Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Hikmah


__ADS_3

Senyum ramah itu berubah dalam sekejap menjadi perasaan khawatir yang datang menerpa. Tentunya Zevana merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya.


Zevana sudah terlihat nyaman berbaring di kamar tidurnya sendiri. Tanpa adanya gangguan lalu lalang petugas yang sewaktu-waktu datang berkunjung memeriksa Zevana secara bergantian, saat berada di rawat inap.


"Tolong jelaskan keadaan yang sebenarnya Zweta?" tanya Fahri bertanya secara langsung pada Zweta.


"Maaf sebelumnya saya baru ngabarin Tante dan om. Zevana baru aja pulang dari rumah sakit hari ini" ujar Zweta dengan suara lembut dan sedikit bergetar karena tidak kuat menahan air matanya.


"Rumah sakit? anak saya nggak punya riwayat penyakit yang serius. Kenapa bisa dirawat? tolong jelaskan yang rinci, jangan berbelit" sahut Fahri dengan berbicara tegas.


"Zevana dirawat seminggu karena mengalami benturan di kepalanya hingga mengalami koma" jawab Zweta dengan terus terang tanpa disadari air matanya pun ikut menetes.


"Astaghfirullah koma? kenapa kamu baru ngabarin sekarang hah? kamu tahu kan Zevana anak satu-satunya? siapa orang yang udah berani sama anak saya? ayo jawab" sambar Fahri yang menjadi emosi setelah mendengar alasan yang menimpa Zevana.


Fahri terus memaki Zweta yang tidak salah apa-apa. Beranjak dari kursi duduknya hanya ingin tahu siapa nama orang yang sudah membiarkan Zevana terluka. Zweta enggan memberi tahu nama yang dimaksud oleh Fahri.


"Udah pi hentikan. Zweta nggak salah apa-apa. Harusnya kita yang berterimakasih padanya. Yang penting keadaan Zevana sekarang sudah membaik" bujuk Mita dengan pelan pada suaminya dengan berlinangan air mata.


"Wajar papi emosi. Nggak ada kabar sama sekali. Tiba-tiba datang bawa Zevana dalam kondisi yang tidak memungkinkan" sahut Fahri juga ikut menangis pada keadaan.


"Mami papi maafin Zevana ya? dulu Zeva selalu cuek sama mami dan papi. Menganggap tingkah kalian seperti anak kecil yang selalu berdebat. Padahal semua itu cuma buat menarik perhatian Zeva. Sekarang Zeva sadar dengan kondisi saat ini. Ternyata kasih sayang itu tetap sama dan nggak pernah berubah" batin Zevana berbicara didalam hatinya.


Zevana ikut berbicara tanpa disadari oleh ketiga orang yang sedang berbicara dalam satu ruangan. Karena ia hanya berbicara dalam hati, hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya.


Ia pun ikut membanjiri Air mata, menunjukkan bahwa dirinya memperhatikan pembicaraan diantara mereka semua.


Fahri hanya bisa pasrah, emosinya mulai mereda dengan keadaan yang mengharuskan dirinya tetap sabar. Apalagi sedang menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.


"Astaghfirullah. Ya Allah maafkan hamba mu yang kurang sabar dalam menghadapi ujian kehidupan ini" ucap Fahri bernafas lega.


"Saya minta maaf ya Zweta dengan semua ucapan dan sikap yang kurang berkenan" ucap Fahri dengan nada yang pelan didengar.


"Iya gapapa om. Saya yang harusnya minta maaf. Jika saya memberitahu dari awal, mungkin perasaan Tante dan om akan sangat sedih. Walaupun telat berkabar, setidaknya saya sudah berkata jujur" jawab Zweta dengan rasa bersalah dengan kepala yang menunduk.

__ADS_1


"Terimakasih ya. Kamu sudah memikirkan perasaan kami sebagai orangtua yang selalu khawatir keadaan anaknya berada dimana" sahut Mita memberikan senyuman pada Zweta.


Ketika Mita hendak menghampiri Zweta, ia mendengar ucapan seseorang yang terdengar pelan dan samar.


"Mi?" bisik Zevana pelan.


Karena hubungan batin antara anak dan orangtua sangat berkaitan, Mita pun dengan sigap berbalik kembali ke arah Zevana.


"Iya sayang" ucap Mita sambil memegang telapak tangan Zevana dengan lembut.


Mendengar ucapan Mita yang merespon pada suara Zevana barusan, Fahri segera menghampirinya. Ingin tahu kabar baik selanjutnya yang diharapkan yaitu kesembuhan.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya om Tante?" ucap Zweta sambil mencium punggung telapak tangan kedua orangtuanya Zevana.


"Iya Zweta terimakasih banyak ya sudah menjaga Zevana dengan baik" jawab Fahri dan Mita secara bersamaan sambil memberikan senyuman yang tulus padanya.


"Kamu hati-hati di jalan ya" ucap Mita memberikan pelukan kasih sayang seorang ibu yang menganggap Zweta seperti anak kandungnya.


"Iya Tante terimakasih. Assalamualaikum" ucap Zweta mengucapkan salam sambil memberhentikan taksi yang lewat untuk kembali ke ruang laboratorium Zinta.


"Ya Allah engkau yang maha melihat dan maha mendengar, berilah petunjuk untuk Zaskia agar ia tetap pada keceriaan yang selalu saya kenal seperti dulu, Aamiin" ucap Zweta saat berdoa di dalam taksi yang ditumpanginya.


...****...


Berjalan mundur selangkah dari peristiwa yang dialami oleh Adnan. Keadaan pulpen Zedfour yang telah menariknya dalam suatu pusaran. Menyebabkan kedua matanya perih terkena angin dari penelitian Zinta.


Tiba-tiba Adnan terbangun begitu saja dan terlepas dari tubuhnya. Memberitahu ke setiap orang terdekatnya bahwa ia benar-benar telah tiada.


"Tapi kan pas lo merasa terpisah gitu aja dari tubuh lo. Lo belum coba buat kembali lagi?" tanya Zinta yang semakin penasaran dengan semua pemikirannya.


"Maksudnya?" sahut Adnan menjadi tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Zinta.


Zaskia yang terlarut menangisi kesedihannya merasa lelah, ia terbaring lemah dan tertidur di tempat yang sama yaitu dengan posisi kepalanya bersandar pada pinggiran tempat tidur Adnan.

__ADS_1


"Nggak ada salahnya kan mencoba? iya jadi maksud gue itu. Lo tetap terbaring disana" ucap Zinta memperjelas kalimatnya.


"Ohiya gue ngerti maksud lo sekarang. Oke gue coba dulu ya" jawab Adnan mengikuti saran dari Zinta yaitu kembali pada tubuhnya yang terbaring di ruangan laboratorium yang dimaksud.


Wussh..


Saat dirinya hendak kembali, ia melihat Zaskia yang sedang menemaninya dalam ruangan yang dingin.


"Zaskia?" bisik Adnan dengan pelan.


Akhirnya Adnan memberanikan diri untuk kembali pada tubuhnya dalam posisi terlentang yang terbaring di tempat tidur pasien.


Pagi pun tiba sekitar jam sepertiga malam Zweta sudah sampai di rumah Zinta dalam keadaan selamat sampai tujuan.


"Assalamualaikum" ucap Zweta sambil berjalan menaiki tangga lantai atas.


Tap..


Ia melihat kondisi dalam ruangan terlihat sangat sepi.


"Rupanya orang rumah sudah pada tidur" ucap Zweta sambil menaruh ranselnya di kamar tidurnya, untuk beristirahat menyambut pagi yang cerah esok hari.


Kedua matanya Adnan pun terbuka secara perlahan, ia menoleh ke arah samping. Rupanya ia melihat Zaskia yang sedang tertidur pulas. Ia mencoba bangun sambil duduk, memegang kepalanya yang terasa pusing sementara.


Mungkin karena ia mengalami tidur panjang, hingga ia mengalami suatu keadaan tersebut.


"Zaskia bangun" ucap Adnan sambil membelai rambut Zaskia dengan nyata dan tidak tembus pandang.


Merasa terkejut dengan apa yang sudah dilihatnya. Kini giliran dirinya yang menangis tidak percaya Ia masih bernafas. Suara tangisannya tidak mampu membangunkan Zaskia yang sedang terlelap tidur.


Adnan segera turun dari tempat tidurnya hanya untuk memindahkan Zaskia ke tempat yang tidak terasa dingin. Memberikan selimut serta bantal yang ia letakkan pada kepalanya Zaskia. Lalu Adnan tidur di kursi yang bersebelahan dekat dengan kursi Zedric.


Menunggu hari esok tiba dengan sejumlah kejutan.

__ADS_1


* to be continued...


__ADS_2