
Zevana sendirian di suasana yang terasa sangat dingin dalam mimpinya. Berkesempatan untuk melihat dari dekat sesuai harapan yang diinginkan.
"Seharusnya dia ada disini" ucap Zevana melihat keadaan disekitarnya terdapat banyak timbunan tanah yang tertutup oleh salju.
Ia berjalan seorang diri mengikuti arah mata angin serta berbicara sambil menadahkan kedua tangannya dibawah langit yang menurunkan salju di musim dingin.
"Kenapa nggak bilang kalau hari ini ada salju?" tanya Zevana sembari berdiri di suatu tempat yang terbentang luas tidak ada yang menemani.
Tiba-tiba seseorang hadir tepat dibalik punggungnya, dengan mendekatkan wajah pada bahu Zevana.
"Emangnya harus ya gue menghitung salju setiap kali ia turun?" jawab suara seseorang terdengar sangat dekat dengan dirinya.
"Suara itu? kirain nggak ada orang lagi disini selain gue" gumam Zevana didalam hatinya.
Zevana segera membalikkan badan, menjadi terkejut lantaran suara yang sudah lama tidak terdengar lagi, kini sudah ada di hadapannya.
Kedua mata dua sejoli yang menyandang gelar sahabat tersebut, akhirnya bertemu kembali di dalam mimpi Zevana. Tanpa harus menunggu waktu lama di kehidupan berikutnya.
Walaupun terbilang dekat antara wajah keduanya yang saling berhadapan, kedua hidung diantara mereka saling bersentuhan, dengan hembusan nafas dingin yang keluar dari mulut yang ternganga kecil.
"Dia datang" gumam Zevana kembali didalam hatinya.
Zevana melihat perubahan yang sangat besar pada Zedric yaitu sebutan Professor sudah berhasil di raihnya.
Secara fisik Zedric menarik dengan tinggi yang ditaksir sekitar 180 senti meter dan berat badan yang proporsional. Didukung pula dengan kulit putih bersih dan rupa campuran antara barat serta korea selatan makin membuatnya tampak menawan.
"Hai apa kabar?" sapa Zedric padanya.
Detak jantung Zevana semakin berdegup kencang dan tidak beraturan. Tidak tahu ingin menjawab perbincangan yang menjadi langkah selanjutnya diantara mereka.
"A-ku baik" jawab Zevana dengan terbata-bata karena merasa kedinginan atau memang sedang merasa gugup.
"Kata siapa merasa baik, buktinya lo lagi kedinginan sekarang" sahut Zedric sembari melepaskan jas putihnya untuk dipakaikan pada tubuh Zevana.
Kedua telapak tangan Zedric mendaratkan di daun telinga Zevana yang terlihat kemerahan akibat dari kedinginan yang terlalu lama menemani.
"Gimana sekarang udah mendingan kan?" tanya Zedric memastikan keadaan agar terlihat baik-baik saja.
Zevana merasa tidak bisa berkutik dengan semua perlakuan manis yang dilakukan oleh seorang lelaki yang ditaksirnya.
__ADS_1
"Kenapa diam aja?" Tanya Zedric sekali lagi.
Zedric mendekatkan wajahnya memposisikan tulang pipi saling bertemu sambil berbisik sesuatu padanya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan" Bisik Zedric dengan ucapan nada yang lembut didengar.
Zevana merasa mengerti dengan segala ucapan yang dikatakan oleh lelaki itu barusan. Intinya jika masih ingin mempertahankan, maka harus siap menantikan.
"Gue siap nunggu lo sampai kapanpun" Ucap Zevana dengan polosnya.
"Makasih ya" Sahut Zedric memberikan senyuman khasnya dengan sebuah rangkulan yang menghangatkan.
Namun ketika merasa tersadar dengan membuka kedua matanya yang sempat terpejam, semua itu sirna sudah. Rupanya adegan tersebut merupakan serangkaian mimpi yang dialami Zevana ketika sedang tertidur pulas yang mengantarkannya pada keadaan yang seharusnya terjadi.
Sejajar searah mata angin, tegak berjalan lembut adalah cara melihat Zedric dengan teduh memberikan senyuman tulus pada seorang perempuan spesial di hatinya.
...Sebuah nama yang penuh arti...
...Tertulis sajak tentang mimpi...
...Teka-teki yang menghampiri...
...****...
Keesokan di pagi hari, Zweta berniat menyusul Zevana di rumahnya dengan tujuan ingin meminta maaf padanya karena sudah membuat perdebatan baru diantara mereka.
Namun ia mendapatkan kabar bahwa Zevana tidak ada di rumah dari semalam. Padahal dengan jelas Maminya melihat putri kesayangannya itu sudah masuk ke dalam kamar tidurnya. Sebab sebelumnya Zevana berpamitan tidur lebih awal.
"Makasih ya tante informasinya" Ucap Zweta pamit pulang menggunakan sepeda motor sebagai kendaraannya.
"Iya sama-sama. Nanti kalo Zevana udah sampai rumah tante kabari ya" Sahut mami Mita seraya menutup pintu rumahnya.
Di tengah perjalanan pulang, Zweta membagi dua pikiran dalam otaknya yaitu fokus dan menyempatkan diri untuk memahami informasi yang didapat tentang sahabatnya.
"Kenapa terdengar aneh ya? Masa Zeva kabur dari rumah sih? Tapi buat apa gitu, lagian kan nggak mungkin lah dia nyari Zedric sampai segitunya" Gumam Zweta dengan pandangan ke arah jalan raya.
"Gue ke rumah Zinta aja deh" Ucap Zweta memutar balikkan arah pada kendaraannya.
Tok.. Tok..
__ADS_1
Suara pintu rumah Zinta diketuk dari arah luar.
"Zinta lo lagi sibuk ngga?" Tanya Zweta mengetuk pintu hingga tiga kalinya.
"Oh Iya gue baru inget, kan Zinta lagi diundang di acara resmi ketua olimpiade sains internasional. Terus masa gue balik aja gitu? Ah nanggung banget, gue masuk aja deh ke dalam" Ucap Zweta bermonolog dan tetap melangkahkan kakinya ke dalam ruangan laboratorium.
Seperti biasa Zweta membaca buku mengenai penelitian Zinta yang semakin canggih.
"Oh jadi dia buat penemuan soal mimpi yang jadi kenyataan. Pantas saja Bu Lolita sangat tersanjung melihat kejeniusan Zinta" Ucap Zweta memberikan pendapat setelah membaca sebuah tulisan.
"Tapi ko bisa ya buat ramuan semacam itu? Apa benar sudah terbukti? Zinta kan nggak punya waktu buat jadi bahan percobaan penelitiannya sendiri" Ucap Zweta bermonolog.
Tiba-tiba dering ponsel Zweta berbunyi menandakan seseorang sedang menghubunginya saat ini.
π² "Halo Zweta lo lagi dimana sekarang?" Tanya Zaskia dalam percakapan telepon seluler.
π² "Gue lagi di laboratorium Zinta nih. Kenapa ya Zas?" Jawab Zweta memberitahu.
π² "Gapapa. Yaudah gue kesana ya sebentar lagi, soalnya gabut banget di rumah terus" Jawab Zaskia berbicara tanpa basa-basi.
π² "Oke deh kalo gitu ditunggu ya" sahut Zweta sambil menutup ponselnya.
Sembari menunggu kedatangan Zaskia di tempat yang sama, Zweta melanjutkan melihat tabung reaksi. Suatu benda yang ia cari dan ada kaitannya dengan sebuah mimpi seseorang.
"Dalam penulisan ada lima tabung ramuan yang dibuat oleh Zinta, tapi kenapa cuma ada empat saja ya?" Ucap Zweta memberikan tajuk baru dalam pemikirannya.
Selangkah maju alas sepatu Zweta menginjak pada sebuah tabung reaksi yang berada di atas lantai keramik, berdekatan dengan beberapa rak penelitian.
"Ah apa ini?" Ucap Zweta mengambil sesuatu yang mengganjal pada pijakan kakinya.
"Pecahan kaca? Sepertinya ini dari salah satu tabung reaksi dari kelima buah penelitian yang sempat gue cari sebelumnya" ujar Zweta segera merapat pada meja laporan mencari tahu detail rahasia sesungguhnya.
"Jika Zinta tidak bisa membantu, apa gue mesti minta bantuan Zedric? Karena dia juga seorang Profesor?" Ucap Zweta memikirkan alternatif untuk mengganti peran Zinta sementara waktu.
* to be continued
πΈπΈπΈ
Halo semuanya, author pengen tahu nih seberapa banyak orang yang suka sama novel ini?
__ADS_1
Terimakasih ππ