
Lelah yang menghinggapi Zedric sudah menghilang seiring berjalannya waktu, ia terbangun dari tidurnya yang lelap. Terdapat bayangan seseorang yang sepertinya sedang memperhatikannya.
Masih terlihat samar pada bagian penglihatan yang dialami oleh Zedric, kemudian ia menggunakan salah satu tangan kanannya untuk mengucek mata yang masih terasa ngantuk.
"Zev lo udah sadar? syukurlah kalau begitu" ucap Zedric sambil beranjak bangun untuk menghampiri Zevana.
Ucapan Zevana saat mengutarakan isi hatinya, masih terngiang dalam ingatannya. Menjadikan senyuman mahal Zedric yang jarang diketahui banyak orang, ia perlihatkan kembali pada seseorang yang kini berada dihadapannya. Padahal semua itu dilakukan Zevana saat sedang tidak sadarkan diri.
BRUKK
Terdengar suara yang mengejutkan Zedric dari arah belakangnya. Ia pun menoleh, ternyata suara itu berasal dari Zweta yang tertidur dan posisinya malah terjatuh menghadap lantai, ketika Zedric beranjak berdiri.
"Zweta?" ucap Zedric kemudian saling menoleh kembali kearah Zevana.
Zevana telah melihat keduanya saling bersandar dalam keadaan tertidur. Ia sempat berpikir bahwa Zedric seorang playboy cap buaya. Hingga kedua sahabatnya pun didekati juga.
"Tenangkan dirimu Zev" gumam Zevana dalam hatinya.
"Gue bisa jelasin semuanya" ucap Zedric memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Jelasin apa ya? kita kan nggak pernah pacaran" jawab Zevana secara langsung bersikap sedikit elegan.
Selanjutnya Zevana memisahkan diri pada mereka berdua. Ia terlihat menghindar setiap kali Zedric berkesempatan mengobrol pada salah satu sahabatnya.
"Pasti hatinya sangat hancur melihat kesalahpahaman ini" batin Zedric.
"Tunggu deh, ko gue jadi nggak mau Zevana kenapa-kenapa ya? padahal itu semua gue lakukan sama rata dengan mereka, alasannya karena gue mau menebus kesalahan yang telah lalu" gumam Zedric didalam hatinya.
"Gue pengen punya kenangan baik dalam ingatan mereka" ucap Zedric dengan suara pelan, namun terdengar jelas di telinga Zweta.
__ADS_1
"Kenangan baik? jujur ya, sama aja gue udah buang waktu dekat sama lo. Gue nggak mau persahabatan dengan Zevana renggang, cuma karena kehadiran lo yang meresahkan. Itu semua berbanding terbalik, kalo gue baca buku seharian yang jelas banyak manfaatnya" ungkap Zweta menerangkan dengan segala sindiran andalannya.
"Kalo gue meresahkan, kenapa lo mau aja nempel di bahu? pake acara ketiduran segala lagi? masih mau mengelak hah?" sahut Zedric dengan memutar balikkan fakta pada Zweta.
Semua perkataan yang dilontarkan oleh Zedric memang benar adanya. Kali ini Zweta tidak bisa mengelak, namun karena prinsip idealisnya yang tinggi tersebut menjadikan cara alternatif untuk membela dirinya sendiri. Akhirnya Zweta meninggalkan Zedric sendirian di ruang kemudi mesin.
Tap
Suara langkah kaki yang terdengar menghampiri Zinta, Zaskia, serta Adnan. Ketiganya saling menoleh seseorang yang datang.
"Zweta gimana keadaan lo?" tanya Adnan padanya dengan tersenyum bahagia.
"Gue nggak nyangka bisa ketemu lagi sama lo Nan" ucap Zweta tersenyum dengan menitikkan air mata.
"Sama gue juga" jawab Adnan dengan tertawa kecil.
Pendaratan mesin kembali pada tempat awal terjadinya pusaran angin yaitu sekolah SMAN 1 Mars. Satu persatu menuruni anak tangga sebuah mesin Z1. Angin tetap menyambut kedatangan mereka hingga akhir cerita.
"Zinta makasih ya buat semuanya. Gue sadar dan pastikan keahlian gue buat mengejar gelar Profesor sungguhan di dunia nyata" ungkap Zedric menjelaskan pesan sebelum berpamitan padanya.
"Semoga lancar dan berhasil ya cita-cita lo" jawab Zinta memberikan jabat tangan tanda persahabatan diantara mereka.
"Lo jadi sekolah disini kan?" tanya Zinta untuk memastikannya kembali.
"Kayaknya enggak akan pernah" sahut Zedric tanpa ragu.
"Ko bilang gitu sih?" tanya Zinta.
Zedric terdiam dan hanya membalas dengan senyuman yang penuh makna.
__ADS_1
"Gue udah lama mau ngabarin kalo sepeda motor lo, ada di gue Zweta. Maaf buat sikap gue yang mungkin menjengkelkan, gue pamit dulu" ucap Zedric yang tiba-tiba berubah drastis dari sikap yang ditunjukkan sebelumnya pada Zweta.
Padahal Zedric sempat bertengkar sebentar dengan Zweta, karena tidak ada yang mau mengalah satu sama lainnya. Terdengar sepele mungkin akan selalu diingat diantara keduanya.
"Ini gue kembalikan" ucap Zedric sambil berlari ke arah parkiran motor.
"Kenapa semuanya terjadi begitu mendadak? padahal baru aja kita berdebat" gumam Zweta dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya.
"Bro salam kenal ya, semoga kalian berdua langgeng sampai pernikahan" ujar Zedric bahagia melihat Zaskia bisa bertemu kembali dengan kekasihnya.
"Amin. Thanks ya lo udah bantuin Zaskia serta sahabatnya yang lain. Sorry gue nggak bisa banyak bantu kalian. Soalnya gue juga nggak tahu sih, kenapa gue ada di tempat ini" jawab Adnan menjelaskan maksudnya.
"Gais gue pamit ya. Maafin semua kesalahan gue selama ini" ujar Zedric sekali lagi.
"Zed lo nggak mau ketemu Zevana dulu?" tanya Zinta meraih lengan Zedric hingga memberhentikan langkah kakinya.
Zedric melihat mata angin yang berhembus menunjukkan bahwa sudah tidak ada waktu lagi untuknya berada di tempat ini.
"Udah nggak ada waktu lagi" jawab Zedric dengan raut wajah yang menyisakan pesan terdalam, padahal ia masih ingin menetap bersama mereka yang peduli dengannya.
Akhirnya Zedric meninggalkan mereka semua menggunakan sepatu jet yang ia rancang khusus berbeda dari kendaraan yang ia pakai sebelumnya.
"Walau terasa berat dan hambar, gue tetap meluruskan niat suatu rencana yang gue susun dari awal bertemu mereka. Soal Zevana mungkin gue akan tentukan waktunya di waktu yang tepat" gumam Zedric hanya dengan lambaian tangan pertanda selamat tinggal, karena tugasnya sudah selesai membantu.
Saat membalikkan badannya, tatapan mata itu bertemu kembali untuk yang kesekian kalinya. Ya kebetulan Zevana orang terakhir yang keluar dari mesin Z1.
Perlakuan yang berbeda dari Zedric terhadap Zevana yaitu mengabaikannya. Tidak berlangsung lama untuk menatap dalam kedua mata seseorang di hadapannya saat ini.
Zedric segera melesat dengan cepat seperti pesawat jet yang ingin segera mendarat pada sebuah tempat yang ditujunya.
__ADS_1
"Mungkinkah dia merasa gue menghindar darinya?" tanya Zevana didalam hatinya.
"Gue nggak tahu maksudnya gimana? yang pasti gue nggak mau terlalu baper sama perhatian kecil dari seseorang. Mungkin mimpi yang diucapkan Adnan itu hanyalah sebuah serangkaian bunga tidur, yang tidak ada artinya sama sekali" gumam Zevana sekali lagi didalam hatinya.