Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Final 1


__ADS_3

Zedric segera melesat lebih cepat serta bersiap bertempur melawan penemuannya sendiri. Ia menggunakan benda keras seperti palu. Agar sifat kemagnetan suatu benda dapat hilang.


Ia sudah bertemu dengan Zevana dan segera melepaskan pegangan besi yang mengganggunya. Walaupun begitu berat besi tersebut, ia akan tetap berjuang keras untuk melindunginya. Suatu bentuk tanggung jawab sebagai seorang pria jika ingin dipercaya.


"Zev lo masih nafas kan?" tanya Zedric padanya.


BRUKK


Akhirnya pegangan besi itu sudah terlepas dari tarikan partikel magnet yang menyulitkan Zevana untuk bergerak.


"Zev lo gapapa kan?" tanya Zedric kembali dengan perasaan yang khawatir.


Zevana sempat merasa jika dirinya tidak akan selamat dari bahaya yang tengah dihadapinya.


Tiba-tiba ia mendengar suara Adnan memanggil namanya.


"Zevana kembalilah kita main basket" ucap suara yang menyerupai suara Adnan.


"Adnan lo ada disini? sebentar ya Zed" ucap Zevana sambil melangkahkan kakinya menuju suara yang memanggil.


Kabut putih tersebut hadir kembali diantara mereka berdua. Namun bedanya kali ini Zevana tetap tidak merasa risih dengan langit yang berbeda dari biasanya. Mungkin karena sebelumnya ia sudah pernah mengalaminya saat terbaring koma di rumah sakit.


Tap..


"Jangan kemana-mana" sahut Zedric sambil menggenggam telapak tangan Zevana.


Dalam sekejap pun kabut itu menghilang kembali dari pandangannya. Zevana merasa kebingungan hingga berpikir apakah barusan hanya sebuah lamunan saja?


"Bisa jadi semua ini hanya tipu muslihat dari pengaruh pusaran angin" ucap Zedric dengan penjelasan yang meyakinkan.


"Jadi begitu ya" jawab Zevana sambil menoleh pada sesuatu yang mengalihkannya yaitu genggaman tangan Zedric.


"Kita nggak punya banyak waktu lagi. Sekarang lo pakai ini ya? kita berdua tetap cari Zinta dan yang lainnya" ucap Zedric sambil memberikan baju perlindungan.


"Baiklah" sahut Zevana dengan singkat.


Sepertinya keadaan sudah menunjukkan sikap yang tenang. Mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali dengan posisi jarak yang tidak saling berjauhan satu dengan yang lainnya.


Entahlah maksud perlakuan Zedric yang disampaikan dengan cara yang manis ia tunjukkan padanya. Apakah hatinya merasa ada perasaan lebih dengan Zevana? tidak ada yang tahu.


"Apa ini yang dimaksud Adnan dalam mimpi? ia bilang pasti bakalan ada seorang pria yang menyayangi gue? apa Zedric juga termasuk ya? tapi dilihat dari tatapannya kelihatannya tulus. Nggak merasa risih sedikit pun, padahal baru aja dia genggam telapak tangan ini" batin Zevana dalam hatinya sambil menatap Zedric tanpa disadari.


"Kenapa?" tanya Zedric sambil menoleh kearahnya Zevana.

__ADS_1


"Hah gapapa" sahut Zevana memalingkan wajahnya.


"Ayo cepat" ajak Zedric.


"Iya" jawab Zevana.


Ia merasakan detak jantung yang berdebar yang ia rasakan kembali setelah ia mengikhlaskan Adnan bersama Zaskia. Ia tetap fokus pada tujuannya saat ini yaitu mencari keberadaan sahabatnya yang lain.


...****...


"Zedric bilang pusaran angin ini miliknya? harusnya dia yang maju ke depan melindungi kita semua" gumam Zinta sambil mencari Zaskia menggunakan lensa eye camera.


Di kedalaman tekanan angin mungkin saja terdapat kehidupan yang masih diluar jangkauan pemikiran banyak orang.


...Akses terhubung...


Zinta mendengar sinyal tanda seseorang datang menghampirinya. Ia segera berjaga diri, melihat di sekelilingnya mencari tahu siapakah dia yang dimaksud.


"Siapa disana?" tanya Zinta pada tempat tersebut.


Kemudian ia tidak menggubrisnya, dan melakukan perjalanan kembali. Namun kali ini langkahnya berhenti secara mendadak. Bersembunyi dibalik batu yang menghalangi pandangannya agar tidak ketahuan.


"Zas bangun" ucap Adnan yang terlihat jelas sedang berbicara pada Zaskia dalam penglihatan Zinta dari kejauhan.


Hingga Zaskia pun terbangun dengan suara tersebut. Melihat dari jarak pandang yang dekat dengannya.


""Ini bukan mimpi. Aku terjebak dalam pusaran angin. Jika dapat dihancurkan, maka aku akan kembali pada kehidupan yang nyata.


"Kenapa bisa begitu ya?" tanya Zaskia padanya.


"Entahlah mungkin semuanya terjadi secara kebetulan" jawab Adnan.


"Kamu mau ikut aku nggak Zas?" ajak Adnan sambil mengulurkan tangannya pada Zaskia.


Zaskia merasa kalimat ini sudah pernah ia dengar didalam mimpinya. Ia mencoba untuk meraih tangannya untuk memastikan semuanya.


"Iya aku mau ikut Nan" sahut Zaskia menerima ajakan dari Adnan.


Namun kali ini berbeda, ia bisa meraih telapak tangannya Adnan. Mereka berdua mempercepat perjalanan untuk keluar dari dunia pusaran angin secara bersama-sama.


"Jadi mereka udah saling ketemu? berarti penelitian gue berhasil mengenai prinsip demokrasi matematika dalam dunia sains menyatakan semesta apapun yang hitung-hitungannya masuk akal, bakalan sah-sah saja untuk dianggap beneran ada" ucap Zinta dari tempat persembunyiannya.


"Wah mereka mendekat kemari" gumam Zinta tetap bersembunyi dibalik batu.

__ADS_1


Rencananya Zinta akan memberi kejutan padanya. Namun sesuatu hal yang besar malah mengejutkannya.


"Halo selamat datang dalam duniaku profesor Zinta, hahaha" ucap pusaran angin berbicara seakan ingin mengajak bertempur.


"Zedric" sahut Zinta dengan sigap menoleh pada suara yang memanggil namanya.


"Ya benar itu namaku. Aku terbuat dari dendam serta kebencian pada seseorang dari masa lalu. Nama ini diberikan sesuai dengan nama si penemunya" jawab pusaran angin tersebut.


"Siapa orang yang dibencinya?" tanya Zinta kembali.


"Orangnya sedang berbicara denganku" sahut pusaran angin.


"Ternyata benar dugaan gue selama ini, pasti semuanya karena olimpiade sains yang membuat Zedric menjauh" gumam Zinta.


"Jadi gimana caranya memusnahkan lo?" sahut Zinta dengan suara yang lantang.


"Pikir saja sendiri. Kamu kan seorang profesor terhebat, seharusnya bisa tahu gimana caranya. Hahaha" jawab suara pusaran angin tersebut sambil menggebrak permukaan bumi dengan sekali hentakan saja.


BRUKK


"Zaskia cepat lari dari sini" ucap Zinta sambil melemparkan peralatan canggihnya kearah Zaskia berada.


"Dapat" jawab Zaskia menangkap pemberian Zinta dari kejauhan.


Zaskia pun mengangguk pelan dan segera beranjak pergi mencari jalan keluar untuk kembali ke mesin Z1 tempat Zweta berada.


Hampir saja pusaran angin tersebut ingin mengikutinya, tapi semua itu sudah dicegah oleh Zinta terlebih dahulu.


"Lawan lo yang sebenarnya itu gue, bukan mereka. Jadi jangan dikejar" ujar Zinta sambil bersiap diri dengan tatapan yang tajam.


"Baiklah jika itu pilihanmu" jawab pusaran angin menantangnya.


Dua kekuatan hebat sedang bertempur secara sportif. Pusaran angin diiringi suara petir yang menggelegar dengan komposisi senyawa kimia yang dapat membuat sesak nafas bagi setiap orang yang menghirupnya, menjadikan ciri khas dari penemuan Zedric.


Dwarr


Terdengar sangar dari telinga Zweta yang membangunkannya dari tangisan yang mendalam.


"Suara itu terdengar lagi" ucap Zweta sambil melihat pemandangan yang tidak terduga.


Melihat dari layar monitor kendaraan yang ditumpanginya. Kemudian ia perjelas gambar tersebut. Ia tahu apa yang harus dilakukannya dalam keadaan seperti ini.


Langkah pertama yang diambil adalah memindahkan sepeda ke mesin Z1, karena disana tempat yang aman untuk menyimpan beban berat.

__ADS_1


Pikirannya menjadi cemerlang ketika mendapatkan panggilan tugas memecahkan petunjuk yaitu menyelamatkan sahabatnya yang masih terperangkap di dalam.


* to be continued...


__ADS_2