
Zedric menjadi kebingungan kenapa dirinya tiba-tiba dipukul begitu saja oleh Zaskia. Hingga ia berpikir apakah ini yang dimaksud ucapan Zweta barusan. Zaskia nekat memukul wajahnya dengan segudang amarah.
Zedric terdengar mengganti bahasa kesehariannya menjadi bahasa gaul seiring berjalannya waktu. Karena terlalu sering mendengarkan ucapan mereka hampir tiap hari.
"Atas dasar apa lo mukul gue? coba jelasin" bentak Zedric yang terlihat meraih meja didekatnya untuk membantu tumpuan kakinya berdiri.
"Masih pura-pura lupa. Ternyata lo jago akting juga ya?" sambar Zaskia yang terlihat tidak mau kalah berdebat.
"Jujur gue nggak tahu apapun tujuan lo sebenarnya" jawab Zedric mengambil langkah diam ditempat.
"Kayaknya sebanyak penjelasan yang diucapkan nggak cukup buat melampiaskan amarah gue" sambar Zaskia dengan memantapkan langkahnya dan segera melayangkan kembali pukulan kedua untuk Zedric.
Namun kepalan pukulan tangan Zaskia telah ditahan oleh tangan Zedric tepat didepan wajahnya. Menurutnya ini sebuah langkah yang tegas agar Zaskia tidak dapat menuruti semua emosinya.
"Apa? kenapa bisa?" gumam Zaskia melihat tangannya sudah tidak bisa ia gerakkan lantaran Zedric telah menangkisnya.
"Lo salah orang buat diajak berkelahi. Karena lawan lo seorang pria. Itu semua nggak seimbang dengan kekuatan lo yang penuh amarah sekalipun" sahut Zedric dengan mendorong tangan Zaskia hingga terjatuh.
BRUKK..!
Suasana tersebut semakin menegangkan karena pada hari ini kebetulan hujan sedang turun sangat deras diiringi suara petir yang menggelar. Suatu keadaan yang mengingatkannya kembali ketika melihat Zinta terperangkap dalam pusaran milik Zedric.
Dwarr..!
Terdengar suara petir yang dapat menggetarkan suatu tempat serta menelusuri jalan pikiran yang dapat menghubungkan ingatan seseorang dengan sebuah penelitian yang dialami oleh Zinta.
Kedipan mata Zinta lambat laun sudah mulai terlihat, cara pandangnya pun masih dalam keadaan agak sedikit samar. Karena masih belum jelas apa yang dilihatnya. Secara tidak langsung ia mengabarkan respon positif bahwa dirinya siap untuk berpetualang kembali.
"Siapa disana?" batin Zinta yang sudah mau berbicara didalam hatinya.
Ia terlihat masih menggunakan lensa eye camera mendapatkan sinyal terhubung dibantu dengan datangnya suara petir untuknya terbangun.
...Akses terhubung...
Entahlah apa yang sedang dipikirkan oleh Zaskia saat ini. Pandangannya sedikit berbeda ketika melihat respon Zedric yang menunjukkan seperti akan mencengkeramnya. Padahal sebenarnya tidak begitu adanya. Ia hanya berprasangka buruk pada Zedric.
"Jangan mendekat" ucap Zaskia sambil berjalan mundur namun tetap memperhatikan gerak-gerik Zedric.
Ia meringkuk di sudut ruangan yang kiranya tidak dapat terlihat kembali dari pandangan Zedric. Menjadi terdiam seketika menunggu suara petir agar tidak terdengar lagi dari pendengarannya.
"Mungkinkah dia trauma?" batin Zedric membicarakan Zaskia sambil merapikan meja penelitian yang sempat terjungkal barusan.
Ckckck..!
đĽď¸â¨ď¸ Terdengar suara ketikkan keyboard yang dilakukan oleh Zedric. Padahal luka di wajahnya masih terasa sakit walaupun sudah dibalurkan obat merah. Ia tetap melanjutkan kegiatannya kembali.
__ADS_1
Sesekali ia melihat keadaan Zaskia yang tidak terdengar suara apapun dari kejauhan. Ia pun berjalan menghampiri sebuah ruangan khusus yang belum pernah ia singgahi selama dirinya merawat Zinta.
"Dilarang masuk selain petugas laboratorium" ucap Zedric sambil membaca tulisan tepat di depan pintu tersebut.
Ia pun kembali meninggalkan tempat itu, namun langkah kakinya berhenti karena ia merasakan sesuatu yang mengganjal di benaknya. Merasa ada tanda kehidupan dari dalam ruangan yang dimaksud.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan.
Cklek..!
Suara pintu dibukanya perlahan, hawa dingin yang berhembus itu keluar dari dalam ruangan untuk menghampirinya. Ia melihat seorang pria yang terbaring seorang diri dalam keadaan tertidur. Ia membaca sebuah tulisan pada tempat tidurnya yang sekilas seperti sebuah nama. Tulisan itu dibaca Adnan.
"Adnan? siapa dia? mungkin dia dijadikan penelitian baru oleh Zinta?" gumam Zedric bertanya-tanya dalam hatinya.
Ternyata Zaskia sedang memperhatikan keberadaan Zedric. Ia melanjutkan misinya kembali dengan alasan suara petir sudah tidak terdengar lagi. Kini ia sudah berada tepat dibelakangnya Zedric seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Zedric dapat mengetahui bahwa ada seseorang sedang berada dibelakangnya, lantaran ia merasakan hembusan nafas yang melingkar di lehernya tersebut.
Tanpa basa-basi Zaskia segera mendorongnya, namun semua itu ditepis oleh Zedric lantaran dirinya dengan sigap berbalik badan kearahnya. Mengandalkan kedua tangannya untuk menarik serta Zaskia ke depan hingga ia tersungkur tepat diatas tubuh Adnan.
BRUKK..!
Zedric masih terlihat berdiri di tempat itu melihat sikap Zaskia yang sudah mulai berani diluar batas pikirannya.
"Ayo jawab" gertak Zedric pada Zaskia sambil membanting pintu.
Brakk..!
Zaskia pun terbangun dan menoleh pada seseorang yang dilihatnya. Ia menjadi sangat terkejut karena posisinya kini berada dalam dekapan Adnan yang terasa dingin.
"Adnan? enggak ini pasti bukan kamu kan? pasti ini cuma patung yang sengaja ditaro disini kan?" ucap Zaskia yang menjadi menangis sesenggukan.
Zedric menatap dalam keadaan Zaskia yang tadinya penuh emosi berubah menjadi perempuan yang sangat rapuh hatinya ketika melihat pria yang bernama Adnan. Ia pun menjadi ikut bersedih hati sedang menyaksikan dua sejoli yang saling menyayangi sudah tidak bisa bersamanya lagi.
...****...
...Suara mengganggu telah menghilang...
...Tepat di malam hari bukan siang...
...Dirinya mendapat titik terang...
...Dari orang yang tersayang...
đ¸đ¸đ¸
__ADS_1
Dalam waktu yang singkat Zinta sudah mampu menggerakkan anggota badannya secara bergantian. Rupanya vonis Zedric yang menyatakan Zinta koma itu benar adanya. Ia terbangun karena mendapat respon dari suara petir yang menghampirinya.
...Akses terhubung...
Kacamata Zinta yang canggih tersebut sudah mengucapkan kalimat yang sama hingga dua kali. Hingga ia mencoba terbangun dalam keadaan duduk di tempat tidurnya.
Kepalanya terasa masih sedikit pusing untuk digerakkan secara cepat. Ia mendengar seseorang sedang menangis yang tidak asing di telinganya.
"Zaskia?"gumam Zinta.
Berusaha beranjak bangun dari tempat tidurnya hanya untuk menghampiri sahabatnya yang sedang menangis. Namun dirinya malah menjatuhkan sebuah tabung reaksi yang untungnya tidak ada isinya.
Prang..!
Zedric mendengar suara yang berasal dari arah meja penelitian.
"Suara apa itu?" ucap Zedric yang segera mencari tahu suara itu berasal serta meninggalkan Zaskia disana.
Setelah datang ke tempat yang dimaksud, ia mendapati Zinta sedang bersimpuh di lantai diantara pecahan tabung reaksi yang bersuara barusan.
"Zinta?" ucap Zedric segera menghampirinya dengan tatapan terkejut merasa tidak percaya bahwa Zinta sudah sadar kembali.
"Alhamdulillah ternyata lo udah sadar ya? syukurlah kalau begitu" ucap Zedric dengan tersenyum bahagia sambil membantunya berdiri.
Zinta merasa tumpuan kakinya tidak dapat membantunya berdiri. Mengingat dirinya baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Tapi kepala gue masih pusing nih buat bergerak" jawab Zinta memberitahu Zedric.
"Yaudah kalau gitu biar gue aja yang bantuin Lo bangun ya?" pinta Zedric dengan nada yang lembut.
Zedric inesiatif membopong Zinta untuk membawanya kembali ke tempat tidur pasien.
"Ko begini jadinya?" tanya Zinta menjadi aneh melihat sikap yang dilakukan oleh Zedric padanya.
Zedric tidak menghiraukan perkataan yang diucapkan oleh Zinta. Ia tetap berjalan tanpa merasa terbebani dengan berat badan yang dimiliki oleh Zinta.
.
.
.
Kacamata Zinta tidak bisa berbohong, suatu penglihatan yang membuatnya penasaran adalah siapakah seseorang yang dimaksud? yang mampu menarik perhatian fungsi kecanggihan eye camera hingga bersuara akses terhubung?
* to be continued...
__ADS_1