Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Galau


__ADS_3

Adnan menoleh dan mengikuti arahan dari Bu Lolita untuk membopong Zevana menuju ruang UKS dengan tujuan agar Bu Lolita tidak banyak berbicara, karena suaranya sangat menggangu pendengarannya.


...Di persimpangan jalan...


...Yang tertutup oleh bulan...


...Sebuah kenangan...


...Tentang kebahagiaan...


...Akankah menjadi sebuah perasaan...


...Atau hanya sebatas pertemanan...


Padahal Zevana sudah menolak ajakan Bu Lolita, tapi Adnan berkehendak lain, Ia berani mengambil keputusan untuk membantunya.


Zevana menatap dalam kedua matanya Adnan, seolah berbicara menyampaikan pesan dari hati yang ia rasakan kini.


"Adnan tolong kamu tungguin Zevana untuk sementara waktu ya, kemungkinan dia nggak bisa masuk kelas hari ini, kami lagi cari tahu siapa orang yang menjadi penyebab perkelahian dengan Zevana tadi pagi" Kata Bu Lolita dengan tegas.


"Baik Bu" Sahut Adnan sebagai cerminan laki-laki yang bertanggung jawab.


Kemudian Bu Lolita segera pergi ke ruang kelas untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai guru kimia. Keadaan Zevana saat ini masih panik dengan situasi yang ia alami dalam sekejap. Karena mendapatkan serangan tak terkendali yang dilakukan oleh Zaskia. Ia tahan rasa sakit itu agar Adnan tidak memperhatikannya lagi, ia takut tindakan Zaskia semakin brutal terhadapnya.


Kini perasaan diantara keduanya masing-masing sedang memikirkan seseorang yang sama. Hingga pada akhirnya Zevana membuka obrolan di ruangan itu agar tercipta sebuah kenyamanan dan tidak merasa canggung.


"Nan sorry ya gara-gara gue, lo jadi nungguin disini" Ujar Zevana yang terlihat merasa bersalah.


"Iya gapapa Zev, ohiya gimana keadaan lo sekarang? Luka di wajah lo... itu sakit banget sih" Tanya Adnan kembali sambil memegang area wajah Zevana yang terluka.


"Udah baikan ko Nan" Jawab Zevana sambil tersenyum.


"Ohiya tadi pas lo dipukul Zaskia kenapa diam aja Zev?" Tanya Adnan secara langsung.


"Zaskia?" Sahut Zevana dengan tersedak bubur yang ia makan, sekarang ia menjadi bertanya-tanya sendirian di dalam hati.

__ADS_1


"Iya yang barusan itu Zaskia kan?" Sahut Adnan kembali hanya untuk memastikan.


"......" Zevana terdiam dan tidak menggubrisnya.


"Ternyata Adnan udah tau tentang Zaskia, hmm.. apa gue mesti jawab jujur aja kali ya? Tapi rasanya sangat singkat buat dilupakan" Gumam Zevana didalam hati.


Nampak sepasang mata sedang mengintai gerak-gerik antara Adnan dan Zevana dari kejauhan. Hatinya Zaskia terbakar api cemburu, ia jadi semakin agresif mengingat bahwa ia menjadi topik pembicaraan banyak orang dan melupakan tujuan utamanya untuk menghindar.


"Lo nggak nengok Zevana di ruang UKS?" Tanya Zinta menyapa sambil memberikan informasi.


"Hah serius? Ko bisa?" Sahut Zweta penasaran.


"Iya serius. Kabar berita yang beredar, Zevana dipukul sama orang yang nggak dikenal. Lo pasti udah bisa nebak kan siapa orangnya?" Jawab Zinta sambil duduk di bangkunya.


"Zaskia? Gila.. nekat banget tuh orang" Sahut Zweta yang sempat tidak percaya apa yang dilakukan oleh Zaskia.


"sssttt... jangan keras-keras suaranya! Nanti kalau terdengar sama yang lain gimana?" Sahut Zinta sambil membekap mulut Zweta.


"Oops sorry" Ucap Zweta yang kini menjadi menjaga ucapan mengenai Zaskia.


"Mana gue tau" Sahut Zinta dengan singkat.


Selangkah demi selangkah Zaskia berjalan mengikutinya tanpa ada seorang pun yang tahu, bersembunyi dibalik tembok ruang UKS. Ia tidak bisa mendengar secara jelas apa yang sedang dibicarakan, hanya bisa melihat keadaan dari dalam sesuai alur pikirannya.


Ia melihat Adnan sedang berbicara berduaan di ruangan itu sambil mengusap wajah Zevana, kini amarahnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Inilah waktu yang sangat tepat untuk melancarkan aksinya. Ia sudah tidak peduli lagi apa yang dinamakan seorang sahabat. Memasuki ruangan dan meluapkan emosinya.


"Oh jadi ini yang ngakunya seorang sahabat? Lo lupa Zev? Laki-laki yang sekarang ada di depan lo itu cowok gue. Asal lo tahu aja persoalan gue sama Adnan belum kelar!" Ujar Zaskia memaki sambil mengeluarkan air mata, menangis sejadi-jadinya.


Kini keadaan di ruangan itu menjadi genting. Pandangan Adnan dan Zevana secara bersamaan menoleh ke arah Zaskia berada.


"Zas..gue" Sahut Zevana sambil memotong pembicaraannya.


"Lo nggak inget saat kita semua terjebak dalam sebuah penemuan Zinta? Yang jelas-jelas nggak ada efek sampingnya, terus gara-gara ulah lo, kita semua terjebak didalamnya?" Sambar Zaskia dengan sangat cepat.


"Itu...Zas tolong, Sahut Zevana kembali yang kini perasaannya menjadi sangat sedih.

__ADS_1


"Dan disaat itu juga kita bertiga sama-sama ke time travel untuk mencari tahu permasalahannya, terus lo lupa gitu aja hah?" Sambar Zaskia dengan nada emosi yang tinggi dan artikulasi yang enak didengar.


"Persoalan ini nggak mudah buat gue Zev! Karena pada kenyataannya, sampai detik ini gue belum bisa kembali" Kata Zaskia yang terus melontarkan kata-kata yang menyakitkan yang ia tujukan untuk Zevana.


"Jahat lo Zev! Oh gue ngerti sekarang, lo merubah penampilan dari seorang gadis tomboi jadi cantik begini, pasti dengan tujuan agar Adnan tertarik sama lo kan? Hekh.. nggak semudah itu mengubah perasaan seseorang jadi suka hanya dalam sekejap aja" Ujar Zaskia sambil menangis sesenggukan.


Zaskia berlari kearah Zevana, ingin membalas perbuatannya. Namun Adnan sebagai pihak penengah keadaan, ia dengan sigap bersikap melindungi Zevana. Karena posisinya dalam keadaan yang mencekam.


"Awas minggir!" Teriak Zaskia sambil mencoba menerobos benteng Adnan.


"Sudah cukup!" Sergah Adnan dengan suara yang melengking itu dapat menghentikan perkelahian.


Kini giliran sikap Zaskia menjadi tertegun dan memberhentikan niat buruknya, merasa lelah dengan semua ini. Ia tersadar dan terlarut dalam tangisannya dalam dekapan Adnan.


Perasaan Zevana berkecamuk, disamping itu juga menangisi kesalahannya yang telah lalu, sebuah lembaran usang telah dibahas kembali oleh Zaskia.


"Nan, aku rindu dengan kebersamaan kita" Ucap Zaskia sendu.


"Soal pesan puisi itu makasih ya, aku mau kita melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kamu tetap setia menunggu aku kan? Hingga pada akhirnya kita sama-sama bahagia di waktu yang tepat?" Ujar Zaskia sambil menjelaskan apa isi hatinya selama ini.


Adnan terus membelai rambut Zaskia, rindu didalam hati kini sudah tersampaikan dengan baik. Sepertinya Zevana salah tempat untuk merajuk, toh ia juga tidak bisa bergegas pergi dari tempat itu, karena suatu kondisi yang membuatnya tetap bertahan disana yaitu luka dihati dan luka di kaki.


...Jika kita tidak akan pernah bersama...


...Mungkin kita masih bisa bertatap...


...Walaupun tidak menjadi yang pertama...


...Setidaknya rasa ini akan menetap...


Setelah menerima ungkapan yang bertubi-tubi telah dilontarkan Zaskia, kini Adnan mempunyai beberapa pertanyaan yang tidak bisa ia mengerti.


Salah satunya yang ia ingat adalah Kenapa Zaskia berbicara tentang time travel?


Sungguh diluar nalar dari pemikiran seseorang.

__ADS_1


*to be continued...


__ADS_2