Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Logika


__ADS_3

Bukankah persoalan dapat menangani suatu keadaan sebenarnya?


Lantas mengapa pikirannya seolah menyulitkannya berbicara?


...Berdiskusi memahami pikiran...


...Pilihan menjadi sebuah ukuran...


...Senyuman itu mengingatkan...


...Perasaan di suatu zaman...


🌸🌸🌸🌸


Mereka melanjutkan perjalanan ke ruang laboratorium, merupakan suatu tempat bersejarah menjalankan misi penelitian. Berbeda dari sebelumnya kali ini Zinta akan mencari keberadaan sahabatnya dibantu lensa eye camera yang sudah dirancang dalam bentuk analitis.


"Ohiya tadi lo bilang mau ceritakan soal Zevana?" tanya Zedric penasaran seraya mengemudikan mobil.


Pandangannya mengarah pada kaca spion tengah mobil dengan tujuan melihat kondisi seseorang dari area belakang.


Rupanya ia melihat Zinta sudah terlelap tidur tanpa menggunakan kacamata, posisinya tidak jauh dari sebuah pintu.


"Dia pasti sangat lelah" batin Zedric membaca melalui sikap yang ditunjukkan oleh Zinta.


Hiruk pikuk kemacetan pun sempat menemani suasana perjalanan. Sepertinya Zedric enggan menanyakan kembali mengenai pembahasan yang sempat terhenti sebelumnya.


"Jujur gue mengkhawatirkan kalian" gumam Zedric didalam hatinya.


Mobil yang ditumpangi mereka bergerak perlahan mengikuti kendaraan lainnya. Dibalik tidurnya yang lelap, Zinta mengizinkan air matanya mengalir tanpa sepengetahuan Zedric.


Hari sudah berganti malam, jalanan sudah terlihat lengang memudahkan mereka yang berkendara semakin cepat menuju tempat tujuannya.


"Alhamdulillah kita sudah sampai" ucap Zedric bergegas keluar dari mobil.


Ia segera membuka pintu rumahnya Zinta yang kebetulan tidak terkunci tersebut.


Cklek..


Ia sengaja tidak membangunkan Zinta terlebih dahulu, agar terlihat seperti skenario kejutan yang tersusun rapi.


Namun semua itu ditepisnya secara nyata, lantaran terdengar suara seseorang sedang memindahkan sahabatnya secara perlahan, Zinta pun terbangun dengan sendirinya.


"Oh udah sampai ya?" tanya Zinta dalam keadaan pandangan mata yang terlihat sedikit buram, karena ia tidak memakai kacamata.

__ADS_1


"Loh kacamata gue kemana ya? perasaan tadi gue taro disini deh" ucap Zinta seraya meraba dengan kedua tangannya di area sekitar tempat yang ia singgahi.


Dalam keadaan yang sama, Zedric juga sedang berada didekatnya yaitu hendak membopong Zevana dari dalam mobil menuju ruang laboratorium.


"Ternyata dia nangis seharian, matanya nggak bisa bohong" batin Zedric ketika kedua matanya menatap lekat pada perempuan yang menjadi sorotan.


Zinta merasakan kehadiran Zedric sedang menatap kedua matanya dari jarak dekat.


"Bantu Zeva masuk ke ruangan secepatnya ya Zed. Sebisa mungkin lo selalu ada untuknya" ujar Zinta memberitahu seraya memastikan bahwa ucapannya dapat dilakukan oleh Zedric.


Setelah mendengar ucapan Zinta, kini dirinya menoleh kearah Zevana dengan kulitnya terasa dingin bila disentuh. Walaupun begitu, Zed tetap ingin membantu menemukan kacamatanya.


"Nah ketemu" ucap Zedric setelah meraih sesuatu yang terhimpit oleh beberapa tumpukan buku bahasa asing milik Zaskia.


Zed memakaikan kacamata tepat di bagian atas hidung Zinta diantara mata dan dahinya.


Setelah terpasang sempurna, kedua mata mereka saling bertemu.


"Gue merasa mengabaikannya adalah pilihan terbaik, tapi mata Zed belum juga lepas dari pandangan" gumam Zinta didalam hatinya.


Zedric dengan lembut mengusap air mata Zinta yang masih sempat terlihat beberapa buliran saja.


"Kita akan bekerjasama dalam misi ini" ucap Zedric dengan memberikan air mineral padanya.


Setelah Zinta meneguk air minum yang diberikannya barusan, ia sudah merasa penuh energi dengan memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya.


Segera melangkahkan kakinya menyusul mereka yang sudah duluan masuk kedalam ruangan.


"The number one Professor Zinta" ucap Zinta saat ingin memasuki ruang laboratorium.


...Kata sandi benar silahkan masuk...


Terdengar suara pintu terbuka setelah mengucapkan kalimat sesuai yang sudah diketahui sebelumnya.


"Siapa yang datang ya?" tanya Zweta memastikan sesuatu yang ia dengar sebelumnya.


Zweta yang sejak tadi pagi sudah berada didalam ruangan, menjadi terkejut lantaran seseorang datang dalam keadaan panik melewati keberadaannya.


Padahal posisinya sedang berdiri diantara sebuah meja penelitian. Ia melihat Zevana terbujur kaku dengan tubuh yang dilapisi jas putih yang biasa dipakai oleh Zedric sebagai pelindungnya agar tidak terlalu kedinginan.


"Zev?" tanya Zweta masih belum percaya apa yang dilihatnya barusan.


Ia segera mengikuti Zedric dari belakang, ingin mengetahui secara pasti kondisi yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Zweta masih belum menyadari bahwa Zinta juga berada di tempat yang sama dengannya saat ini. Saking terlalu fokus mengutamakan yang menurutnya sangat penting tersebut.


"Zweta? lama nggak ketemu, maaf nanti kita bicarakan lagi persoalannya. Untuk saat ini utamakan dulu keselamatan Zevana" ujar Zedric memberitahu informasi.


"Baik" jawab Zweta dengan singkat.


Zweta segera berjalan mundur serta berbalik arah meninggalkan ruangan khusus tersebut. Langkahnya pun berhenti, karena pandangannya kini terpaku pada Zinta yang datang menghampirinya.


"Zinta lo disini juga?" tanya Zweta dengan berlinangan air mata, segera merangkul sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.


Zinta pun begitu menjadi orang yang paling bersalah setelah suatu bahaya tengah dihadapi oleh salah satu sahabatnya. Ia merasa bersikap tanggung jawab adalah tugas yang paling diutamakan.


"Zev-Zevana kenapa bisa kaya gitu?" tanya Zweta terdengar sesenggukan di setiap tangisannya.


"Zeva tersesat dalam mimpinya" jawab Zinta memberitahu walaupun terasa berat diucapkan.


"Tersesat? kenapa semuanya sesuai dengan jalan pikiran gue ya?" batin Zweta didalam hatinya, menambahkan perdebatan baru diantara mereka.


"Biar adil, gue mau nungguin Zed datang kesini buat nemuin kita. Karena gue juga punya logika yang akurat mengenai Zevana" ujar Zweta menegaskan ucapannya.


Zedric terlihat menyibukkan diri untuk menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan seperti memberikan suhu ruangan yang terasa hangat, agar kondisi tubuh Zevana tidak merasakan dingin yang berlebihan.


"Syukurlah sudah bisa diatasi dengan baik, sekarang tunggu hasil dari Profesor" ucap Zedric seraya menutup pintu ruangan tersebut.


Cklek..


Setelah semuanya sudah sesuai dengan harapan, Zedric bergegas keluar ingin segera menemui mereka yang tentunya sedang menunggu jawaban kepastian.


"Maaf udah nunggu lama" ucap Zedric berusaha memberikan senyuman agar terlihat sedang mencairkan suasana.


Pembicaraan ketiga orang di ruangan itu menjadi sangat ambisius, karena setiap argumen yang diutarakan pastinya sangat berhubungan erat serta masuk akal.


"Jadi kalian udah saling ketemu? seharusnya lo tahu kenapa Zev bisa nggak sadarkan diri kaya sekarang" ujar Zweta berbicara seolah sedang menyudutkan pihak Zedric.


Namun Zedric memposisikan dirinya sebagai pendengar celotehan Zweta, siap menampung pertanyaan seputar masalah diantara mereka. Siapa tahu ia bisa menjawab setiap kalimat yang ditujukan padanya dengan tepat.


"Selama ini lo pergi kemana Zed? buat apa menghindar yang nggak ada gunanya, toh ujungnya juga pasti akan bertemu lagi kan?" tanya Zweta melibatkan perasaan kekecewaan yang mewakili Zevana pada saat sebelum Zed memutuskan pergi menjauhi mereka.


"Sekarang Zev tersesat, dia masih penasaran dengan ucapan Adnan yang berpesan lewat mimpinya. Sampai sekarang pun gue nggak tahu mimpi apa yang diinginkan Zev sebenarnya" ucap Zweta memberitahu persoalan yang membuat Zevana bersikap acuh pada dirinya.


"Adnan berpesan lewat mimpi?" tanya Zedric pada Zweta.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


* to be continued..


__ADS_2