang tak jauh dari pandangannya.
"Jangan panik" Lelaki itu memperingatkan.
Sepertinya Zinta ingin menjawab sesuatu, namun tak ada sepatah kata pun yang dilontarkan. Ia memejamkan kedua netranya seraya menahan rasa sakit dengan beberapa luka yang didapatkannya.
Ia segera bergegas meninggalkan tempat itu, tanpa mengatakan keadaan yang tengah dialami oleh Zinta.
Namun langkahnya terhenti, lantaran ia mendengar sesuatu datang dari sudut belahan arah mata angin.
Wushh
"Mari kita lihat, seberapa cepat dia mengikuti. Bangunlah dan ikuti aku" Lelaki itu berucap seraya mengulurkan tangannya.
Didapati bahwa lelaki tersebut menggunakan peralatan yang ia layangkan ke udara, suatu pencapaian yang dilakukannya selama lima tahun ini.
"Kenapa berhenti? Padahal tinggal sedikit lagi kita sampai" Salah seorang rekan setimnya menanyakan kabar tersebut.
__ADS_1
"Seharusnya dia berada disini" Seseorang berkata setelah mengikuti mereka dari arah belakang.
"Lihatlah bagaimana cara dia memusnahkan semua serigala ini" Sahutnya tak terima.
"Cara dia berpindah tempat sangat cepat, bukankah setiap peneliti hanya bisa menunggu arahan dari ketua? Kurasa dia bukan orang sembarangan" Sahutnya kembali.
"Jadi maksudmu adalah?" Tanya rekannya dengan penasaran.
"Aku akan beritahukan secepatnya pada ketua" Imbuhnya.
"Ketua? Siapa dia?" Lelaki tersebut sepertinya ingin mencari tahu siapa seseorang yang sedang dibicarakan.
"Sudahlah abaikan saja" Rekan setimnya seolah meragukan kepercayaan dirinya.
"Tak mudah bagiku mengabaikan persoalan ini" Tepisnya.
"Dari sini saja aku bisa menyimpulkan, jika sudut bayangan yang jatuh sekitar sepuluh meter, ada kemungkinan akan mengarah ke selatan. Seseorang tidak akan mau mengerjakan ini, jika tidak ada tujuannya. Berhati-hatilah bila ada yang mengintai mu" Gumamnya seraya menoleh ke arah gadis itu berada.
Kemudian pandangannya pun berbalas, gadis itu mendongakkan kepalanya dengan tatapan mata yang lekat.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya lelaki itu dengan kepastian.
Ia terjatuh kembali dengan keadaan membingungkan serta anggota badannya yang terkulai lemas.
* to be continued..
__ADS_1