Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Feeling Zweta


__ADS_3

Merasa semua ucapannya tidak berarti di mata Zinta, ia memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Ia terlihat sudah dua kali balikan menghampiri Zinta. Namun bedanya kali ini ia tidak menegurnya.


Berjalan ke arah luar rumah untuk menggunakan sepeda motor yang ia pakai di time travel. Tak hanya itu saja ia pun melihat sebuah bola basket yang berpapasan dengannya. Ia membaca tulisan sebuah nama pada letak bola tersebut.


"Zevana? bola ini kan yang udah kena kepala gue waktu itu" gumam Zedric ketika membaca sebuah nama pada sebuah bola basket.


"Mungkin dia lupa bawa kali. Kebetulan banget gue mau keluar rumah pakai motor. Gue samperin aja deh ke sekolah" ucap Zedric sambil menyalakan mesin sepeda motor.


BRUM


"Suara motor siapa sih? ganggu aja" ucap Zinta yang merasa telinganya terganggu mendengar suara berisik.


Merasa sadar dengan keadaan yang sudah terlihat aman, ia melanjutkan kembali laporan penelitiannya.


"Sepertinya akan berhasil. Semoga aja sesuai dengan apa yang gue inginkan" gumam Zinta.


Ia sedang menggunakan beberapa tabung reaksi dengan beberapa isian yang rencananya akan dikombinasikan dengan penemuannya yang lain bernama ZANN.


...****...


Tiba di sekolah SMAN 1 Mars. Zedric terlihat memarkirkan kendaraannya. Sekolah tersebut bebas dimasuki oleh orang umum untuk singgah sebentar sebelum jam mulai pelajaran dimulai.


Ia memberanikan diri untuk tetap masuk ke dalam halaman sekolah. Tepatnya di lapangan olahraga yaitu sebuah tempat latihan Zevana bermain bola basket seperti biasanya.


Dug.. Dug.. Dug..


Terdengar suara bola basket yang sedang Zedric hentakkan ke lantai keramik berwarna coklat itu. Namun bola itu seketika berpindah tangan pada siswa lain yang sedang melewatinya.


"Hei itu bola gue. Ayo cepat kembalikan" ujar Zedric yang mencoba mengambil alih kembali bola itu dengan berlari.


Bola basket itu malah dilemparkan kepada Zevana dan kedua sahabatnya yang sedang melintas.


Wussh


"Hah itu kan mereka" gumam Zedric sambil berlarian.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang kelasnya. Namun langkah terhenti lantaran Zevana melihat ada sebuah bola basket yang sedang melesat cepat ke arah kedua sahabatnya.


"Awas!" teriak Zevana memberitahu bahwa ada sesuatu yang kiranya berbahaya.


Aahhhh...


Kedua sahabatnya pun berteriak histeris karena terkejut mendengar suara himbauan Zevana yang harus menghindar.


Ia pun segera bergegas menangkap bolanya. Kemudian terdengar suara yang lainnya seperti ini.


Dug..

__ADS_1


Bunyi suara pantulan bola basket yang mendarat tepat diantara kedua tangannya tersebut. Ia berhasil melindungi diri juga sekitarnya. Pandangannya kini berpusat pada bola itu. Berusaha mengingat sesuatu yang tidak asing tapi lupa bagaimana cara menjelaskannya.


"Hei ayo kembalikan bolanya" ucap siswa yang sedang bermain di lapangan.


Zevana tidak menghiraukan suara itu. Hingga ia tersadar ketika melihat Zedric datang menghampirinya.


"Lo ngagetin gue aja sih Zev" ucap Zweta sambil menepuk bahu Zevana.


Tiba-tiba datanglah seorang pria menghampirinya.


"Zevana syukurlah lo nggak kena bolanya barusan. Gue sengaja datang kesini cuma buat ngasih tau kalau bola basket punya lo ketinggalan di rumah Zinta" ucap Zedric dengan nafas yang tidak beraturan.


"Zedric? lo ngapain disini? " tanya Zweta padanya dengan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Lo nggak denger barusan kalo dia kesini cuma mau nganterin bola basket punya Zevana" sahut Zaskia dengan cepat.


Zweta pun mendengarkan ucapan Zaskia dengan serius.


"Jadi begitu ya" jawab Zweta dengan singkat.


Teng..


"Udah yuk kita masuk kelas. Tinggalin aja Zedric sendirian disini" pinta Zaskia sambil menarik lengan Zweta.


"Zevana ayo" ucap Zweta dengan berbicara pelan.


Merasa aneh dengan sikap yang diperlihatkan oleh Zevana barusan. Zweta menjadi khawatir dengannya karena mengingat ia pernah berkelahi dengan Zedric pada waktu itu.


Akhirnya mereka berdua segera meninggalkan Zevana dan Zedric di lapangan, padahal bel tanda masuk kelas sudah terdengar nyaring di seluruh penjuru sekolah.


"Yaudah kalau gitu gue balik duluan ya" ucap Zedric sambil berbalik arah meninggalkannya sendirian.


Zevana seketika menitikkan air mata ketika melihat bola basket dihadapannya, hingga ia mengira bahwa Zedric adalah Adnan. Ia berjalan mengikutinya dari belakang serta meraih tangan Zedric yang sedang berjalan.


"Jangan pergi Nan" ucap Zevana dengan berlinangan air mata.


Langkah kaki Zedric pun ikut berhenti. Ia pun membalikkan badannya kearah Zevana. Merasa canggung dengan sikap yang dilakukan oleh Zevana barusan.


"Nan? gue bukan Adnan." ucap Zedric sambil melepaskan tangannya.


Namun Zevana tetap saja menangis dihadapannya dengan tersedu-sedu.


"Ohiya maaf" jawab Zevana yang segera pergi begitu saja meninggalkan Zedric di lapangan bersama bola basketnya.


"Hei ini ketinggalan. Percuma dong gue kesini" gerutu Zedric.


Ia kembali ke tempat parkiran hanya untuk menunggu mereka sampai pulang sekolah.

__ADS_1


"Adnan ternyata lo terlalu berarti banget ya buat mereka" gumam Zedric dengan tertawa kecil sambil memeluk bola basket yang ia bawa.


Sesampainya di ruang kelas, Zevana terlihat mengusap air matanya. Ia duduk di bangkunya bersama dengan kedua sahabatnya yang melakukan aktivitas sekolah seperti biasanya.


"Zev lo kenapa ko nangis gitu?" tanya Zweta yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.


"Adnan" sahut Zevana yang berusaha menenangkan hatinya.


Mendengar ucapan dari Zevana, mereka berdua menjadi saling pandang. Mungkin menurutnya, Zevana belum mengetahui perihal Adnan yang sudah tidak ada kabarnya.


Zaskia enggan menjawabnya. Tidak mau berurusan lagi dengan kesedihan yang mendalam.


"Tadi dibawah gue ketemu dia. Tapi dia bilang bukan Adnan" jawab Zevana


"Benarkah? ah mungkin Zevana salah lihat" batin Zaskia merajuk.


Teng..


Suara bel berbunyi pertanda jam pelajaran telah usai. Melihat awan yang tiba-tiba saja berubah menjadi gelap gulita.


"Duh gelap banget. Kayaknya bakalan hujan deras nih" ucap Zaskia.


Zweta tidak memberi tahu pada mereka, jika dirinya pergi ke perpustakaan sekolah.


Tap..


Suara langkah kaki yang sedang berlari secara terburu-buru. Akhirnya Zweta berhasil sampai dengan tujuannya. Jari-jari lihainya sangat bisa diandalkan untuk mencari buku sains dari tumpukan yang berjajar pada Rak-rak buku di ruangan itu.


...Angin menderu itu masih terdengar samar...


...Rintik hujan pun datang bersama kawan...


...Walau terkadang sedikit hambar...


...Pasti akan ada suatu Kejelasan...


🌸🌸🌸


Ia terlihat sedang menadahkan tangan dibawah hujan rintik itu. Namun yang ia dapati bukanlah setetes air yang turun, melainkan sebuah partikel kecil seperti magnet.


"Apa ini?" gumam Zedric dengan memperjelas penglihatannya.


Ia kembali ke dalam hanya untuk datang ke sebuah perpustakaan sekolah. Mencari buku tentang ilmu pengetahuan sains persis yang iya dapatkan benda itu jatuh bersama rintik hujan yang tidak biasanya.


"Gue harus ke perpustakaan sekarang" ucap Zedric yang segera bergegas pergi menuju tempat tujuannya.


* to be continued..

__ADS_1


__ADS_2