
Rasa sedih yang ia alami saat ini mengantarnya dalam keheningan malam di suatu perjalanan menuju babak baru dalam hidupnya.
Tak lupa ia juga menyampaikan pesan bermakna untuk Zedric serta berpindah tempat hanya untuk menyaksikan perasaan pilu.
"Zedric tolong jagain Zinta ya. Sekarang gue mau ke rumah sakit Mau jenguk Zevana" ucap Zweta sambil menangis tersedu-sedu.
Merasa tidak tega setelah melihat seorang perempuan sebaya dihadapannya. Ia mencoba membuka obrolan sebentar, sebelum Zweta benar-benar pergi meninggalkannya.
"Aku antar ke rumah sakit ya?" tanya Zedric memberikan perhatian kecil padanya.
"Nggak usah makasih. Gue bisa kesana sendiri ko. Dalam situasi ini yang butuh ditemani itu Zinta. Perasaan gue akan lebih tenang jika sahabat gue dalam kondisi baik. Bukan terbaring nggak sadarkan diri atas perbuatan lo yang belum bisa mengendalikan emosi saat itu" jawab Zweta yang tiba-tiba memutarkan obrolannya pada Zedric.
Zedric mejadi serba salah, belum tahu sikap yang bagaimana seharusnya yang ia perlihatkan agar mereka percaya bahwa dirinya sudah berubah.
"Gue tahu permasalahan lo sama Zinta waktu itu. Semoga dengan adanya lo bersikap baik, bisa memperbaiki keakraban diantara kalian yang sempat terganggu. Gue bisa naik taksi ko. Makasih ya" ucap Zweta sambil tersenyum kecil dan segera meninggalkannya.
Terdengar suara taksi yang membawa Zweta tetap melaju sesuai tujuan yang diharapkan.
Berusaha mengerti dengan semua ucapan yang disampaikan oleh Zweta barusan. Menatap keadaan Zinta yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan penuh iba.
Zedric merasa perlu mencari buku laporan penelitian pada sebuah laci meja milik Zinta. Terlihat ia sudah membuka beberapa laci hingga tiga kali. Ia berhasil menemukan apa yang ia cari, sebuah buku dengan beberapa lembaran kertas didalamnya dengan kondisi sedikit usang dan berdebu.
Zedric membersihkan debu yang menempel sehingga sesekali hidungnya gatal seperti ingin bersin. Ada sesuatu hal yang mengalihkan perhatiannya yaitu sebuah foto masa kecil Zinta dan dirinya pada saat mengikuti olimpiade sains dari tumpukan lembaran kertas yang ia baca.
"Dia masih menyimpannya dengan rapih" ucap Zedric sambil tersenyum manis.
Ia membalikkan fotonya terdapat sebuah tulisan didalamnya yang berbunyi.
...Pertanyaan menjebak semakin pekat...
...Menghindar untuk berdebat...
...Memutuskan menjauh padahal saling dekat...
...Perhatian kecil masih melekat...
...Adakah minder yang didapat...
__ADS_1
đ¸đ¸đ¸
Setelah membaca tulisan Zinta yang ditulis dari masa lalu, kini giliran dirinya mulai berpikir apa maksud dari tulisannya. Lambat laun ia mulai mengerti bahwa tulisan tersebut ditujukan untuknya. Ada sesuatu yang membuatnya semakin menjauh kala itu. Sepertinya ikatan diantara mereka saling terhubung, mengenai emosi sesaat seharusnya bisa ia pikirkan kembali dengan matang, hingga ia pun tersadar.
"Mengapa aku melakukan hal yang bodoh" teriak Zedric menyesali perbuatannya.
Rupanya dendam di masa lalu Zedric sudah ia lampiaskan dan buktikan pada seseorang yang menurutnya sudah menyakiti hatinya. Padahal kenyataannya berbeda, pikirannya saat ini berkata bahwa dirinya yang salah karena hampir saja ia menghilangkan nyawa seseorang.
Rasa sesal pun muncul seketika dalam benaknya. Seandainya waktu bisa berputar kembali, mungkin ia akan tetap bersama Zinta menjadi suatu perkumpulan persahabatan remaja jenius di sekolahnya.
"Adakah kesempatan kedua untukku?" ucap Zedric seolah tak percaya bahwa ia juga sedang menangisi keadaan Zinta.
Zedric menghampirinya untuk beranjak duduk didekatnya. Ia menyentuh tangan Zinta dengan penuh kehangatan.
"Maafin aku Zinta. Semoga kamu cepat sadar. Aku mau berubah dan bisa memperbaiki kerenggangan diantara kita. Walaupun terlihat kaku" ucap Zedric dengan tetap melakukan pesan dari Zweta yaitu menjaganya hingga detik ini.
...Berusaha tetap terjaga...
...Dalam untaian kata...
...Semoga selalu ada...
...Dalam setiap doa...
...****...
"Makasih ya pak" ucap Zweta saat keluar dari taksi yang ditumpanginya.
Ia terlihat berlarian menyusuri koridor rumah sakit, pandangannya tetap terfokus pada tujuan utamanya yaitu mencari ruang IGD serta keberadaan Zaskia. Akhirnya mereka bertemu didepan lift.
"Zas gimana keadaannya Zevana sekarang? tadi gue cari ke IGD katanya udah dipindahin ke rawat inap ya?" tanya Zweta dengan nafas yang tidak beraturan.
"Iya Zevana sekarang lagi di rawat inap" jawab Zaskia sambil membawa makanan dan minuman yang ia beli dari kantin di rumah sakit.
Ting..
Suara pintu lift terbuka lebar, mereka berdua telah memasukinya menuju rawat inap VIP tempat Zevana dirawat.
__ADS_1
cklek..
Terdengar suara pintu telah dibuka oleh Zaskia segera menutupnya kembali. Zweta berjalan perlahan mendekati Zevana yang masih belum ada respon tersebut. Perasaan yang sama ketika menatap wajah Zinta yang tidak dapat ia tutupi. Belum sampai ia berucap, air mata terus saja mengalir dengan sesenggukan. Pertanda bahwa hatinya memang sedang butuh waktu untuknya tenang.
"Zevana cepat bangun yuk. Coba lihat deh gue bawain apa buat lo? ini bola basket kesayangan lo gue taro di meja ya" ucap Zweta yang merasa dirinya tidak bisa berpura-pura terlihat tegar diantara masalah yang dihadapi.
Zaskia yang tengah menaruh bawaan makanannya mengetahui Zweta sedang menangis segera memeluknya agar hatinya membaik.
"Zaskia" bisik Zweta memeluk sahabatnya di ruangan tersebut.
"Kita boleh aja sedih. Tapi nggak melulu nangis terus kan? nanti yang ada lo jadi ikutan sakit gimana? mereka juga pastinya pengen lihat kita tetap sehat. Lebih baik sekarang lo makan dan minum dulu. Ini udah gue siapin semuanya di meja. Nanti kita jagain Zevana gantian ya?" bujuk Zaskia dengan nada yang lembut.
Kedua mata Zweta yang sembap menghiasi wajahnya. Ia terlihat sudah membaik ketika mendengarkan saran dari sahabatnya. Ia segera melakukan apa yang dibutuhkan untuknya yaitu makan dan minum sesuai porsinya.
"Gue belum kasih kabar ke orangtuanya Zevana. Menurut lo gimana?" tanya Zaskia mencari topik obrolan yang lain.
Saat Zweta ingin menjawab pertanyaannya, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya seorang dokter yang menangani Zevana sedang berkunjung bernama dokter Renata.
cklek..
"Maaf apakah kedua orangtua dari pasien bernama Zevana bisa dihubungi?" tanya salah satu perawat.
Ucapan perawat belum bisa dijawab oleh Zaskia dan Zweta. Namun ucapan dari dokter yang sangat ditunggu bagi mereka berdua.
"Gimana keadaan sahabat saya dok?" tanya Zweta segera menghampiri keberadaan dokter Renata.
"Belum bisa terdeteksi lebih akurat. Perkiraan saya mungkin sebentar lagi akan sadar" ucap dokter Renata dengan tersenyum.
"Alhamdulillah" ucap Zaskia dan Zweta secara bersamaan.
"Saya akan terus memeriksa pasien saya dengan baik. Untuk kabar kepala yang terbentur bisa saja sewaktu sadar, pasien akan mengalami hilang kesadaran" ucap dokter Renata memberikan penjelasan dengan tegas.
"Mungkinkah itu disebut lupa ingatan dok?" tanya Zweta dengan penasaran.
"Iya benar. Kalau berkenan bisa tolong ceritakan bagaimana pasien bisa mengalami cidera pada kepalanya?" tanya dokter Renata.
* to be continued..
__ADS_1