
...Ternyata tidak semua penjelasan yang...
...Sebenarnya dapat diberitahu, karena belum...
...Tentu juga dapat menyelesaikan masalah...
đ¸đ¸đ¸đ¸
...Kini semua berbeda...
...Namun hal serupa rasa...
...Pada seseorang yang sama...
...Akan selalu ada selamanya...
...Adnan si kekasih hati...
Hari ini Zaskia berangkat agak sore, usai jam sekolah ada rapat pembahasan pidato media internasional yang diselenggarakan oleh pihak sekolahnya.
Dalam rangka menyambut kedatangan tamu
antar sekolah dari beberapa negara, tentunya ia sangat menantikan persiapannya dalam waktu dekat ini. Acara akan diselenggarakan bersamaan dengan pertandingan bola basket putra dan putri yang bertempat di sekolah SMAN 1 Mars serta menjadi tuan rumah untuk yang pertama kalinya.
Jadi begini deh, sendirian nungguin mobil jemputan.
__ADS_1
"Huh.. capek banget...! Belum lagi dirumah gue mesti siapin buat luluran, perawatan wajah" Kata Zaskia sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya, sebab ia merasa terik matahari telah mengganggunya.
"Ohiya lupa, gue bukan Zaskia yang dulu. Orang yang selalu ingin apapun pasti akan dituruti kemauannya. Tapi sekarang... semuanya berbanding terbalik" Ucap Zaskia sembari terisak tangis.
Sepertinya ia sangat menyesali penampilannya yang tidak menarik. Sekarang pun tak tahu harus pergi kearah mana, tempat yang ditujunya menjadi agak samar dengan pikiran yang kosong.
Bertepatan dengan hari ini, Zinta serta Zweta kembali ke ruang laboratorium untuk menggali informasi tentang penelitiannya kemarin. disamping itu Zinta juga sudah memberi tahu kata sandinya.
"The number one Professor Zinta" Ucap Zweta sambil menempelkan id card Zinta ke monitor.
...(Kata sandi benar silahkan masuk)...
Sempat tak percaya, pintu laboratorium kini sudah terbuka lebar didepan mata mereka berdua. Segera mereka memasuki ruang sains, mencari satu persatu koleksi buku di rak penelitian.
"Tabel periodik fungsinya untuk mengetahui nomer atom, konfigurasi elektron dan sifat setiap unsur" Ucap Zweta sambil membaca buku yang ada disana.
"Gimana udah ketemu belum?" Tanya Zinta sambil mengetik keyboard komputernya.
"Hah? Oh belum nih, ini gue lagi baca konfigurasi elektron. Nanti gue pinjam bukunya ya" Ujar Zweta sambil mencari buku-buku yang lain.
"Iya gapapa bawa aja, tapi ini kita selesaikan dulu mana yang mau kita cari" Jawab Zinta dengan tegas sambil menoleh ke arahnya.
...Perihal perasaan yang sangat tulus itu...
...Kini menghampiri tanpa permisi...
__ADS_1
...Senyuman khasnya Ali...
...Tidak bisa ia tepis begitu saja...
...Karena membekas di lubuk hati...
Disaat genting ini terbesit bayangan wajah Ali saat tersenyum manis pada Zinta persis yang ia lihat tadi pagi di taman. Ia pun tak sadar ketika senyumnya ikut merekah terbawa suasana.
Jari-jari lihai Zweta menemukan selembar kertas kusam yang tertumpuk dekat tabung reaksi berwarna putih, tepat disamping Rak perak bernama BIURIN.
"Apa nih? Ya ampun dekil banget" Kata Zweta sambil memisahkan selembar kertas dari tumpukan buku dengan terbatuk-batuk.
"Zin Lo ada-ada aja ya! Masa satu lembar kertas aja masih disimpan! Mana tulisannya nggak bisa kebaca lagi!" Seru Zweta sambil menghampirinya.
"Nemu dimana?" Tanya Zinta.
Sontak saja ia terbangun dari lamunannya, sembari melanjutkan ketikan keyboard komputernya.
"Disitu loh yang sampingan sama rak perak tulisannya BIURIN" Jawab Zweta dengan memberikan kertas itu pada Zinta.
"Hah serius Lo?" Sambar Zinta dengan ekspresi terkejut.
Zinta beranjak pergi dari tempat duduknya, menghampiri Zweta dan dengan sigap ia membersihkan debu tersebut dari selembar kertas. Kemudian dengan mudahnya ia dapat membaca dengan jelas tulisan yang tertera disana itu berbunyi....
* to be continued
__ADS_1