
Zevana terlihat termenung memikirkan sesuatu yang sekilas hampir mengingatnya. Merasa penasaran pada mimpinya sewaktu ia mengalami benturan di kepalanya.
"Mimpi itu sangat jelas kalau gue ketemu Adnan. Bola basket ini kembali tapi tidak bersama orang yang memberi" gumam Zevana.
Melihat cuaca yang gelap itu seolah mendukungnya untuk menitikkan air mata. Begitupun dengan Zaskia ia juga masih memikirkan hal yang sama.
"Mimpi itu kenapa seperti nyata ya?" batin Zaskia sedang berdiskusi seorang diri.
Mereka berdua sedang berdiri di depan ruang kelasnya yang berada di lantai atas. Melihat ke arah langit yang semakin gelap. Masih belum menyadari ada sesuatu hal yang berbeda.
Zedric yang sedang berlarian melewati lapangan itu ternyata tidak sengaja tertangkap oleh penglihatan Zevana yang kebetulan sedang melihat pemandangan.
Menatap lekat dengan keberadaan Zedric. Zevana mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing karena terlalu memaksa pikirannya untuk mengingat.
"Ah! " ucap Zevana sambil memegang kepalanya.
"Lo kenapa Zev?" tanya Zaskia menoleh sambil menyeimbangkan posisi sahabatnya.
Zaskia terlihat panik terhadapnya, dan mulai menyadari rintik hujan itu bukanlah air.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Zaskia melihat ke langit tersebut.
Dwarr..
Suara petir itu menggelegar menghampiri bersama kawanan angin di wilayah tersebut.
Wussh
Zaskia berlindung dibalik tembok agar tidak melihat hal yang mengerikan baginya. Kebetulan ruang kelasnya sudah dikunci. Tidak bisa dimasuki oleh setiap orang.
Peristiwa serupa kembali terulang saat jam pelajaran telah usai. Mereka belum pulang ke rumah dengan alasan rindu pada ruang kelas di sekolahnya.
"Zas anginnya kencang banget" ucap Zevana saling berpegangan pada ujung tembok yang dapat melindungi dirinya.
"Pusaran ini kenapa bisa ada lagi?" batin Zaskia.
Dalam keadaaan itulah ingatan Zevana pulih kembali.
"Zedric" ucap Zevana dengan suara yang jelas.
"Gue mesti turun ke bawah Zas" ucap Zevana sambil berjalan merambat pada pegangan besi pada anak tangga.
"Mau kemana? ini sangat berbahaya" sahut Zaskia dengan nada bicara yang terdengar khawatir.
"Gue inget banget Zas. Pasti pusaran ini punya dia" sahut Zevana berniat untuk menghampiri Zedric.
Keduanya menjadi sesak nafas setelah menghirup angin disekitarnya.
...****...
Di perpustakaan sekolah, Zweta sudah menemukan buku yang ia cari. Segera membaca penjelasan mengenai benda yang ia bawa. Bersimpuh pada kursi duduk dengan sangat teliti.
"Newton mengatakan kekuatan hebat tak terlihat bernama gravitasi. Gravitasi? tapi partikel ini seperti magnet. Gue harus kasih tahu Zinta secepatnya" tanya Zweta pada dirinya sendiri di ruangan itu.
Merasa kurang yakin dengan apa yang dilihatnya dengan semua penjelasan yang tidak ada kaitannya. Ia menaruh kembali buku itu sesuai pada tempatnya seperti semula.
__ADS_1
Zedric sudah memasuki perpustakaan dengan nafas yang tidak beraturan itulah mereka berdua bertemu, ketika Zweta hendak keluar.
"Zedric? lo ngapain disini?" tanya Zweta.
"Lo udah tahu belum soal rintik hujan itu?" jawab Zedric secara langsung.
"Rintik hujan ini kan maksudnya?" sahut Zweta sambil membuka telapak tangannya.
"Iya bener. Persis yang gue lihat barusan. Rencananya gue kesini mau cari buku yang sesuai dengan benda ini" sahut Zedric.
"Gue udah nyari, tapi semua itu nggak sama apa yang kita temukan. Mungkin gue akan tanyakan pada Zinta" jawab Zweta dengan tegas.
Obrolan keduanya sempat berhenti, karena Zweta merasa sesak nafas secara tiba-tiba.
"Ah. Gue sesak nafas nih" ucap Zweta sambil berjalan mundur ke dalam perpustakaan kembali.
"Sesak nafas? Kalau gitu lo tunggu disini sementara ya Zweta. Gue akan cari tahu keberadaan kedua sahabat lo" ucap Zedric sambil menutup pintu ruangan.
Membiarkan Zweta pada suatu tempat yang menurutnya aman, agar ia dalam kondisi baik-baik saja.
"Hati-hati ya" sahut Zweta melihat sebentar dan segera menutup pintu sesuai perintah Zedric.
Zevana memberanikan dirinya untuk melawan pusaran angin yang terlihat sangat menakutkan. Dengan bermodalkan sepatu roda yang ia bawa didalam ranselnya. Berharap dapat membantunya disaat genting seperti sekarang.
"Pasti dia ada di sekitar sini" ucap Zevana yang sudah menapaki jalan di lapangan sekolah.
Langkahnya semakin berat untuk digerakkan. Ia menoleh ke pusaran karena mendengar suara dari arah itu yang berbicara.
"Hai mau kemana kamu? hahaha" teriak suara dalam pusaran angin.
"Hah suara apa barusan?" ucap Zevana.
Lalu kepalan tangan pusaran angin itu menarik ke arah Zevana berada.
Wusshh
Aahhhh
"Tolong! " teriak Zevana ketakutan dengan posisi tangan ingin meraih sesuatu.
Zedric berlari cepat dan melompat untuk meraih tangan Zevana yang hampir terbawa pusaran angin. Ia menarik dengan sekuat tenaganya, hingga benar berhasil menyelamatkan Zevana dan terjatuh dalam pelukannya.
Mereka berdua tidak sempat untuk saling pandang, karena suatu kondisi yang membuat kedua matanya harus bisa menahan dari pusaran angin.
BRUKK
Pusaran itu berhenti tepat di hadapan Zedric. Mereka berdua seperti sedang berbicara bersama seolah teman dekat.
Ya benar saja pusaran angin tersebut miliknya. Seperti yang diketahui sebelumnya, pusaran angin tersebut belum juga menghilang hingga saat ini.
Kemungkinan partikel itu berasal dari alam semesta yang tidak bisa menahan lagi beban berat, hingga menjalar ke permukaan.
"Tolong hentikan semua ini. Gue udah sadar dari tindak kejahatan yang membuat lupa diri. Jadi pergilah" ucap Zedric memberi tahu pada penemuannya yang dapat hidup sendiri tanpa majikan.
Pusaran angin itu menjauhinya. Dan kembali beraksi dengan sekali sentakan saja. Kini sekolah mereka menjadi tertimbun oleh pengaruhnya.
__ADS_1
Zedric segera menjauhinya dengan menuntun tangan Zevana berlari cepat secara bersamaan menuju perpustakaan.
"Zevana lo gapapa kan?" tanya Zedric dengan perasaan sedikit khawatir.
"Lo Zedric kan?" tanya Zevana.
"Iya bener" jawab Zedric sambil berlarian.
"Pusaran itu punya lo kan? berarti lo cuma pura-pura aja ya menyelamatkan gue?" tanya Zevana yang sedikit berpikir.
"Maksudnya?" sahut Zedric sambil menoleh ke arah Zevana.
Diluar dugaan, Zevana malah melayangkan sebuah pukulan tepat di wajahnya Zedric. Hingga membuat pergerakannya berhenti secara mendadak.
Buggghh
Zevana berhasil melukai wajah Zedric hanya dengan satu pukulan saja. Zedric pun menyadari mungkin Zevana merasa kesal atas sikapnya waktu itu.
"Masih ingat kan? itu belum seberapa dengan apa yang gue terima ketika terbaring koma di rumah sakit" ujar Zevana dengan tatapan yang serius.
Zedric terlihat sedang mengusap luka di hidungnya.
"Makasih ya" jawab Zedric dengan singkat.
Pusaran angin itu kian mendekat kearah mereka berdua. Keduanya saling mengetahui dan melihat ke langit untuk mengukur seberapa dalam ketinggiannya.
"Awas! " teriak Zedric tetap memberikan bantuan pada Zevana dengan cara mengulurkan tangan kearahnya.
Zevana pun meraih tangan Zedric, karena tidak ada jalan yang bisa ia pilih selain menghindar secepat mungkin.
Mereka berlarian menuju ruang perpustakaan tempat Zweta berlindung.
Tok.. Tok..
Suara pintu diketuk olehnya dari arah luar.
Cklek..
Suara pintu telah terbuka dari dalam oleh Zweta, ia melihat Zedric sudah mengajak sahabatnya yang sempat terhisap pusaran.
"Loh Zaskia kemana?" tanya Zweta sambil membantu Zevana masuk ke dalam ruangan.
"Masih diatas ruang kelas" jawab Zevana dengan terbatuk.
"Semua peralatan canggih gue tertinggal di laboratorium. Jadi jangan berharap lebih ya sama gue" ucap Zedric membulatkan matanya.
"Pesan dari gue tetap hati-hati" jawab Zweta memperjelas kalimatnya.
"Makasih ya" sahut Zedric kembali ke luar ruangan.
"Tunggu. Lo bisa gunakan ini" ujar Zevana sambil memberikan sepatu roda miliknya.
"Sepatu roda?" tanya Zedric pelan.
Akhirnya Zedric memakai sepatu roda yang ia jadikan kendaraan canggihnya saat ini. Mengingatkan pada sepatu jet miliknya yang sempat rusak akibat terkena tembakan dari Zaskia luncurkan pada sepeda Zedtwo waktu itu.
__ADS_1
"Untuk yang pertama kalinya gue butuh bantuan lo Zinta" ucap Zedric berdiri diatas sepatu roda yang menjadi dirinya terlihat keren.
* to be continued..