
'"Zaskia? Dia masih?" Tanya Zevana sambil melihat pandangannya kearah Zaskia dari kejauhan.
Terdengar tipis tapi mengenali jelas apa ucapan yang Zevana lontarkan. Ya! Adnan mendengarnya, mengernyitkan dahi dan berpikir sejenak.
"Zaskia?" Ucap Adnan di dalam hatinya.
Kebetulan Zevana menjadi peserta dalam pertandingan bola basket tersebut. Melihat sahabatnya diusir oleh satpam sekolah, ia melihat situasi di sekitarnya dan memberanikan diri untuk menghampirinya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, ia sontak terkejut karena tiba-tiba Adnan berada di hadapan Zevana. Kemudian kedua matanya bertemu secara bersamaan.
"Mau kemana lo?" Tanya Adnan sambil membawa bola basket di pinggangnya.
Sebenarnya Zevana sudah sering melihat wajah Adnan di lapangan basket, tapi entah kenapa kali ini menjadi istimewa dilihatnya, sebab inilah pertama kalinya seorang laki-laki menatap matanya dari jarak yang sangat dekat, dan Zevana pun mendadak menjadi tersipu malu.
"Woy ngapain sih tiba-tiba senyum begitu? Kesambet lo ya?" Timpal Adnan sambil menepuk bahunya Zevana.
Zevana terbangun dari lamunannya, dan menepisnya sesaat.
"hmm.. gue mau ke..mana ya? Hmm.. nggak jadi deh" Jawab Zevana yang menjadi salah tingkah, jadi lupa apa tujuannya.
"Mana gue tau lah.. dih nggak jelas lo Zev!" Sahut Adnan sambil berbalik arah dan melanjutkan aba-aba pada timnya.
Zaskia sekarang pergi dari tempat itu, diusir oleh satpam sekolahnya dan berjalan menyusuri ruang kelasnya seorang diri dan termenung sepi.
"Mohon maaf ya para hadirin, atas hambatan yang berlangsung barusan" Ucap Bu Lolita sambil tertawa menahan malu didepan podium dan melangsungkan acara pertandingan.
Dug...! Dug..! Dug..!
Suara bola basket menghentakkan ke lantai berwarna coklat di lapangan basket pertanda dimulainya acara pertandingan di suatu sekolah.
Di sisi lapangan berjejer murid-murid SMAN 1 Mars yang tidak hentinya bersorak ramai dengan wajah yang antusias. Di sela-sela himpitan penonton dan riuhnya sorakan, Zinta dan Zweta pun berada disana.
__ADS_1
"Semangat Zevana!" Teriak Zinta serta Zweta secara bersamaan sambil berdiri meneriaki nama sahabatnya itu.
Zevana dengan nomor punggung 07 menerima bola dari lawannya yang salah mengoper, dengan sigap ia mendribble bola basket nya ke lantai, dalam hitungan detik ia berhasil layout, shoot memasukkan poin ke ring basket lawannya.
"Dan berhasil! Zevana telah mengantongi poin untuk timnya adalah awal dari pembukaan pertandingan" Seru Pemandu pertandingan bola basket dari layar monitor.
Sorak Sorai kembali riuh diiringi suara tepuk tangan yang bergemuruh terdengar kembali dari sisi lapangan. Suasana semangat menghidupkan kelangsungan acara.
"Eh..eh Zin, itu Zaskia kan?" Tanya Zweta sambil menunjuk kearah yang dilihatnya.
"Iya bener Zweta, hayuk kita kesana aja" Sahut Zinta sambil membawa perlengkapan suporter.
Berlarian menuju ruang kelas secara bersamaan. Kebetulan di ruang kelas dalam keadaan sepi tidak ada orang kecuali mereka bertiga.
"Zaskia! Hekh... Zas lo nggak apa-apa kan?" Tanya Zinta dengan nafas yang terengah-engah.
"Zinta?" Jawab Zaskia yang langsung memeluk sahabatnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Zin, lo udah berubah? Tapi ko gue belum berubah sih?" Tanya Zaskia sambil memeriksa wajah Zinta.
"Tadi gue udah ketemu sama Adnan, tapi bodohnya dia nggak ngenalin gue Zin! Soalnya gue belum balik ke tubuh gue, terus gimana sekarang? Sia-sia dong" Sambung Zaskia kembali yang kini menjadi sangat menyesal.
"Iya karena hubungan lo sama Adnan belum kelar Zas" Jawab Zweta menasihatinya.
"Oh jadi begitu ya. Kalau permasalahan pribadi belum tuntas, jadi belum bisa berubah Zwet?" Tanya Zaskia yang jadi semakin panik. karena hanya dirinya yang belum kembali ke tubuhnya seperti semula.
"Kalo rumusnya kaya gini, mending nggak usahlah gue maafin kesalahan Zevana segampang itu! Kan gue kaya begini juga gara-gara dia kan? Gue masih ada kesempatan kan Zin?" Sahut Zaskia dengan nada yang kini agak tinggi didengarnya.
"Kesempatan buat bersatu sama Adnan?" Tanya Zweta yang ikut kesal dengan sahutan Zaskia tersebut.
Zaskia menoleh pada Zweta merasa kesal dengan pertanyaannya yang seharusnya dijawab oleh Zinta, tapi malah Zweta yang menjawabnya. Beranjak dari kursi duduknya, dan ia menggapai kerah kemeja seragam milik Zweta.
__ADS_1
"Zas lo kenapa sih? Lepasin nggak tangan lo!" Ujar Zweta sambil meraih tangan Zaskia untuk menyingkirkannya.
"Gue butuh jawaban dari Zinta! Kenapa sih, setiap gue tanya, lo mulu yang jawab? Kan kesel jadinya!" Teriak Zaskia tepat di depan wajahnya Zweta.
"Oke kalau itu yang lo mau Zas, gue nggak akan tanggapi lagi perihal sewaktu-waktu lo minta pendapat dari gue, tapi sebelum itu tolong lepasin tangan lo dari pandangan gue!" Pinta Zweta dengan jurus sinis nya.
Akhirnya Zaskia mau melepaskan tangannya dari kerah seragam Zweta. Zinta masih terdiam dan mengira bahwa pertengkaran diantara mereka sudah selesai setelah melewati time travel. Tapi semua itu diluar ekspektasi, Zweta mengambil langkahnya dan segera bergegas pergi dari ruangan kelas.
Dari balik pintu kelas, Zweta melihat ada seseorang seperti sedang menguping pembicaraan mereka barusan. Tetap berhati-hati, melirik sedikit dan ternyata seseorang itu rupanya Adnan. Kini ia berbalik arah kembali dan memberi kabar bahwa Adnan telah mengetahui percakapan mereka.
"Adnan ada disini? Nggak.. dia nggak boleh tau kondisi gue saat ini" Sahut Zaskia yang kini menjadi gelagapan dan cepat bersembunyi.
Babak pertandingan bola basket putri berhasil dimenangkan oleh sekolah SMAN 1 Mars dan Zevana menjadi bintang dalam timnya, karena ia berhasil mencetak poin terbanyak.
Sorak Sorai menghidupkan kembali suasana lapangan yang biasanya terdengar kalem jika tidak ada kegiatan pertandingan.
"Sekarang saatnya pergantian tim basket putra, yang dipimpin oleh Adnan! Bintang basket sekolah yang dinantikan!" Sahut Pemandu pertandingan dengan ucapan yang bersemangat.
"Adnan! Adnan!" Sorak suporter di lapangan.
"Waduh gue udah dipanggil lagi" Ucap Adnan sendirian.
Sempat menoleh ke ruang kelas Zaskia berada, dan tetap melanjutkan pertandingan.
Memiliki visual yang ganteng seperti aktor drama Korea bernama Cha Eun Woo, memiliki postur tubuh tinggi sekitar 180 senti meter dan populer. Tersenyum dan menatap pada suporter barisan pendukungnya di lapangan.
Suara gemuruh sorak sorai pun memadati berjalannya acara, suara yang sama ramainya setelah Zevana bertanding barusan.
Kini Adnan berhasil menangkap bola dari timnya, melaju dan berlari shoot dan berhasil mencetak poin kembali. Adnan mengitari lapangan sambil tertawa bahagia dan tidak lupa memberikan kiss tangan pada suporternya, yang bisa terlihat jelas dari layar monitor besar disana.
SMAN 1 Mars membawa pulang penghargaan kembali, haru dan bahagia menjadi awal dari kesuksesan murid-muridnya.
__ADS_1
* to be continued...