
Semakin sadar bahwa dirinya sedang diikuti oleh penemuannya sendiri dari belakang. Sesekali ia juga melirik kearah bayangan yang memantul dari jalan aspal dengan tujuan melihat keberadaan pusaran tersebut.
"Gue harus bisa lari secepat mungkin" ucap Zedric menjadi fokus pada pandangannya.
Ia berlari menggunakan sepatu roda dengan kecepatan tembus hingga 70 kilometer per jam di trek lurus. Gerakannya sudah tidak diragukan lagi, karena semua itu tidak terlalu berbeda dengan sepatu jet penemuannya.
"Wah boleh juga nih" batin Zedric sambil tersenyum.
Terus berlari menuju rumah Zinta yaitu ruang laboratorium. Ia juga lupa bahwa Zaskia masih berada di dalam gedung sekolah hanya seorang diri.
"Kapan semuanya berakhir?" batin Zaskia.
Di depan ruang kelas itu, Ia mengatur pernafasan yang semakin lama menjadi sesak yang tidak bisa dihindari. Hingga ia pun tergeletak pingsan diantara angin yang mengelilinginya.
Fisika adalah ilmu yang membongkar bagaimana dunia alam semesta kita bekerja. Termasuk juga untuk hal-hal yang menembus batas masuk akal.
Zinta yang jenius mencoba menjadi detektif tapi kasusnya adalah alam semesta. Ia ingin mencari tahu jejak Adnan yang sepertinya dapat dibantu melalui penemuannya.
"Nah berhasil" ucap Zinta sambil memindahkan Adnan masuk kedalam mesin Z1 dengan bantuan robot pengantar barang.
Di dalam mesin itulah ia akan menelusuri tempat yang ada kaitannya dengan pusaran angin pulpen Zedfour miliknya karena pada saat itu Adnan terperangkap didalam pusaran angin yang terlalu lama.
"Tujuan kita sekarang adalah sekolah" ucap Zinta sambil menutup pintu mesin.
Dengan bantuan lensa eye camera menjadi alasan kuat untuknya membuat sebuah laporan penelitian.
"Nan lo dimana?" tanya Zinta menggunakan eye camera.
Masih belum terdengar tanda apapun, ia mendekatkan diri pada posisi Adnan yang terbaring di tempat tidur. Ya benar saja Adnan masih melekat disana.
Ia memeriksa mesin Z1 mengatur pergerakan kemudi untuk berbalik arah pada tujuannya. Zinta terlihat sedang menunggu pintunya tertutup secara perlahan.
Namun semua itu diluar rencana, tiba-tiba saja seseorang datang dari arah luar berhembus bagaikan roket yang melintas sangat cepat masuk ke dalam mesin Z1.
"Hah apa tuh?" ucap Zedric dari kejauhan ketika melihat sebuah benda besar di hadapannya.
Wussh
BRUKK
Ia tersungkur karena tidak adanya rem pengendali untuk berhenti secara teratur. Kemudian pintunya tertutup rapat, barulah pusaran angin milik Zedric menyelimuti mesin tersebut.
__ADS_1
Aahhhh
Suara teriakan histeris dari seluruh penghuni yang berada di dalam mesin Z1 menjadi panik seketika. Mereka berdua terpelanting dengan sangat ringan hingga terkena dinding lapis besi mesin tersebut.
"Hah kenapa nih? Zedric itu lo kan?" tanya Zinta sambil berpegangan pada besi yang dianggap kuat untuk menopangnya.
"Iya ini gue" sahut Zedric yang sedang merasakan sakit karena tubuhnya menabrak mesin Z1 yang berbahan lapis besi tersebut.
"Barusan gue dikejar sama penemuan gue sendiri" ucap Zedric.
"Maksudnya gimana?" sahut Zinta.
"Cepat pergi dari sini. Hahaha" suara itu berasal dari pusaran angin yang berbicara dari luar.
Beruntungnya mereka dilemparkan ke arah tempat sekolahnya. Langkah yang cepat untuk mendaratkan sebuah mesin dengan lancar.
Wussh
Zedric yang dalam keadaan genting itu masih sempat berpikir ketika melihat Adnan berada di dalam mesin Z1 bersama mereka.
"Zinta lo sengaja ya bawa Adnan kesini?" tanya Zedric sambil melepaskan sepatu roda yang berada di kakinya.
"Iya sengaja" jawab Zinta dengan singkat.
Zinta tidak bisa berbohong pada keadaan yang ternyata Zedric dengan mudah menebaknya.
"Semesta apapun yang hitungannya masuk akal. Bakalan sah-sah aja untuk dianggap beneran ada" ungkap Zinta memperjelas kalimatnya.
"Tapi ini masih sebatas prediksi" sahut Zedric.
"Itulah pengetahuan apa yang sekarang terasa mustahil, bisa terwujud di masa depan" jawab Zinta dengan penuh percaya diri.
Zedric menjadi terdiam sambil berpikir apa semuanya bisa kembali begitu saja?
"Yang jelas gue mau bertanggung jawab atas semua akibat yang terjadi dari penemuan gue sendiri" ujar Zinta yang secara tidak langsung menyindir Zedric.
"Iya gue minta maaf soal apa aja yang udah gue lakukan selama ini" sahut Zedric dengan pasrah.
"Gue terpengaruh dari watak jahat yang menjadi pengaruh kekuatan gue, hingga nggak ada yang bisa menandingi" jawab Zedric menambahkan penjelasan ilmiahnya.
"Alasan gue dateng kesini adalah butuh bantuan lo Zinta" sahut Zedric kembali sambil menatap dalam untuk mempertegas ucapannya.
__ADS_1
"Bantuan apa?" tanya Zinta padanya.
Zedric melirik sepeda Zedtwo juga baju perlindungan milik Zinta. Tak hanya itu saja, ternyata selama Zinta dalam keadaan kritis, Zedric juga membuat penelitian mengenai penemuan barunya yang tidak bisa lepas dari sepatu jet canggih.
Suasana di ruangan itu menjadi berantakan dengan seluruh gelas tabung reaksi yang pecah akibat pergerakan angin tersebut.
Zinta berusaha berjalan merangkak menuju kemudi layar monitor, walaupun sempat tidak berhasil ia akan tetap berjuang keras untuk membantu semua sahabatnya yang berada dalam bahaya.
Selamat datang ke ilmu yang mengatur segala hal di dunia ini. Mesin Z1 sudah mendarat di sebuah sekolah tempatnya belajar dengan dorongan hembusan angin yang menerpa.
Dengan tatapan yang tajam Zedric terlihat gagah saat mengenakan baju perlindungan ketika hendak keluar untuk mencari keberadaan ketiga sahabat Zinta yang kelihatannya masih terjebak didalam.
...****...
"Sampai kapan kita berada disini terus?" tanya Zevana.
"Entahlah mungkin sebentar lagi" jawab Zweta dengan tenang.
Benar saja apa yang diucapkan oleh Zweta barusan, perpustakaan yang mereka tempati untuk berlindung pun terangkat hingga ke akar terbawa oleh dahsyatnya pusaran angin. Mengubah bangunan besar dan yang tersisa hanyalah serpihan bangunan yang tak tersisa.
Wussh
"Zevana pegangan! " teriak Zweta di tengah suara angin yang kencang.
Mereka tidak bisa menghindar dengan lawan yang tentunya mempunyai kekuatan yang tidak seimbang dengannya. Mereka pun terhisap pada pusaran angin itu yang membawanya mendarat tepat di tembok depan ruang kelasnya.
"Zweta lo bisa naik ke tembok kan?" tanya Zevana sambil berusaha memanjat pada tumpuannya saat ini.
"Nggak tahu nih" jawab Zweta sambil menapak satu kakinya, namun malah ia hampir terpeleset.
"Zweta! " teriak Zevana dengan sigap meraih tangan sahabatnya hanya menopang pada satu tangan kirinya saja.
Mengingatkan kembali saat dirinya tidak bisa membantu Zinta keluar dari dalam bahaya pada saat itu.
Dalam keadaan itu mereka hanya bisa berharap pada bantuan Zinta juga Zedric yang hingga saat ini belum bisa dipastikan dapat menemukannya.
...Kenangan itu menyapa...
...Bagaimana kabarnya...
...Berharap sesuatu yang nyata...
__ADS_1
...Semoga ada jalannya...
* to be continued..