
Waktu sudah memakan hari kelima, seperti halnya mereka yang mulai terbiasa dengan ketidaknyamanan ini pun telah mereka lewati setiap hari.
Tepat di hari ini, Zaskia belum menampakkan batang hidungnya di sekolah. Dia masih belum memberanikan dirinya untuk dihadapkan pada hal layak ramai. Dan dihari ini tepatnya ia putus dengan kekasih hatinya bernama Adnan, kapten tim basket putra di sekolahnya.
Menurutnya, inilah penampilan pertama Zaskia yang jauh dari kata sempurna. Rasa percaya dirinya menurun drastis, setelah perubahan yang terjadi padanya. Ia seperti kehilangan arah, keceriaan pun tidak dapat terlihat kembali. Kini ia semakin sadar, jika Adnan hanya bisa menerima seorang perempuan dari segi fisiknya saja.
Beginilah suasana ruang kelas XI IPA 2 basic A di sekolah.
"Eh Zin. Zaskia kemana sih? Ko dia nggak ngasih kabar ke gue? Dia ngasih kabar ke lo nggak?" Tanya Zevana seraya menyampingkan badan dan menoleh ke belakang tempat duduknya.
"....." Zinta pun hanya terdiam dan tidak menggubrisnya.
"Lo kenapa diem aja sih? Jawab dong!" Ujar Zevana kembali.
Alih-alih tidak menjawab pertanyaan Zevana, Zinta beranjak dari tempat duduknya dan berpindah tempat, mendekati teman sekelasnya bernama Ali.
"Ali! Bangku disamping lo kosong kan?" Tanya Zinta yang masih saja tidak berminat menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
"Iya kosong, emang kenapa? Lo mau duduk sebangku sama gue Zin?" Sahut Ali dengan tatapan teduhnya melihat wajah Zinta yang terlihat makin cantik dengan penampilannya yang berbeda dari biasanya.
Padahal Zinta hanya mengenakan rambut palsu berwarna coklat serta masker kain. Ia hanya memperlihatkan keindahan matanya yang berbinar-binar.
"Idih lo kenapa sih nggak mau jawab pertanyaan gue barusan? Ngeselin banget ya!" Gerutu Zevana.
"Iya boleh nggak?" Sahut Zinta yang tetap tidak merespon suara Zevana tersebut.
"Boleh aja" Jawab Ali sambil tersenyum manis dan mempersilahkan Zinta duduk disampingnya.
"Semoga lo paham sama pikiran gue saat ini Zev!" Gumam Zinta didalam hati.
Mendengar hal tersebut, kini giliran Zevana yang berbalik sikap menjadi diam dan tenang. Jam tanda masuk pelajaran pertama pun dimulai, Bu Lolita guru kimia pun datang.
Segeralah beliau menaruh buku bawaannya di mejanya, netranya mulai melirik pada buku besar yang berjudul 'Daftar Absen Siswa'.
Kemudian beliau membuka dan menyentuh lembaran demi lembaran di bukunya. Yang tanpa diduga saat Bu Lolita sedang mengabsen salah satu siswanya, ada yang membuatnya terkejut.
"Dito Prayoga?" Ucap Bu Lolita seraya memegang pulpennya.
"Hadir Bu!" Jawab Dito.
"Zweta Sharon?" Ucap Bu Lolita.
__ADS_1
"Saya hadir!" Jawab Zweta sambil mengangkat tangan kanannya keatas.
"Zaskia Watson?" Ucap Bu Lolita kembali.
"Nggak masuk Bu, katanya sakit" Sahut Zevana.
Tanpa disadari, suaranya lupa ia kondisikan sehingga terdengarlah suara emak-emak rempong yang didengar seluruh penghuni di satu ruangan kelasnya.
Kemudian Bu Lolita menulis absensi milik Zaskia, dan mulai bersuara kembali satu demi satu.
"Loh itu barusan suara siapa? Ko mirip suara Ibu saya?" Tanya Bu Lolita yang terkejut mendengar dimana suara itu berasal.
Melihat di sekitar ruangan, tak nampak wajah siswanya yang berlagak mencurigakan.
"Waduh keceplosan deh" Gumam Zevana dalam hatinya.
Bersamaan dengan hal itu, segeralah Zevana memandang wajah Zweta tanpa sebab.
"Kenapa lo ngeliatin gue kaya gitu?" Tanya Zweta dengan sigapnya.
"..........." Zevana hanya terdiam tanpa kata seraya mengangkat satu alisnya yang ia tunjukkan pada Zweta.
Mendengar perkataan Zweta, Zevana mulai menggerakkan matanya kearah teman-teman sekelasnya itu, kemudian ia hanya bisa tersenyum tipis saja, matanya terpaku pada ekspresi Zweta yang dilihatnya.
Akhirnya Zweta mengiyakan maksud tujuan Zevana tersebut. Zweta yang mengalah dan mengakui kalau suara emak-emak rempong adalah miliknya sambil menirukan suara Zevana barusan.
"Barusan suara saya Bu!" Kata Zweta yang berani mengambil sikap untuk melindungi masalah yang dihadapi sahabatnya.
"Owalah.. Jadi yang barusan itu suara kamu Zweta? Ha haha" Jawab Bu Lolita sambil tertawa terbahak-bahak.
...* * * *...
Masih di tahun yang sama, dimana penelitian Zinta menjadi kenyataan pahit untuk diingat.
Pagi-pagi sekali dia sudah berjalan ke taman dekat rumahnya, mencari udara segar dan ketenangan pikiran. Ia tidak bisa berpikir dengan kritis.
Mengapa masalah besar ini terjadi begitu saja?
Ada hal-hal besar yang harus diputuskan, dan Zinta tidak tahu bagaimana masuk ke laboratorium, dimana banyak informasi ada disana. Zinta mencoba mengingat kembali pembahasan ilmiah tersebut secara perlahan. Menutup mata dan bahu yang bersandar pada kursi panjang berwarna coklat di sebuah taman. Zinta mengatakan kalimat yg dia ucapkan seperti ini.
"Ciri-ciri perubahan kimia adalah perubahan suhu, perubahan warna, munculnya endapan, munculnya gas, dan perubahan pH" Ucapnya sendirian.
__ADS_1
Hanya itu yg dia ingat, tiba-tiba Zinta mendengar suara seseorang yang berbicara perlahan di dekatnya dan berkata.
"Butuh bantuan Prof?" Tanya seseorang menghampirinya.
Ternyata seseorang yang datang adalah Zweta. Kebetulan sedang berolahraga pagi di taman bersama Ali sepupunya.
Zinta menjadi terperangah dan membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Menoleh ke arah kanan dimana suara itu berasal.
"Zweta? Ngapain lo disini? Loh Ali? Kalian berdua.." Ujar Zinta yg tidak percaya dengan apa yang ia lihat didepannya.
"Bukannya ini tempat umum Prof? Siapa aja boleh kesini termasuk gue. Ali? Oh bukan-bukan, plis jangan salah paham ya. Kenalin, Ali itu sepupu gue Zin. Sorry ya baru bilang sekarang" Jawab Zweta.
Segeralah ia duduk di kursi bersebelahan dengan Zinta.
"Eemm.. iyaa" Sahut Zinta.
Dengan suara yang sedikit terbata-bata itulah, seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak mau perubahan identitasnya diketahui orang lain, kecuali ketiga sahabatnya.
"oh Ali sorry ya, kita mau bicara empat mata aja" Pinta Zweta yang mengetahui sinyal maksud Zinta tersebut.
"Ohiya gapapa, kalo gitu gue balik duluan ya Zwet. Gue balik yah Zin" Ujar Ali sebelum ia beranjak pergi, ia memberikan senyum manisnya pada Zinta.
"Kalau nggak salah, barusan lo bilang lagi butuh bantuan ya? eemm... apa itu.. masih berlaku?" Tanya Zinta kembali hanya memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
"Ha haha nggak apa-apa. Gue pikir ini akan menjadi petualangan yg menyenangkan. Zinta yang jenius akan berada di satu tim yang sama dengan gue" Ujar Zweta sambil tertawa lepas dan sedikit sindiran halus.
"Lo juga jenius lho, bahkan tanpa buku dan kalkulator pun, daya pikir otak lo itu bagus banget buat bisa mengingat secara detail pembahasan pelajaran sekolah atau pengetahuan umum" Jawab Zinta yang mencoba menyemangati Zweta.
"Gue sadar di dunia ini nggak ada yang sempurna, ternyata pada dasarnya seseorang butuh orang lain juga buat belajar menjadi lebih baik" Ucap Zinta kembali Sambil mencoba tegar dengan beban berat yang ia alami saat ini.
"Gue butuh bantuan lo Zweta" Ucap Zinta dengan suara yang terdengar seperti menahan tangis penyesalan.
"Thanks Zin, lo udah mau menerima kehadiran gue" Jawab Zweta yang mulai tersentuh dengan ucapan sahabatnya.
"Ayo kita pergi ke laboratorium, mau nunggu kapan? Tahun depan?" Ajak Zweta usil.
Penuh semangat sambil mengulurkan tangannya ke arah Zinta.
Zinta tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Zweta untuk segera bergegas ke lokasi yang dituju.
* to be continued....
__ADS_1