Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Ekstra part 3


__ADS_3

"Tolong antar saya ke rumahnya Zinta ya pak" ucap Zaskia memberitahu pada supir pribadinya.


Zaskia terlihat sudah bersiap diri memasuki mobilnya sebagai pengantar kendaraan. Karena waktu tempuh lumayan jauh, ia menyempatkan untuk tidur sebentar agar waktu tidak terasa dilaluinya.


"Jujur gue bosan banget di rumah. Semoga hari ini jadi hal yang menyenangkan buat gue ketika bertemu Zweta di laboratorium. Mungkin gue mau tidur buat mempercepat waktu" ucap Zaskia seraya memasang alarm di ponselnya.


Saat dalam perjalanannya, supir pribadi Zaskia membunyikan klakson dengan nyaring, karena hampir saja bagian depan mobil terbentur mobil lainnya yang berhenti secara mendadak di hadapannya.


Tin..


Zaskia yang tertidur pulas pun ikut terkejut mendengar suara nyaring tersebut.


"Duh ngagetin aja sih pak" ujar Zaskia terbangun dari tidurnya dengan detak jantung yang berdetak cepat menjadi respon terkejut mendengar sesuatu.


"Maaf ya non, ini ada mobil berhenti mendadak soalnya" ujar Pak Rohim memberitahu pada majikannya.


Riuh keramaian di pagi hari menjadi pusat perhatian diantara beberapa orang yang melintas termasuk Zaskia melihat dari dalam kaca mobilnya.


"Ada apa sih rame banget? bikin penasaran aja" ujar Zaskia dengan mencari celah yang tepat untuk melihat situasi yang terjadi.


"Sebentar ya pak, saya mau keluar sebentar" ucap Zaskia membuka pintu mobilnya.


Melindungi diri dari kerumunan nyawa yang saling berhimpitan menutupi jalan keluar. Suara ambulan pun turut serta dalam riuhnya keramaian disana.


"Tolong bantu anak saya" ucap seorang wanita yang terlihat masih muda dengan tatanan rambut pendek sebahu persis seperti sahabatnya.


Tak lama kemudian keluarlah beberapa orang dari dalam rumah menuju mobil ambulans membawa pasien menggunakan brankar.


Suara tangisan yang terdengar sedu dapat menghanyutkan bagi sebagian orang yang mengerti betapa sedihnya melihat anak semata wayangnya dalam kondisi yang tergolong memprihatinkan secara tiba-tiba.


"Zevana" ucap Zaskia menatap penuh kesedihan yang menjadi pusat perhatiannya.


Ia segera berlari dengan derai air mata yang membasahi pipinya, menghampiri dan tetap berbicara menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.


"Lo kenapa bisa kaya gini Zev? jawab jujur ke gue" ucap Zaskia memberhentikan petugas yang membawa Zevana.


"Maaf ini darurat, tolong jangan halangi jalan kami" ujar petugas kesehatan.

__ADS_1


Zaskia terlihat dipisahkan dengan keadaan oleh beberapa orang yang mengerumuninya saat ini.


Setelah melihat secara dekat, rupanya wanita yang menangis itu adalah orangtua Zevana.


Ketika Zaskia ingin menggali informasi lebih lanjut pada pihak keluarganya, namun semua itu tidak berjalan lancar sesuai keinginannya. Ia mendengar secara langsung melalui sebuah percakapan telepon dengan pengeras suara, tanpa dirinya bertanya terlebih dahulu pada beliau.


πŸ“² "Halo pi, Vana masuk rumah sakit pagi ini" ujar Mita pada suaminya.


πŸ“² "Kenapa mendadak banget mi?" tanya Fahri saat mengemudi mobil di perjalanan menuju rumahnya.


πŸ“² "Nggak tahu. Terakhir mami ketemu Vana itu semalam, dia bilang mau tidur lebih awal katanya mau nenangin pikirannya, mau cari tempat yang nggak bisa ditemukan orang. Dan paginya udah nggak ada" jawab Mita menjelaskan apa yang dirasakannya.


πŸ“² "Astaghfirullah mami kalau ngomong yang bener dong. Maksudnya apa ko paginya udah nggak ada sih? papi sekarang lagi di jalan nih mau ke rumah jemput mami" jawab Fahri berusaha tenang dengan kepala dingin menghadapi persoalan terhadap Zevana.


Lalu teleponnya dimatikan oleh Mita sambil menunggu kedatangan Fahri menuju rumah sakit. Selang beberapa menit, mobil Fahri sudah menjemput Mita yang sudah bersiap didepan rumahnya.


"Gue harus bertindak cepat nih" gumam Zaskia segera berlari menuju mobilnya yang sedang menunggunya.


"Tolong ikuti mobil yang berwarna hitam di depan itu ya pak Rohim" ujar Zaskia sambil menunjuk kearah yang dimaksud.


Anggukkan kepala supir pribadinya menjadi pertanda mereka siap melaju mengikuti mobil yang menjadi petunjuk Zaskia saat ini.


"Nggak bisa dihubungi nomernya lagi" gerutu Zaskia merasa hatinya menjadi semakin gusar setelah belum mendapatkan jawaban kepastian.


...****...


Benar saja nomer tujuannya tidak bisa dihubungi, lantaran Zweta sedang menelpon seseorang secara bersamaan.


"Plis angkat dong teleponnya" ucap Zweta menunggu kabar dari Zedric.


Dilain tempat, Zedric tengah menyibukkan diri dengan segala aktivitasnya mengenai bermacam-macam penelitian. Setelah selesai pembelajaran, ia melihat ponselnya berdering dan membaca kontak nama seorang sahabat lama.


"Zweta? ada apa ya dia nelpon? ohiya gue kan harus pegang ucapan sendiri, kalo gue mesti ketemu mereka lagi setelah dapat gelar Profesor" gumam Zedric didalam hatinya.


Hampir saja Zedric mengangkat ponselnya, setelah mengingat kembali ucapannya saat dahulu, ia menjadi enggan menerima telepon dari keempat sahabat tersebut.


Walaupun keinginannya yang ingin selalu menjauh, ia akan tetap bertemu kembali pada salah satu diantara mereka yang menekuni di bidang akademik lainnya, siapa lagi kalau bukan Zinta.

__ADS_1


"Harus menunggu berapa tahun lagi dapat gelar itu?" tanya Zedric seorang diri.


"Gelar Profesor kah?" sahut seseorang dari arah belakang posisinya berada.


"Tepat sekali. Eh kenapa lo bisa tahu?" tanya Zedric sambil menoleh ke arah belakang, suara yang terdengar menjawab pertanyaannya.


"Zinta lo ada disini?" ucap Zedric dengan ekspresi yang mengejutkan.


"Pertemuan yang nggak disangka ya" jawab Zinta menyesuaikan keadaan.


"Semuanya bisa terjadi dengan waktu yang singkat ko" ujar Zinta padanya.


"Maksudnya?" tanya Zedric sambil mengernyitkan dahinya.


Disela obrolan mereka berdua yang semakin akrab, tiba-tiba ponsel Zinta berdering sempat mengganggu pembicaraan yang ingin disampaikan.


πŸ“² "Halo selamat pagi. Baik Prof saya segera kesana secepatnya" ucap Zinta setelah menjawab panggilan dari ponselnya.


Kemudian ponsel tersebut ditutup kembali olehnya. Zedric hanya bisa mendengar perkataan dari pihak Zinta saja.


"Siapa yang nelpon barusan?" tanya Zedric penasaran.


"Lo bawa motor nggak? ini darurat, tolong antar gue ke rumah sakit sekarang juga" jawab Zinta berlari segera meninggalkan tempat penelitian, karena memang sudah waktunya jam pelajaran telah usai.


Tidak menunggu lama, Zedric telah mempersiapkan sepeda motornya untuk segera mengantar Zinta ke tempat tujuannya.


"Gue nggak pernah lihat Zinta panik begini" gumam Zedric didalam hatinya.


"Pake helmnya dulu" ujar Zedric memberi tahu padanya.


"Susah banget nggak bisa dibuka pengaitnya" jawab Zinta dengan terburu-buru.


Zedric dengan sigap memasangkan helm motor pada kepala Zinta sambil tertawa kecil.


"Pegangan ya" ujar Zedric.


Di tengah perjalanan, laju kendaraan Zedric mencapai jarak tempuh yang semakin cepat dari biasanya. Ia meraih lengan Zinta agar merangkulnya dari belakang.

__ADS_1


"Kita akan bergerak cepat seperti menggunakan sepatu jet dalam penelitian" ucap Zedric meniatkan pembicaraan.


"Ternyata semua itu hanya mimpi yang nggak akan pernah terjadi. Buktinya Zedric nggak ada disini. Sahabat itu benar" ucap Zevana dengan termenung, karena dirinya benar tersesat dalam mimpinya.


__ADS_2