Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Sambutan


__ADS_3

"Dalam beberapa hari, akan ada pertemuan penting. Semoga dengan kedatangan Profesor Zedric kemari, beliau dapat membantu melengkapi fasilitas yang disediakan," Ujar Fariz tampak berpikir panjang.


"Ya kuharap begitu," Jawab Salman seraya mengangguk.


Tampak dari luar sana, salah satu peneliti memberi tahukan kabar seseorang yang ditunggu telah tiba.


"Terimakasih sudah memberitahuku, kau boleh meninggalkan ruangan ini," Ujar Fariz.


Setelah berjalan beberapa langkah, Fariz beserta jajarannya memberikan salam hormat pada tamu undangan.


"Selamat datang Prof, silahkan masuk. Ku harap kebahagiaan ini mengawali harimu," Ujarnya sambil tersenyum, dan keduanya terlihat memulai pembicaraan.


"Kau tahu,?" Zedric terperangah beberapa saat, lalu mulai tertawa.


"Ya, kau pasti mengira bahwa aku sedang bergurau kan?," dia berkata pada akhirnya.


"Sekarang kita sarapan dulu, lalu nanti kau ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu," Ujarnya.


"Tempat ini sangat berbeda, apa kau telah mengubahnya?," Zedric bertanya setelah memastikan makanan di piringnya telah habis.


"Kali ini dugaanmu benar, Prof" Sahutnya lalu tertawa terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Berikut adalah teknologi super yang menggunakan magnet serta tenaga arus listrik di dalamnya. Bagaimana menurutmu? Canggih kan? Setelah ini, ku harap kita bisa bekerja sama" Ujarnya semangat dan menjelaskan secara menyeluruh.


"Bekerja sama dalam hal apa,?" Zedric terlihat mempertanyakan hal itu.


"Tentu sebagai melengkapi pembaharuan fasilitas, Prof. Kau pasti tak bisa menolaknya," Terangnya dengan percaya diri.


Dalam perjalanan ke ruang penelitian, Zedric memperhatikan sederet prestasi yang tertera jelas di setiap dindingnya. Hingga ia melihat suatu foto kenangan dengan seseorang yang dikenalnya.


"Dia.." Gumam Zedric terperangah sesaat, lalu sesuatu menghentikannya berbicara kembali.


"Dia sangat cantik kan?," Fariz berkata seraya melempar senyum.


"Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentangnya. Saat mengerjakan penelitian lima tahun yang lalu, aku mengira akan mendapat hasil yang maksimal. Tapi keadaan berkata lain, aku dipertemukan dengan seorang gadis seusiaku atau bisa juga dia sedikit lebih muda. Mungkin sang pencipta menginginkan aku segera menikah, makanya langsung diberikan jodoh. Sekilas terdengar asing, tapi itu kenyataannya. Hingga aku ingin selalu menjaganya hingga saat ini," Kenangnya seraya tersenyum.


"Tentu ada. Butuh waktu untuknya bisa menenangkan kondisi dan pikiran," Sahutnya penuh harap.


Zedric hanya sekedar mengangguk dan selebihnya dia tidak bertanya lebih jauh lagi.


...****...


"Di luar sana masih belum tampak tanda-tanda peradaban," Ujar Zweta setelah mesin Z1 berhasil mendarat di tempat tersebut.

__ADS_1


"Apa benar tempat ini yang kau maksud?," Zaskia menanggapinya heran.


"Kita sudah sampai," dia berkata untuk memastikannya.


"Aku tak tahu apa langkah selanjutnya, tapi yang pasti kita akan butuh perbekalan. Mungkin dengan cara ini salah satunya," Ujar Zaskia sambil membawa perlengkapan seperlunya ke dalam ransel.


"Apa yang kau lakukan?," Tanya Zweta.


"Sekedar bersiap-siap keluar. Bukankah tujuan kita untuk menyelamatkan Zinta? Lantas mengapa kau masih bertanya?," Jawab Zaskia sedikit ketus padanya.


"Kau tak ingin penyelamatan kita sia-sia kan?," Sahut Zweta.


"Maksudnya?," Zaskia mengerutkan dahi.


"Gunakan pakaian ini, aku menemukannya di sebuah lemari penyimpanan Zinta. Setelah ku telusuri, buku-buku pengetahuan telah memberitahuku," Ujarnya sambil membuka pintu mesin Z1.


"Kedengarannya bagus, tapi terimakasih" Jawab Zaskia dan mengikuti arahannya.


Mereka berangkat dalam perjalanan ini tanpa tahu apa yang menunggu di tempat tujuan.


"Apakah ketua menambahkan peneliti baru? Kurasa aku salah melihatnya. Kabut ini seketika mengaburkan pandanganku," Ucapnya.

__ADS_1


* to be continued..


__ADS_2