
Adnan sadar bahwa dirinya tidak lagi bisa meraih sesuatu yang diinginkan dengan mudahnya. Terlintas sebuah ide muncul begitu saja dalam benaknya, yakni merasuki tubuh Zaskia yang dalam keadaan berpikir bagaimana cara jalan keluar dari bahaya yang terjadi, namun terlihat seperti sedang melamun. Kini Zaskia dan Adnan berada di dalam tubuh yang sama hanya untuk bertahan dalam sementara waktu.
Wussh
"Kenapa rasanya tubuh gue nolak sesuatu yang berhembus ya? Argh! Apa ini? " Batin Zaskia berbicara didalam hatinya.
"Maaf ya Zas, kita berdua akan bekerjasama membantu Zinta keluar dari pusaran" Ucap Adnan berbicara pada Zaskia melalui hati.
"Suara ini?" Sahut Zaskia yang semakin tertarik pada seseorang yang sedang mengajaknya bicara dalam satu tempat yang sama.
"Adnan? Kenapa bisa?" Gumam Zaskia dengan sadar ia bergerak namun tidak sama dengan pikirannya.
"Maafin aku ya, aku sangat menyayangimu" Ucap Adnan sambil menitikkan air mata ketika mengutarakan isi hatinya.
Dari luar nampak terlihat Zaskia yang menitikkan air mata tanpa sesuatu yang jelas. Hingga menurut Zevana sahabatnya itu menangis karena adanya suatu keadaan.
"Zaskia pasti sangat terpukul dengan sikap gue yang nggak berhasil membantu Zinta" Batin Zevana berbicara setelah melihat kondisi sahabatnya tersebut.
Otak akan berhenti bekerja untuk sementara waktu jika benturan itu sangat keras dan kita akan pingsan dalam beberapa jam.
Semua itu tidak berlaku bagi Zedric, tidak butuh waktu lama untuknya terbangun setelah menerima hantaman bola basket dari Zevana. Ia tertatih sempoyongan sambil memegang kepalanya yang masih terasa pening. Sesekali ia hampir terjatuh kembali hanya karena menyeimbangkan tumpuan kakinya agar kokoh saat berjalan.
"Ah kepalaku" Ucap Zed.
Zaskia mampu menenangkan hati sahabatnya yang tadi merasa panik. Ia juga masih memikirkan cara untuk mengambil pulpen Zedfour, namun tak kunjung terlihat olehnya. Keadaan semakin gusar lantaran ia melihat Zed sudah terbangun sadar, sepertinya sebuah pertanda ancaman besar sudah semakin dekat.
"Siapa yang sudah berani melawanku!!" Bentak Zed sambil melempar kembali bola basket yang berada ditangannya.
Dug..!!
Dug..!!
Zevana mengingat bola basket tersebut merupakan pemberian dari seseorang yang sangat spesial dihatinya. Pada kenyataannya hingga saat ini ia pun tidak tahu keberadaan orang yang dimaksud adalah Adnan. Bola basket kesayangannya yang selalu menemani hari-harinya.
Ia bergerak cepat melaju ke arah bola basket yang dihempaskan oleh Zedric. Ia berhasil menangkapnya hingga punggungnya terbentur pohon dengan permukaan yang kasar.
BRUKK
Dirasa ia menjadi tidak berdaya akibat terkena dorongan bola basket yang cukup kencang setelah ditangkapnya tersebut. Namun semua itu telah ditepisnya, lantaran baju perlindungan yang ia kenakan bisa melindunginya dari bahaya yang mungkin terjadi begitu saja.
__ADS_1
"Rupanya bola basket itu milikmu ya?" Tanya Zed yang seketika pandangannya terpaku pada Zevana.
Tatapan tajam dari kedua belah pihak menandakan bahwa mereka sudah siap bertempur.
"Lo bisa aja melemparkan satu persatu sahabat gue dengan mudahnya. Namun salah orang jika lo berhadapan langsung dengan gue! Sesuatu hal yang belum sempat dilawan, kemungkinan akan gue balas saat ini juga! Sekaranglah waktunya, kekuatan lo akan lenyap dalam seketika!!" Timpal Zevana meneriakinya dari kejauhan.
"Beraninya...!" Geram Zed sambil meluncurkan beberapa tembakan berupa senyawa kimia yang ia tujukan pada Zevana.
Boom
Zed mengudara menggunakan sepatu jet temuannya sambil membawa pusaran petir dibelakang badannya. Matanya sedang mengintai pergerakan Zevana yang membuatnya kewalahan karena ia mampu menandinginya.
"Boleh juga dia" Gumam Zed seperti sedang menyusun rencana baru.
Dwarr
Zevana memang seorang atlet serba bisa, mungkin saja benar menurut perkataannya barusan. Jika Zed merupakan lawan yang seimbang untuknya. Setiap mendengar suara yang ditembakkan, Zevana dengan sigap menghindarinya. Berkat bantuan fungsi tombol PLANE yang ia gunakan, ia juga dapat mengudara seperti lawannya. Sebisa mungkin ia menghindar saat melintasi pohon besar yang satu persatu tumbang begitu saja.
Wussh
Namun langkahnya Zevana berhenti ketika memasuki jalan agak menyamping dan terlihat hanya ada jalan buntu saja.
Segera berpindah tempat, agar Zed tidak bisa menemukan mesin tersebut. Namun Pandangannya berhenti lantaran wajah Zed sudah tepat didepan wajahnya.
Karena Zed sudah mengetahui perihal baju perlindungan yang canggih tersebut, akhirnya ia melepaskan tutup kepalanya saja yang dikenakan oleh Zevana.
"Halo apa kabar?" Tanya Zed sambil meninju wajah Zevana dengan kepalan tangannya yang mampu membuat Zevana terpental hingga tersungkur.
Bug
BRUKK
"Tidak ada yang bisa mengalahkan aku" Pekik Zed yang merasa bangga dengan apa yang telah ia lakukan.
...****...
Zweta terlihat sangat serius mencari tahu bagaimana cara kerja dari mesin Z1. Membersihkan seluruh ruangan yang terlihat berantakan dengan genangan air. Layar monitor pun sudah bisa berfungsi kembali seperti sebuah kamera pengawas di wilayah tersebut. Hingga ia mendengar ponselnya berdering yang membuatnya terkejut.
Kring..!!
__ADS_1
π "Halo?" Ucap Zweta.
π "Zweta ini Adnan. Plis tolong kirim sepeda Zedtwo kesini ya tempat titik koordinat pusaran petir" Ujar Zaskia yang tanpa sadar ia mengaku dirinya adalah Adnan.
π "Adnan? Maksudnya gimana ya?" Tanya Zweta yang semakin bingung menanggapi pembicaraan diantara mereka.
π "Eh sorry gue salah sebut, ha ha" Sahut Zaskia sambil tertawa ditengah kepanikannya.
π "Bisa-bisanya mikirin Adnan ditengah bahaya kaya gini. Oke gue kirimin sepedanya yang segera meluncur" Jawab Zweta sambil menutup telponnya.
Kecanggihan sepeda Zedtwo yang belum diketahui Zaskia adalah bisa berjalan otomatis seperti sedang dikendarai oleh seseorang.
Memanfaatkan ranting pohon yang tumbang, ia gunakan untuk menarik keluar Zinta dari suatu pusaran yang membelenggunya. Ternyata belum ada titik kejelasan yang dapat membantunya. Hingga mulai terdengar sesuatu yang datang menghampirinya yaitu sebuah kiriman dari Zweta.
Ia langsung masuk ke dalam sepeda Zedtwo serta menirukan tindakan yang dilakukan oleh Zinta pada saat menyelamatkannya dan Adnan. Merasa berhutang Budi pada sahabatnya, kini ia lakukan untuk menyelamatkannya.
Ketika ia sudah ingin bersiap masuk ke dalam pusaran, dan lagi Zed dengan cepat mengetahuinya kembali. Dengan langkah cepat ia berlari menuju keberadaan mereka. Namun pergerakannya terlambat, lantaran hanya bisa menyaksikan Zinta yang sudah terlihat menyelamatkan diri dan berhasil keluar dari pusaran petir yang ia buat. Zaskia dan Adnan melanjutkan perjalanan kembali menuju Zevana dan Zweta berada.
"Sepeda itu kan?" Gumam Zed dalam hatinya.
Mengingatkan suatu peristiwa yang dialaminya pada saat olimpiade sains beberapa tahun lalu, yakni saat berjuang bersama Zinta.
*Flashback on..
Penelitian ZANN merupakan penelitian Zinta yang ia susun ke dalam bahasa Turki, yang artinya.
Pada bulan Januari 2009, saya membuat
Penelitian yang ke sembilan, saya memberi
Nama Zann singkatan dari Zed Analitycal
Number Nine, agar mudah diingat.
Sebuah penelitian yang pada saat itu juga Zed berada disana menjadi teman satu kelompok Zinta, dengan tujuannya mengenai penelusuran ke time travel atau menjelajah ke masa lalu menggunakan mesin Z1.
.
.
__ADS_1
* to be continued...