
Tepat di titik koordinat dalam suatu wilayah deru angin itu mengelilinginya. Suatu pertempuran yang dapat menggetarkan permukaan tanah termasuk pijakan kaki yang dirasakan oleh Zedric beserta Zevana.
"Zinta pasti disana. Gue nggak akan sia-siakan kesempatan ini buat bantuin lo" gumam Zedric didalam hatinya.
"Zev lo tunggu disini aja ya?" ujar Zedric memberitahu dengan melangkahkan kakinya.
"Tapi apa alasannya? Zinta kan sahabat gue juga" jawab Zevana sambil memberhentikan langkah Zedric dengan cara meraih lengannya.
"Disana sangat berbahaya" sahut Zedric yang ingin melihatnya agar tetap ditempat yang aman.
"Kalau itu berbahaya, kenapa lo masih nekat kesana? gue akan tetap nyusul Zinta tanpa sepengetahuan lo" sahut Zevana yang mulai terlihat keras kepala jika diberitahu.
Zedric tidak ingin melanjutkan perdebatan diantara mereka. Karena semua itu dapat menghambat perjalanannya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkannya sendirian di tempat itu.
Zedric mengudara menggunakan peralatan canggih yang ia pinjam dari Zinta. Kedua matanya siap untuk membidik sasaran yang dituju.
...****...
"Perputaran anginnya semakin besar. Sehebat apapun teknologi yang gue buat, pasti akan luntur jika perbandingannya jauh dari kata seimbang" gumam Zinta didalam hatinya.
Kini ia berada di tengah gulungan pusaran angin tersebut. Sempat terbesit dalam benaknya yaitu menggunakan pulpen Zedfour miliknya agar kedua kekuatan yang sama dapat bersaing.
"Pasti baju perlindungan yang dapat melindungi kamu kan profesor? dasar licik. Bagaimana dengan kekuatanku yang lain masih bisakah bertahan lebih lama lagi? hahaha" ucap suara pusaran angin tersebut.
Kali ini rivalnya Zinta mengerahkan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya termasuk petir yang menyambar.
"Ini tidak mungkin. Gue akan mati seketika" ucap Zinta ketika melihat dahsyatnya kekuatan yang akan ditujukan padanya.
Zinta menyipitkan matanya seolah sedang bersiap diri untuk menerimanya dengan pasrah.
Ketika petir itu siap dilayangkan padanya, tiba-tiba seseorang datang melindunginya dengan caranya sendiri.
Boom
Suara tembakan yang diluncurkan mengarah pada petir yang ingin menyambar keberadaan Zinta. Hingga pergerakan petir itu berpindah ke tempat yang berbeda.
Dwarr
Tiba-tiba air mata Zevana mengalir, merasa takut jika petir itu dapat menyambar pada seseorang yang sedang dinantikan kedatangannya.
"Semoga kalian berdua baik-baik saja" ucap Zevana termenung sepi.
Situasi yang sangat mencekam masih menyelimuti mereka yang sedang melawan pusaran angin.
"Ada apa ini?" tanya pusaran angin ketika melihat kekuatan yang sangat berpengaruh menjadi tidak sesuai dengan keinginannya.
"Hentikan semuanya! gue pastikan orang yang saat ini lo hajar adalah sangat berarti dalam hidup gue" teriak Zedric dengan suara yang mampu menyaingi suara badai.
"Zedric?" ucap Zinta membuka kedua matanya setelah mendengar suara Zedric.
__ADS_1
Zedric segera menarik keluar Zinta dari pusaran. Ia mengalihkan perhatian lawannya dengan cara meluncurkan beberapa tembakan berupa pusaran angin kecil kearahnya.
"Ayo cepat lari" ujar Zedric sambil menuntun tangan Zinta dengan cara mengudara.
"Tadi lo ngapain?" tanya Zinta sambil menoleh pada Zedric.
"Barusan gue alihkan perhatiannya aja" jawab Zedric dengan hati-hati.
"Yang benar?" tanya Zinta dengan terkejut.
"Maafin gue ya Zinta" ucap Zedric yang sesekali menoleh kearah belakang hanya untuk mengetahui keberadaan pusaran angin yang sedang mengejarnya.
Kemudian pusaran angin tersebut tetap bergerak serta dapat mengelilingi mereka berdua dengan semakin cepat. Hingga berpikir bahwa keduanya dipastikan terjebak dan tidak bisa keluar dari kekuasaannya.
"Gue nggak akan pergi dari sini" sahut Zedric menjadi benteng pertahanan Zinta.
Melihat sikap Zedric yang selalu mengatakan ingin melindunginya, akhirnya Zinta turun tangan untuk menyerang pusaran angin dengan bantuan peralatan canggihnya.
Boom
Suara tembakan yang diluncurkan berupa serbuk lapisan emas yang terdapat dari sampul pulpen Zedfour.
"Rasakan ini! " teriak Zinta dalam pusaran yang mengelilinginya.
Pusaran angin tersebut semakin lama menjadi menipis seiring berjalannya waktu. Sadar bahwa lawannya tidak mau kehilangan kekuatan, akhirnya mundur dengan cepat.
"Syukurlah dia sudah pergi" ucap Zinta dengan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
Di tengah perjalanan setelah merasa sudah mengalahkan lawannya, mereka berdua berbicara.
"Lo nggak berubah ya dari dulu Zinta" ujar Zedric dengan tatapan kagum.
"Itu semua karena dukungan yang selalu menemani gue" jawab Zinta dengan tersenyum.
"Makasih ya Zinta untuk semuanya" ucap Zedric untuk yang kesekian kalinya.
"Gue juga mau bilang makasih, gue nggak salah udah mempercayakan lo buat jagain ketiga sahabat gue" ucap Zinta dengan terharu.
"Iya sama-sama. Udah jangan nangis dong" jawab Zedric sambil mengusap air matanya Zinta.
Kini mereka sudah tiba di mesin Z1 dengan selamat. Hingga lupa memeriksakan sahabatnya masih ada yang tertinggal di tempat tersebut.
"Nan akhirnya kita semua selamat" ucap Zaskia sambil berlinangan air mata.
"Iya Zas" jawab Adnan sambil berjalan mendekati tubuhnya yang sedang terbaring di tempat tidur.
Zaskia sudah tidak sabar menunggu Adnan kembali ke sisinya. Kemudian tubuhnya menolak kehadirannya.
"Nggak bisa. Mungkin anginnya belum hilang sepenuhnya" ucap Adnan memberi tahu.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan dari Adnan barusan, ia pun inesiatif untuk menanyakan pada Zinta. Namun semua itu tidak jadi dilakukannya karena mendengar kabar Zevana belum kembali.
Zweta sedang bersiap diri untuk mengatur posisi perannya sebagai nahkoda kapal. Ia sudah menjalankan mesin seperti yang pernah dilakukan sebelumnya yaitu pada saat menjelajah waktu.
"Zweta! " teriak Zinta dengan tersenyum.
"Zinta? syukurlah kalian selamat" ucap Zweta berlari menghampirinya.
Pandangan Zweta merasa ada yang kurang dilihatnya. Rupanya benar Zevana belum kembali bersama mereka.
"Zevana kemana?" tanya Zweta seketika.
"Astaghfirullah ketinggalan" ucap Zedric sambil menepuk keningnya.
Semua orang di ruangan mesin Z1 menatap Zedric yang seolah mengabaikan kehadiran Zevana.
"Oke gue akan nyusul Zevana sekarang" ucap Zedric dengan suara bernada rendah.
"Kita semua akan jemput Zevana kesana" ujar Zweta memantapkan ucapannya.
Kini pandangan mereka berpusat pada keberadaan Zweta.
"Kalau angin itu kembali lagi gimana?" tanya Zaskia dengan khawatir.
"Biarin aja. Katanya kita sahabat? sahabat itu tidak melupakan kehadirannya yang selalu ada menemani setiap saat" ucap Zweta kembali sambil mempersiapkan mesin yang siap digunakan.
"Zinta gue izin menaburkan lapisan emas pada semua bagian mesin luar ya?" ujar Zweta yang terlihat sedang menyibukkan dirinya.
"Tentu saja boleh" jawab Zinta sambil mengajak Zaskia juga Zweta untuk saling menguatkan pada lingkaran kecil yang dibuatnya saling merangkul.
"Betapa indahnya persahabatan diantara mereka. Mungkin setelah ini, gue akan semakin menjauh lagi. Karena gue nggak mau menyakiti hati kalian" gumam Zedric didalam hatinya.
...Ada niat untuk menghindar...
...Pada dilema yang luar biasa...
...Ucapan bisa saja berkata benar...
...Soal hati kita yang rasa...
"Zedric bilang kalau Zinta orang yang berarti dalam hidupnya" ucap Zevana yang mencoba menenangkan dirinya.
Ia duduk bersandar di balik pohon yang rindang sambil merenung.
"Sikapnya barusan bisa saja cuma sebagai sahabat. Dibilangin jangan cepat baper" gumam Zevana didalam hatinya.
Kini ia menangis sesenggukan merasa tidak ada yang peduli dengannya.
Dari arah belakang Zevana rupanya sedang ada yang memperhatikan.
__ADS_1
Kira-kira siapakah dia?
...* to be continued.....