Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Tak Terduga


__ADS_3

Walaupun keadaan mesin Z1 tetap bergerak maju sebagaimana fungsinya, secara mengejutkan transisi ke alam liar terjadi dengan cepat. Satu diantara mereka sedang berusaha melawannya. Melewati terpaan angin kencang, pohon berkabut disertai dengan semak belukar.


"Apakah sebelumnya Zinta mengalami hal serupa? Jika benar, berarti kita sedang berhadapan dengan fase gravitasi bumi" Ujar Zweta seraya memusatkan pencarian pada layar monitor.


"Gue rasa bukan" Pekik Zedric setelah melihat dari dekat melalui pintu mesin yang terbuka.


Ia masih disana, sebab separuh tubuhnya menghadap keluar pintu mesin Z1.


"Maksudnya?" Zweta bertanya seraya menoleh dan terperangah sekejap, ketika melihat pemandangan yang menakutkan.


Zedric lekas beranjak dan meraba garis dindingnya, dimana ada sebuah bongkahan batu yang melesat menyerupai badai salju.


"Awas! Cepat menghindar!" Suara pekikan Zweta yang melengking itu, mengarah pada lawan bicaranya.


Zedric menoleh setelah berhasil menyelamatkan diri.


"Syukurlah keadaan sedikit membaik. Seharusnya lo lebih hati-hati lagi" Zweta berbicara dengan memperlihatkan jemari yang bergetar.


"Makasih ya, lo masih sempat mengkhawatirkan gue. Setelah kemarin kita sempat berdebat, sekalian gue mau minta maaf. Semoga lo bisa menerimanya" Ujar Zedric tersenyum seraya mengulurkan tangan kearahnya.


"Minta maaf itu mudah, gue cuma ingin lihat pembuktian dari ucapan lo. Supaya semuanya bisa dikatakan benar" Jawab Zweta menegaskan.


Zedric hanya bisa menyaksikan permintaan maafnya yang tak berbalas dengan ucapan seharusnya. Setidaknya ia bisa memilah perkataan mana yang tepat, jika berhadapan dengan karakter Zweta yang menjadi lawan bicaranya.


"Oh iya soal bongkahan batu itu, gue sempat teringat dengan partikel magnet. Lo masih ingat kan?" Zweta menjawab pertanyaan baru.


"Lo sempat berpikir, jika yang barusan lewat itu partikel magnet?" Sahutnya seraya mencemooh.


"Menurut feeling gue sih gitu" Zweta menjawabnya dengan percaya diri.


"Malah gue sempat berpikir setelah serangan terakhir itu, bukankah semua penelitian baru menghilang tanpa jejak? Padahal masih ada kaitannya dengan pusaran angin. Jadi kesimpulannya, mungkin saja batuan itu termasuk rangkaian mimpi Zinta" Zedric segera menjawab pertanyaannya.


Zweta menanggapinya dengan santai, tak mau terlarut dalam pembicaraan yang terasa kaku. Akhirnya ia memutuskan menanyakan keadaan sahabatnya.


"Zas gimana keadaan lo? Sini biar gue bantu jalan" Ujar Zweta khawatir.


Namun ia hanya bisa merespon melalui bahasa tubuh yang mengartikan, bahwa ia tidak baik-baik saja.


"Kalian pergi aja duluan, biar gue tetap tinggal disini sendirian" Ucap Zaskia dengan pasrah.


"Lo bicara apaan sih barusan? Lagi ngelantur ya?" Sahut Zweta.


"Sepertinya punggungnya remang, dan tumpuan kakinya nggak kuat bangkit" Sahut Zedric memberitahu.


"Kalau gitu, lo aja sendirian yang kesana Zed" Pinta Zweta.

__ADS_1


"Apa? Sendirian? Bukannya barusan lo udah lihat kejadiannya? Gue pasti jemput Zinta, tapi nggak kaya gini caranya" Zedric menjawabnya tak terima.


Zedric hendak menutup kembali pintunya, namun sesuatu yang lain datang menghampiri.


BRUKK


Ia menghantam tembok dengan keras, serta terpelanting keluar melewati celah pintu yang sedikit terbuka. Sebagian jendelanya mengalami retak akibat hantaman bebatuan yang bertubi-tubi.


"Tolong jangan salah mengerti, cobalah pahami sejenak sudut pandang ini!" Pekikan Zweta mengarah pada lelaki itu.


"Zweta gue takut banget. Apakah kita masih ada harapan untuk bertahan hidup?" Ujar Zaskia terperangah setelah melihat batuan itu menerjang mesinnya.


Buggghh


Satu persatu diantara mereka menjalani fase yang sama, setelah penelitian mimpi ditemukan. Dimulai dari terjatuh dari ketinggian serta harapan pada seseorang.


Walaupun demikian, akan ada banyak cara untuk menanganinya.


"Kita akan cari tahu akar permasalahannya." Jawab Zweta sembari menyusun idenya.


Padahal Zweta baru saja berucap, sesaat kemudian keadaan tak terduga hadir beriringan. Kedua perempuan itu terpisah dengan rekannya, dan tetap melanjutkan perjalanan kembali.


"Jadi ini rasanya terhempas dari ketinggian? Bahkan tanpa perlindungan apapun. Apakah nantinya gue akan bernasib sama denganmu Zinta?" Zedric bergumam sambil memejamkan kedua matanya.


...🌸🌸🌸🌸...


"Apa yang kamu rasakan saat ini? Masih terasa dingin kah? Sepertinya bantuan selimut tebal, sebentar lagi akan datang" Ucap Fariz terhadapnya.


"Dokter Salman bisa tolong jaga sebentar pasiennya? Soalnya gue mau ambil sesuatu yang menghangatkan ke dalam ruangan" Ujar Fariz sembari pergi.


"Eh nggak usah, biar gue aja yang ambil. Lo tetap disini temani dia" Jawab Dokter Salman.


"Oke makasih ya" Sahutnya.


"Sembari menunggu selimutnya datang, disarankan untuk minum air putih. Setidaknya dua liter per hari, penting untuk tidak melupakannya" Ucap Fariz seraya tersenyum.


"Tunggu, suara siapa ini? Sama sekali tidak mengenalnya" Jawab Zinta sambil menyipitkan matanya.


Zinta bersikap begitu lantaran tak mampu melihat dengan pandangan mata yang buram.


"Sinarnya sangat pekat ya? Aku akan memberikan bantuan, agar terhindar yang dimaksud barusan" Ujar Fariz seraya menutup kembali tirai jendelanya.


"Suaranya menenangkan, rasanya asyik juga bila bicara dengannya. Mungkin orang itu bukanlah lelaki yang.." Gumamnya seraya menerka.


"Bisakah ceritakan kronologisnya kembali? Pastinya sesaat sebelum kamu tertimbun salju. Oh iya perkenalkan namaku Fariz, seorang ilmuwan yang sedang ditugaskan meneliti data apapun demi kelulusannya" Fariz berbicara sambil tertawa geli.

__ADS_1


Setelah lama mempertimbangkan, lalu pada akhirnya ia mulai menceritakan sebagaimana serangan itu muncul kembali.


"Ada beberapa fase yang diterjemahkan, melalui mimpi buruk di suatu malam" Ucap Zinta seraya termenung.


Zinta terus menerus bicara berulang, setiap kali ingatannya selalu mengacu pada kekecewaan.


"Jadi begitu ceritanya" Ucap Fariz setelah menyimak dan mendengarkan keluhan hati pasiennya.


"Persoalan yang cukup berat" Fariz bergumam sambil sesekali memperhatikannya.


"Tidakkah melihat kacamata yang aku kenakan?" Tanya Zinta menatapnya dalam keadaan buram.


"Lagi butuh kacamata ya? Minus berapa? Siapa tahu sesuai" Jawab Fariz seraya memberikan benda itu kepadanya.


Setelah diamatinya dengan cermat, ternyata benda itu bukanlah miliknya yang biasa digunakannya berkegiatan.


"Ini bukan kacamataku. Mungkin bisa jadi tertinggal disana" Ucap Zinta sambil menitikkan buliran beningnya.


Dengan keadaan gugup, rekan perempuannya sedang memantau mereka melalui celah jendela yang terbuka.


"Mereka lagi bicara apa ya? Kenapa tatapan keduanya sangat dalam?" Gumamnya penasaran.


Namun seseorang datang mengganggunya dengan cara memberikan mainan cicak yang terbuat dari bahan karet.


"Apa tuh. Wah cicak! Ada cicak!" Pekiknya menggeliat hingga terjatuh.


Bruk


"Kalian lagi menguping ya?" Hentak Fariz pada kedua rekannya.


"Sorry Far, gue nggak sengaja. Cuma kebetulan aja lewat sini, beneran deh" Ucap Dokter Sheila sembari pergi dari ruangan itu.


Sedangkan Dokter Sheila sebelum benar-benar pergi, ia tetap memperhatikan keduanya.


"Barusan yang datang itu siapa Far?" Tanya Zinta dengan sungguh.


"Apa dia nyebut namaku ya?" Gumam Fariz seraya mengernyitkan dahinya.


"Mereka merupakan Dokter yang hebat. Keduanya menangani disaat kamu terkena paparan dingin ekstrem hingga tak sadarkan diri" Jawab Fariz seraya memasangkan kacamata padanya.


Tak peduli dengan pemikiran mereka, Fariz menatapnya dan dia pun menatapnya kembali. Sebelum diantaranya ada yang mengalihkan pandangan.


"Gimana udah jelas belum penglihatannya?" Tanya Fariz masih menatapnya tercengang, sebelum tertawa pelan.


"Perlakuannya mengingatkan kembali pada seseorang. Apa dia masih peduli dengan perasaannya? Dimana dia sekarang?" Zinta kembali bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


Zinta menoleh dan melihat ke arah halaman luar, tetapi tidak melihat apapun. Apakah ia mulai tersadar, jika hanya sebatas membayangkannya? Setiap kali ia berkedip dengan kelopak mata yang berat, pemandangannya berubah kemudian.


__ADS_2