
Daun rerumputan itu bergoyang, seseorang yang memperhatikan perlahan semakin mendekat menyerupai pria yang sedang dipikirkannya.
"Nggak usah nangis, nanti cantiknya hilang" ucap suara yang menyapa dengan memberikan sapu tangan pada Zevana.
"Makasih ya" jawab Zevana sambil menerima sapu tangan yang diberikan, hanya dengan melihat dari sudut pandang saja.
Zevana masih belum menyadari siapa orang yang sedang diajaknya bicara. Kebetulan pembicaraan diantara mereka terbilang nyambung. Merasa bahwa hanya orang tersebut yang peduli dengannya saat ini, hingga mau mendengarkan isi hatinya.
"Oh jadi begitu ceritanya? tega sekali udah merebut pria yang jelas-jelas disukai oleh sahabatnya sendiri" ujar pria asing yang semakin menyudutkan Zevana.
"Zinta nggak salah. Gue aja yang terlalu baper menanggapi sikap yang ditunjukkan Zedric" jawab Zevana dengan jujur.
"Tapi hatimu bilang benci sama Zinta kan?" tanya pria asing tersebut.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria asing yang menjadi teman curhatnya Zevana tersebut. Terus membicarakan kebencian terhadap Zinta, sepertinya ia hanya bisa memberikan pengaruh buruk padanya.
Namun semua itu tidak sinkron dengan tujuan Zevana, benar saat ini ia memang merasa kecewa dengan kenyataan yang ada. Tapi tidak untuk melakukan tindakan yang dianggap salah besar.
"Jadi gimana setuju kan?" tanya pria itu sekali lagi.
"Hati gue sekarang emang lagi kecewa banget. Dengan tegas gue menolak ajakan lo buat menyingkirkan Zinta" sahut Zevana sambil beranjak berdiri.
"Zedric? jadi lo yang dari tadi ngomong sama gue?" tanya Zevana dengan terkejut.
Zevana menjadi terdiam membisu menatap lekat pada seseorang yang kehadirannya sangat diperlukan. Ia segera mengusapkan wajahnya dengan sapu tangan yang ia terima.
"Ah perih" ucap Zevana yang merasa wajahnya perih setelah memakai sapu tangan tersebut.
"Ya itu memang namaku, tapi bukan orang yang kamu suka, hahaha" jawab pria tersebut.
Kemudian pria yang menyerupai Zedric telah berubah ke wujud aslinya. Rupanya dia adalah pusaran angin yang menjadi rival sedang mengajak bekerja sama untuk melenyapkan Zinta.
Zevana segera berjalan mundur sambil mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat keberadaan pusaran angin dihadapannya. Padahal saat ini ketinggiannya sudah terbilang sedikit lebih kecil dari biasanya.
"Gue nggak akan mau bergabung sama kejahatan! " teriak Zevana sambil segera berlari untuk menyelamatkan diri.
"Kamu tidak bisa lari dariku. Karena hatimu saat ini terdapat kekecewaan pada seseorang yang aku benci, hahaha" ungkap pusaran angin.
Namun pergerakannya berhenti dengan sendirinya yang menyebabkan terjebak dalam pengaruh jahat.
Hempasan angin itu sudah melekat pada tubuh Zevana. Kini misi selanjutnya adalah mencari Zinta yang sudah berada di luar wilayahnya.
"Aku akan segera menemukanmu Zinta" ucap Zevana dalam pengaruh jahat.
__ADS_1
...****...
Sementara itu Zinta beserta Zweta sudah berada di tempat yang paling depan pada bagian kemudi mesin. Sedangkan Zaskia dan Zedric mempunyai kegiatan yang berbeda.
Bunyi suara mesin sudah terdengar nyaring, pertanda mereka semua sudah melaju untuk melakukan pencarian terhadap Zevana yang masih tertinggal di dunia sains.
"Semoga Zevana baik-baik saja disana" ucap Zweta sambil memandang kearah layar monitor.
"Zweta tolong stay disini ya. Gue mau periksakan kondisi Adnan sebentar" ujar Zinta sambil beranjak pergi ke ruang penelitian.
"Iya Prof" jawab Zweta sambil mengangguk pelan.
Di ruang penelitiannya, Zinta memanggil Adnan menggunakan lensa eye camera. Sinyal itu belum terdeteksi, hingga ia tetap menunggu di ruang tempat tidur Adnan sendirian.
Zedric sedang berdiri sambil melihat dari dekat jendela, ingin cepat bertemu dengan Zevana. Ia merasa bersalah atas sikapnya yang tidak peka. Tiba-tiba kedua matanya terkejut melihat Zevana yang sedang melesat dengan cepat menuju kendaraan yang mereka tumpangi.
"Bukannya itu Zevana?" gumam Zedric didalam hatinya.
"Zinta! Zevana udah kembali. Tolong bukain pintunya sekarang" ujar Zedric sambil berlari kecil.
Ia sudah mencari ke tiap sudut ruangan, namun tidak menemukan bantuan mereka yang seharusnya berada di posisinya.
"Mereka pada kemana ya?" tanya Zedric seorang diri.
"Gue aja deh yang bukain pintunya" ucap Zedric dengan perasaan yang bahagia.
"Loh kenapa tiba-tiba ada angin dari luar ya?" ucap Zweta merasakan ada aliran angin yang menghampirinya.
Hingga ia memeriksa dari balik tirai jendela tempatnya bekerja. Ia melihat Zedric yang berdiri dekat dengan sebuah pintu mesin.
"Zedric? jangan-jangan dia mau" gumam Zweta didalam hatinya.
Ia segera meninggalkan aktivitasnya sejenak, hanya untuk menghampiri apa yang sudah dilihatnya barusan.
"Zedric lo ngapain buka pintu sembarangan?" tanya Zweta sambil mencegahnya untuk berhenti.
"Zevana udah di depan. Lihat aja tuh" jawab Zedric memberitahu.
"Iya tapi tunggu sebentar, gue mau berhentikan dulu mesinnya" sahut Zweta yang bersikap seperti itu karena dipercaya oleh Zinta.
"Gue sama Zinta itu sama aja, nggak ada bedanya. Gue pastikan semuanya baik-baik aja" ucap Zedric menatap wajah Zweta dengan tegas.
"Oke gue angkat tangan ya. Sekarang lo jadi penanggung jawab mesin Z1" sahut Zweta dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Oke" jawab Zedric sambil membuka pintunya.
Zweta yang tidak mau ikut campur, menjaga jarak darinya. Padahal Zevana sudah berada di luar pintu mesin.
"Nanti kasih tahu Zevana ya, kalau gue nunggu dia didalam" ujar Zweta sambil berjalan meninggalkannya.
Angin dari luar mulai berhembus masuk kedalam ruangan, itu pertanda Zedric sudah membuka pintu mesin.
"Zevana ayo cepat masuk" ucap Zedric sambil mengulurkan tangannya.
Ia belum menyadari perubahan yang dialami oleh Zevana.
"Makasih ya" ucap Zevana sambil meraih tangan Zedric.
Namun ketika Zedric ingin membantunya masuk kedalam, uluran tangannya malah ditarik kembali oleh Zevana dengan tambahan sebuah pukulan ia layangkan padanya hingga terlempar ke luar mesin.
Buggghh
"Aahhhh.." teriak Zedric dengan suara yang nyaring.
Beruntungnya ia masih menggunakan baju perlindungan, jadi dirinya masih bisa kembali dengan cara berpegangan pada pegangan besi mesin.
Kemudian Zevana menutup pintunya kembali. Ia berjalan seperti robot yang sedang dikendalikan oleh majikannya.
Ia mencari Zinta di bagian kemudi mesin, namun ia hanya bertemu dengan Zweta saja.
Lanjut ia berbalik arah, ia malah bertemu dengan Zaskia yang sedang menterjemahkan tulisan penelitian yang dibuat oleh sahabatnya.
"Zevana bukan ya?" tanya Zaskia sambil berjalan mendekatinya dari arah belakang.
Kemudian Zaskia berpindah posisi hanya untuk memastikan apakah benar Zevana yang dilihatnya.
"Zevana lo udah kembali" ucap Zaskia sambil memeluk sahabatnya dengan menitikkan air mata.
"Minggir dari hadapanku" ucap Zevana sambil menyingkirkan posisi Zaskia yang sudah menghalangi pandangannya.
Hanya butuh satu hentakkan saja baginya, untuk membuang sesuatu yang menghalangi langkahnya berjalan termasuk Zaskia yang terpelanting kearah meja penelitian.
BRUKK
"Ah sakit" rintih Zaskia yang merasakan sakit pada bagian punggungnya.
"Ada yang aneh dengan Zevana" gumam Zaskia didalam hatinya.
__ADS_1
* to be continued...