
Bising mesin Z1 menderum di telinga. Sepertinya mereka sudah bisa membaur di kesunyian ruang laboratorium saat ini.
"Syukurlah kita udah sampai dengan selamat" Ujarnya.
Zedric pun berjalan santai menuju tempat dimana Zevana masih berlindung dalam selimut. Dia memandangnya lembut dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Zev ayo bangun udah pagi" Ajaknya.
Zedric melepas selimut itu dan seseorang datang menghampirinya.
"Apa bisa dikatakan selamat jika kita kembali tanpa.." Pembicaraannya pun terputus.
"Tanpa sadar lo udah berulang kali bahas persoalan yang sama. Soal itu biar gue yang urus, yang penting Zevana bisa bertemu keluarganya lagi" Jawabnya sembari menoleh.
"Pasti dia udah tahu soal Zinta" Gumamnya.
"Benar kan kecurigaan gue" Sahut Adnan.
"Jadi lo udah curiga? kalau gitu, kenapa nggak coba memisahkan diri aja dari tadi? mencari tahu Zinta misalnya" Timpal Zedric.
"Perlu gue ulang pertanyaannya?" Sahut Adnan.
"Mengulang pertanyaan? lo pasti mau bahas Zinta kan?" Tanya Zedric.
"Penting mendengar pembicaraan orang lain terlebih dahulu" Sahut Adnan.
"Mau tanya apa?" Sahut Zedric.
Adnan langsung mencecarnya dengan aneka pertanyaan yang menginterogasi, namun Zedric hanya menjawab,
"Gue lagi malas debat dan berharap Zeva nggak tahu masalah ini. Terlebih menjaga perasaannya agar bahagia selalu" Ujarnya.
"Oke, gue coba pahami itu" Jawab Adnan.
Adnan meraih buku yang diletakkannya di atas meja penelitian, lalu ia berjalan menuruni tangga sebuah mesin dan bertemu dengan Zweta di suatu ruangan.
"Lagi ngapain?" Tanya Adnan.
"Lagi baca buku nih" Jawab Zweta sembari menoleh.
"Udah balik Nan? sejak kapan? ko gue bisa nggak tahu ya?" Tanya Zweta.
"Nggak lama ko, kita baru aja dateng" Jawab Adnan.
"Alhamdulillah, udah nggak sabar jumpa lagi dengannya. Gue tinggal dulu sebentar ya Nan" Ujar Zweta beranjak pergi.
"Jangan sekarang" Sergahnya sambil menahan lengan Zweta dan langkah kakinya pun berhenti.
"Emang kenapa sih?" Tanya Zweta risih.
__ADS_1
"Mereka berdua lagi bicara empat mata, sebaiknya nanti saja kesana nya" Jawab Adnan.
"Sorry gue nggak bisa menunda persoalan yang sangat penting" Timpal Zweta sambil melepaskan sergahan Adnan.
"Terserah lo deh" Ucap Adnan acuh.
Saat itu kelopak matanya ditarik keatas dan cahaya terang menyilaukan matanya.
"Udah pagi ya" Zevana menggerakkan badan dan berharap darah di lengan dan kakinya mulai mengalir lagi.
"Dia dengar nggak ya barusan?" Gumamnya sembari menoleh ke arah Zevana berada.
Memandangi Zedric yang tengah mematung memperhatikannya bicara.
"Selamat pagi. Masih ingat kan soal kejutan itu?" Tanya Zevana.
"Jangan pura-pura bodoh ya. Gue masih ingat semuanya" Ujar Zevana tergelak tawa.
"Hey kenapa masih diam saja? Terpesona dengan kecantikan ini?" Ledek Zevana menggemaskan.
Zevana manggut-manggut seraya memajukan bibirnya dan berkata, "Kasih tahu dong kejutannya".
Dari arah luar, Zweta pun mulai paham dengan himbauan Adnan yang menyuruhnya agar tidak datang sekarang ke tempat tersebut.
"Benar juga kata Adnan, gue salah waktu datang kesini" Ucapnya.
"Kasihan Zinta. Jika dia berada di posisi gue, entah gimana perasaannya. Pasti persis yang gue rasain sekarang, beruntungnya lo bukan tipe gue Zed" Gumamnya dalam hati.
"Keluarga? Apa sebentar lagi Zed mau melamar?" Tanya Zevana dalam benaknya.
"Sebenarnya ini cara yang mudah, supaya gue bisa kembali lebih cepat ke zona waktu untuk menyusul Zinta" Gumam Zedric.
"Ayo" Ajaknya.
"Tunggu. Menurut gue, sikap lo terlalu berlebihan Zed" Ujar Zevana.
"Berlebihan gimana ya maksudnya?" Tanya Zedric.
"Entahlah, lupakan saja. Anggap nggak pernah mendengarnya" Jawab Zevana tertawa ngeri.
Percakapan diantara keduanya pun tidak terlalu lama. Namun, sangat berkesan di hati Zevana.
"Sebelum mereka lihat kehadiran gue disini, sebaiknya menghindar jalan yang tepat" Ucap Zweta bergegas pergi.
Di saat yang sama, bayangan seseorang berkelebatan hadir kembali dalam situasi saat ini.
"Siapa ya barusan yang lewat?" Tanya Zedric sembari melemparkan pandangannya ke arah luar mesin.
"Jika semuanya udah siap, gue akan mengantar lo pulang ke rumah" Ujar Zedric.
__ADS_1
"Gimana kalau sekarang aja? Udah siap nih nungguin dari tadi" Jawab Zevana sambil tersenyum merekah.
"Baiklah" Sahut Zedric sambil membantunya berjalan.
...****...
Mita terlihat membuka tirai dan jendela kamar anak semata wayangnya.
"Van kita sarapan pagi dulu yuk sayang" Ajak Mita.
"Van kamu lagi di kamar mandi ya?" Tanya Maminya.
Drttt
Tak berlangsung lama, ponsel pintarnya pun bergetar dan memantulkan cahaya hanya sekejap mata memandang.
"Duh ponselnya cuma getar doang, mana bisa kedengaran coba? Van ada telepon nih, maaf mami angkat ya? Kayaknya penting" Ujar Maminya.
"Kenapa nama kontaknya tertulis nama Zevana? Lantas siapa yang selama ini bercengkrama denganku?" Tanya Mita dalam didalam hati.
π² "Halo Zas gimana kabarnya? Sebentar lagi gue mau pulang ke rumah nih diantar Zed. Lo baik-baik disana ya" Ujar Zevana.
π² "Zas ko diam aja? Oh gue tahu, pasti lo sekarang lagi galau kan? Kangen ya? Udah lama nggak ketemu sama Adnan" ledek Zevana.
π² "Zaskia beneran nggak asik lo, dari tadi masa responnya cuma nyimak doang. Gue matiin aja deh teleponnya" Ujarnya kesal.
"Duh mana rambut gue belum kering lagi" Ujar Zaskia sembari menutupi handuk pada kepalanya.
π² "Zaskia?" Tanya Mita tersentak seketika melihat seseorang dihadapannya kini.
Rasa kecewa memukulnya keras dan ia ingin menyumpah serapah pada dirinya sendiri.
π² "Ko malah tanya balik?" Sahut Zevana.
π² "Vana, apa kamu ingat dengan suara ini?" Tanya Mita penasaran.
π² "Mamih" Jawab Zevana terperangah.
Segera mematikan suara dari ponsel pintarnya tersebut.
"Gawat! kenapa semuanya terbongkar mendadak gini? Masa iya gue kabur sekarang? Mana cuma pakai handuk baju doang lagi" Gumam Zaskia.
"Jadi siapa yang benar? Entah niat apa yang kamu sembunyikan terhadap keluarga saya. Pernahkah saya ada salah denganmu? Atau mungkin keluargamu? Bahkan saling mengenal pun tidak kan? Suatu masalah yang ditutupi pasti akan terendus juga. Saat ini kamu nggak bisa lari dari rumah secara bebas, sebab kehadiran Vana sangat berarti bagi hidup kami" Ucap Mita sembari menangis sesenggukan.
"Maafin aku Tante, mungkin aku emang harus pergi dari sini" Jawab Zaskia.
Ia menyempatkan diri untuk memakai pakaian sambil berlari dan tidak mengetahui jika lantainya licin.
BRUKK
__ADS_1
Zaskia terjerembab ke lantai yang permukaannya berbeda dari biasanya.
Perasaan gelisah pun menghantui saat mempertanyakan siapa yang menunggunya di akhir perjalanan ini?