
Menjelang malam yang semakin larut, Zedric masih menjaganya dalam dekapan, hingga ia pun terlelap. Sekilas bayangan muncul kembali dan menarik Zinta untuk terhempas bersamanya. Ia segera menangkis udara kosong itu, agar Zinta tetap berada disisinya. Namun sesuatu hal mengatakan, jika keduanya hanya bisa saling bertatap dari kejauhan, dan mengingat hal apapun tentangnya.
"Apakah ini nyata?" Tanya Zedric bermonolog.
Setelah tersadar penuh, Zedric merasa kerongkongannya kering serta beranjak keluar kamar. Segera diraihnya gelas yang berisikan air mineral dan meneguknya dengan kesegaran.
"Kayaknya Zaskia belum tahu masalah Adnan. Dia disebut penyebab kecelakaan mesin yang melibatkan Zinta. Apa Zedric juga masih kepikiran ucapan gue tadi siang ya?" Zweta bergumam.
Lamunan itu kini membuyar, lantaran suara hentakan kaki menghampirinya.
"Lagi mikirin apaan sih? Serius banget. Oh iya barusan gue nggak sengaja lihat kertas ini, coba lihat deh" Ujar Zaskia seraya memberikan lembaran itu.
"Dapat darimana?" Tanya Zweta penasaran.
"Rak penelitian" Sahut Zaskia.
Zweta menghentikan segala aktivitas dan berfokus pada lembaran kertas yang diterimanya, segeralah ia menyusuri rak penelitian tersebut.
"Zedric kemana sih? Lama banget dari tadi nggak muncul" Zaskia menggerutu sembari melangkahkan kaki keluar dan hendak membuka pintu kamar.
Mata Zweta memicing curiga, "Kalau nggak salah, barusan gue lihat Zaskia masuk ke kamarnya Zinta deh, ada apa ya?".
Mereka masih berkutat dengan segala urusannya. Zaskia hendak mengambil air seember lalu berniat membuyarkan ke arah Zedric berada. Namun ia malah disergap oleh sahabatnya.
"Jangan, udah biarin aja maunya dia gimana" Sergah Zweta.
"Tapi dia udah kelewat batas, gue juga mau istirahat. Masih ada hal penting lain yang bisa dikerjakan" Sahutnya gemas.
"Barusan lo bilang mau istirahat kan? Sana tinggalin aja, biar gue yang ambil alih pusat mesinnya" Ucap Zweta menasihatinya.
"Kalau tahu gini ceritanya, gue nggak bakalan mau ngajak dia gabung" Zaskia menambahkan dengan nada mencemooh.
Celetukan Zaskia membuat Zweta seakan harus mengawasi sekitarnya.
Drttt... Suara getaran ponselnya mengirimkan pesan WhatsApp pada Zaskia.
π² π "Jaga kesehatan dan baik-baik disana ya" Ucap Adnan.
Seketika senyumnya merekah, setelah mendapatkan pesan dari kekasihnya.
"Gue udah nggak mood buat istirahat" Ucap Zaskia sembari berjalan beriringan dengan sahabatnya menuju pusat mesin.
Zweta merespon sambil tergelak tawa pelan, agar Zaskia pun tak mengusiknya kembali.
Tak lama setelahnya kedua perempuan itu berdiri tertegun, setelah melihat Zedric sedang berada di depan layar monitor awak mesin.
"Sejak kapan dia disana?" Zaskia berbisik dan menatapnya curiga.
"Entahlah, nggak penting" Jawab Zweta dengan acuh.
__ADS_1
"Oke, anggap aja nggak pernah tahu" Zaskia kembali berbisik.
"Bukankah seharusnya gue tetap tinggal di dalam mimpinya?" Zedric kembali bermonolog seraya mentertawakan sepi.
Sempat terlintas dalam benaknya, ingin menyampaikan berita tersebut pada mereka yang senantiasa menunggu kehadirannya.
"Ah iya mereka pada kemana nih? Tumben nggak ada suara radio" Zedric bergumam seraya mengedarkan pandangannya.
Pada suatu titik koordinat, Zedric masih terus memantaunya. Hingga ada beberapa sumber terkunci dengan sesuatu yang lain datang menghadang.
Ia segera menangkapnya kembali, namun tiba-tiba pergerakan mesin melesat semakin cepat.
"Semuanya pegangan!" Pekiknya memberitahu.
"Apa ini yang dilakukan Adnan waktu itu? Kejadiannya seperti dejavu" Gumamnya dalam hati.
"Argh!" Zweta sedang berusaha berpegangan pada tiang besi.
Zaskia mencoba meraih ponselnya yang tertinggal. Namun ia malah terhempas ke belakang dengan lengannya yang terkatung-katung. Ia menjerit ketakutan dan dengan apapun caranya bahkan ditempuhnya.
"Zaskia!" Zweta terlihat sedang meneriakkan namanya.
"Zed sekarang kita satu tim. Apapun yang terjadi, harus tetap ada kerjasamanya" Ujar Zweta menegaskan.
Ia segera meraih lengan Zweta agar menempatkan posisi yang sedang disinggahinya.
"Oke" Zweta menjawab singkat seraya menganggukkan kepalanya.
Zedric mengejarnya hingga tergelincir dan kedua kakinya menghadap keluar pintu mesin.
"Bukankah kita masih di dalam mimpi yang sama? Setelah kejadian ini, dipastikan gue akan jemput lo balik Zin. Semoga nggak akan ada kesan, yang berpaling ke lain hati lagi" Gumamnya.
...Menyembunyikan rasa tak bertepi...
...Tersirat kata penuh arti...
...Meratapi diri yang menjiwai...
...Semua tak terkikis oleh hari...
...Tertulis sajak ini...
...Hanya untuk sandaran hati...
...Yang selalu dinanti...
πΈπΈπΈπΈ
Rasa kesalnya telah berganti dengan setumpuk kebingungan. Setelah sikap yang baru saja ditunjukkan oleh Zedric, menjadikan anggapan jika dia masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.
__ADS_1
"Apapun masalahnya gue yakin kalau, lo bisa mengatasinya dengan baik. Gue harap semua ketakutan ini segera berakhir, dan jangan terulang lagi" Ucap Zweta bermonolog.
...****...
Jauh dari setiap sudut pembicaraan ada beberapa tim medis yang sedang menangani. Mereka telah dikejutkan dengan respon pasien yang hingga saat ini belum ada kemajuannya.
"Gimana kondisinya?" Tanya Fariz khawatir.
Ia bertanya setelah pintunya terbuka, dan kedua rekannya keluar dari ruangan tersebut.
"Biar gue aja yang jelasin, soalnya jam istirahat kita bisa bergantian" Salman tengah membujuk Sheila agar mau mengalah.
"Oke, gue istirahat duluan ya" Ucap Sheila sembari berjalan meninggalkan tempat itu.
"Jadi gini Far, tadi tuh sebenarnya sempat ada respon membaik. Tapi entah kenapa, tiba-tiba jadi nggak ada kemajuan. Gimana ya gue jelasinnya? Bingung juga soalnya" Terang Salman.
"Boleh gue lihat ke dalam?" Tanya Fariz.
"Masuk aja" Jawab Salman.
Fariz segera menyusulnya ke dalam ruangan untuk memastikan kondisinya.
"Izin ya" Pintanya.
"Mau kemana pakai acara izin segala?" Sahutnya terperangah setelah mendengar ucapannya.
"Maksudnya, gue izin membawa gadis itu ke ruang laboratorium" Jawab Fariz.
"Jadi lo mau jadikan dia sumber penelitian?" Sahut Salman tak percaya.
"Tepat sekali. Siapa tahu ini masih ada sangkut-pautnya" Sahut Fariz seraya memindahkan brankar ke ruangannya.
"Oh yaudah. Malahan gue nggak ada pikiran ke arah situ Far" Ucapnya mengiyakan.
Setelah menunggu beberapa waktu, Fariz melakukan percobaan melalui penemuannya.
"Semoga masih bisa digunakan" Ucapnya seraya bertindak.
Mengetahui bahwa dirinya dan gadis itu hanya memiliki sisa waktu beberapa jam bersama, rasanya sangat berat jika disandingkan dengan apapun. Lantaran Fariz tak kunjung mendapatkan informasi, boleh jadi masih terikat perihal penelitian yang dapat mempengaruhi kelulusannya.
"Akhirnya dapat juga data identitasnya" Ucap Fariz terperangah setelah membacanya dengan serius.
"Jadi gadis itu namanya Zinta. Lebih mengejutkannya lagi, dia juga meraih gelar Profesor. Wah tak disangka ternyata udah menyandang nama besarnya. Berarti bisa dibilang, usia kita nggak terpaut jauh. Tapi tetap aja masih terlihat seumuran" Ungkap Fariz seraya menyentuh telapak tangan perempuan itu.
Fariz hanya ingin memastikan, jika kondisinya sudah mulai membaik. Lantaran suhu tubuhnya sudah kembali normal.
Belum tahu langkah apa yang akan dihadapi mereka selanjutnya.
* to be continued...
__ADS_1