Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Misi Selanjutnya


__ADS_3

Zweta terlihat sedang mengendus sesuatu yang membuat sahabatnya sesak nafas. Merasa tidak asing dengan apa yang ia maksud barusan.


"Ini senyawa kimia, persis apa yang gue ketahui saat di ruang laboratorium" Gumam Zweta mencoba berpikir kritis.


Ia ingat bagaimana caranya bisa berbicara lancar seolah sesuatu dapat ia pastikan sesuai dengan cara pengambilan spesimen, pengiriman, penyimpanan, dan persiapan sampel saat menjadi petugas di ruang laboratorium milik Zinta.


Sayup terdengar suara dalam jarak pandang yang sudah mulai terlihat jelas dengan bantuan cahaya kilat diantara dua orang yang sedang berbicara.


Dwarr..!!


Zweta tercengang lantaran ia melihat Zinta dalam bahaya dengan posisi kakinya terikat pada senyawa kimia yang membuat Zevana sesak nafas. Namun ia tidak mengenali wajah seseorang yang nampak asing dilihatnya. Hingga ia kembali ke posisinya yaitu berlindung dibalik pohon yang rindang.


"Siapa dia? Kemungkinan dia bukan orang sembarangan, sebab hanya orang seperti Zinta yang akan tertarik dengan sains juga teknologi" Gumam Zweta sambil memikirkan langkah selanjutnya.


"Zevana lo tunggu disini sementara ya. Gue mau cari mesin Z1 disekitar sini" Kata Zweta pada sahabatnya.


"Mesin Z1? Jadi menurut lo, Zinta ada disini?" Tanya Zevana menanyakan perihal yang dimaksud sahabatnya.


"Gue lihat dengan jelas kalau Zinta ada disini. Diantara dua orang yang kita lihat barusan" Sahut Zweta menjelaskan dengan rinci.


"Nitip motor gue ya Zev" Kata Zweta sambil bergegas pergi dengan berjalan kaki.


"Jangan lama-lama ya" Sahut Zevana berlindung dibalik pohon yang besar.


...Datangnya suara petir...


...Seperti tanda sebuah isyarat...


...Jangan berniat untuk mampir...


...Jika nantinya akan tersesat...


...****...


Zevana memperhatikan pembicaraan diantara mereka. Maju merambat secara perlahan seperti agen rahasia. Hingga pada akhirnya ia membenarkan ucapan Zweta.


"Jadi alasan lo benci gue karena udah merusak semua tujuan yang udah lo buat? Asal lo tau, itu semua gue lakuin ada sebabnya. Gue nggak mau lo terhisap pusaran itu Zedric!" Teriak Zinta untuk menengahi persoalannya.


Zedric hanya bisa terdiam mendengarkan celotehan Zinta. Tidak tahu arti dalam diamnya menunjukkan apakah ia berpikir positif atau malah sebaliknya? Yaitu sedang menyusun rencana selanjutnya.


"Jadi namanya Zedric?" Gumam Zevana yang sesekali menoleh ke samping untuk melihat situasi sebenarnya.


"Hah?" Ucap Zevana segera menunduk merasa detak jantungnya berdegup kencang karena hadirnya rasa gemetar takut ketahuan olehnya.

__ADS_1


Zed merasa ada yang sedang memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan.


"Siapa disana!!" Zedric berteriak dengan nada yang memantul pada permukaan.


Tap..!!


Tap..!!


Terdengar suara langkah kaki melewati rumput dan dedaunan seperti menuju kearahnya berada. Zevana memejamkan matanya dengan keringat dingin, ia semakin panik bahwa Zed akan mencengkeramnya. Terlebih keadaannya semakin terkejut saat telapak tangan hinggap di bahunya. Ia reflek berteriak, namun tertahan karena suatu bekapan muncul di mulutnya.


"Hah" Ucap Zevana.


"Zevana jangan teriak, ini gue Zaskia" Ujarnya sambil melepaskan baju perlindungan yang ia kenakan.


"Zas, ya ampun gue kira tadi siapa" Jawab Zevana yang tidak percaya bahwa Zaskia telah menemukannya.


"Lo sendirian disini? Zweta kemana?" Bisik Zaskia dengan pelan.


"Zweta lagi nyari mesin Z1 punya Zinta" Jawab Zevana.


"Lo pakai baju ini ya? Nanti gue yang bawa sepeda motornya buat nyusul Zweta" Kata Zaskia memberikan misi selanjutnya.


"Tunggu sebentar ini baju apa? Gue nggak ngerti cara pakainya. Lo pakai motor sendirian nyusul Zweta? Udah gila ya? Bisa ketahuan nanti" Sahut Zevana sambil memastikan pikiran aneh sahabatnya.


"Terus apa hubungannya gue bisa bela diri Zas?" Tanya Zevana kembali.


"Gue udah dua kali dilempar sama Zed dan terjatuh gitu aja. Perlawanan gue nggak ada artinya sama sekali. Plis tolong bantu gue ya" Bujuk Zaskia.


"Gue usahakan sebisa mungkin Zas, makasih ya" Jawab Zevana dengan terisak tangis segera mengenakan baju perlindungan yang diberikan oleh Zaskia.


Zaskia bergegas pergi menggunakan sepeda motor milik Zweta dan meninggalkannya sendirian untuk membantu menyelamatkan Zinta.


"Ternyata dugaan ku benar adanya. Ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon" Ucap Zed sambil meluncurkan tembakan kearah pohon tempat Zevana bersimpuh.


Boom..!!


"Hah pohonnya tumbang? Waduh gue harus pindah dari sini" Gumam Zevana dengan berpindah cepat ke tempat persembunyian pohon yang lainnya.


"Oh tidak ada orang rupanya, selamat tinggal Zinta" Kata Zed.


Zedric menggunakan kekuatannya untuk menarik Zinta masuk kedalam pusaran yang sudah disiapkan terlebih dahulu.


"Ahhh!! Tolong!" Zinta berteriak, meminta bantuan yang mungkin saja bisa datang menghampirinya.

__ADS_1


"Zinta? Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja" Ucap Zevana sambil keluar dari zona nyamannya.


Ia melangkahkan kakinya bergerak cepat seperti sedang melangsungkan sebuah pertandingan, tak lupa ia gunakan dengan mengawali lompatan jauh dan tinggi. Untuk sampai ke ring, pemain biasanya akan terlihat seolah-olah sedang berjalan di udara dan kemudian menembakkan bola dengan kuat ke dalam ring lawan. Sebuah perumpamaan ring lawan adalah kepala Zed yang hendak ia lemparkan bola basket kearahnya. Ia gunakan teknik walking in the air slam dunk dalam dunia olahraga basket.


"Hiyaa!!" Ucap Zevana.


BRUKK


Zevana berhasil melempar bola basket mendarat di kepalanya Zed hingga ia terjatuh.


Begitu juga dengan Zinta perlahan terhisap pusaran petir.


"Zevana" Ucap Zinta memanggilnya agar segera menolongnya.


"Zinta pegang tangan gue!" Ujar Zevana sambil mengulurkan tangan kearahnya.


Ketika kedua tangan mereka saling bertemu, Zevana tidak bisa menarik keluar Zinta dari pusaran tersebut. Karena adanya kekuatan yang dihasilkan dari pusaran yang semakin kuat.


"Zinta..!" Teriak Zevana sambil menangis sejadi-jadinya.


Merasa tercengang sekaligus sangat menyesal karena ia tidak mampu membawanya keluar dari bahaya yang menimpanya. Ia melihat sahabatnya terbelenggu senyawa kimia dikelilingi suara petir yang menyambar.


Dwarr..!!


"Zevana?" Ucap Zaskia mendengar suara jeritan Zevana yang sangat jelas dirasakan.


Kemudian Zaskia memutar balik arah sepeda motornya ke tempat tujuan Zevana dan Zinta berada. Tak lupa Adnan juga ingin tahu mengenai keadaan yang sebenarnya diantara mereka. Berlari kencang serta berhembus seperti angin yang sedang membawa kawan datang menghampiri. Tepat sekali apa yang dikatakannya. Ia melihat Zevana menangis histeris tidak bisa membantu Zinta dari pusaran itu.


"Zinta?" Ucap Zaskia meninggalkan sepeda motornya yang segera menghampiri Zevana.


Zaskia ingat apa yang dilakukan Zinta pada saat dia menyelamatkannya serta Adnan dalam pusaran angin. Salah satunya yakni mencari pulpen Zedfour adalah cara untuk meredakan pusaran yang terjadi.


"Pulpennya dimana?" Tanya Zaskia sambil membawa paksa Zevana pergi dari tempat itu.


"Gue nggak tahu pulpen apa yang lo maksud" Jawab Zevana masih dalam keadaan menangis.


"Oh pulpen Zedfour? Sebentar ya gue bantu cari ke dalam pusaran" Sahut Adnan berbicara dengan mudahnya.


.


.


.

__ADS_1


* to be continued...


__ADS_2