
Setelah membaringkan Zinta kembali, Zedric tetap memberikan perhatian padanya hingga benar dalam keadaan nyaman serta baik-baik saja.
"Ini gue bawain selimut buat lo. Dipakai sendiri ya" jawab Zedric sambil memberikan selimut untuknya agar tidak merasa kedinginan.
"Makasih ya" ucap Zinta pada Zedric dengan suara yang pelan.
"Iya sama-sama. Lo jangan kemana-mana dulu. Masih perlu banyak istirahat. Yaudah kalo gitu gue tinggal ya" ucap Zedric memberikan perhatian khusus dengan senyuman manis padanya.
Merasa aneh dengan tingkah laku Zedric yang menunjukkan sikap yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian Zedric berlalu begitu saja.
Ketika hendak membaringkan tubuhnya diatas kasur, Zinta merasa ada yang sedang memperhatikannya. Padahal Zedric sudah tidak berada di tempat yang sama dengannya.
"Siapa disana?" tanya Zinta dengan suara yang memantul dalam ruangan.
Sebenarnya ia ingin sekali menoleh, namun suatu keadaan yang mengharuskannya tetap melihat dari sudut pandang lurus ke depan. Ia juga masih merasakan pusing pada kepalanya.
...Akses terhubung...
Ini yang ketiga kalinya suara tersebut terdengar kembali. Ia memusatkan penglihatannya pada bayangan sekilas yang bergerak mendekatinya.
Sudah semakin jelas apa yang berada dihadapannya.
Wussh..!
Mulai nampak angin datang berhembus ingin menyapa padanya.
"Zinta gimana kabar lo?" tanya seseorang yang masih dirahasiakan namanya.
Ia dapat bergerak cepat dengan cara melayang di udara. Dengan membawa hawa dingin dalam kedatangannya.
"Adnan? hah lo sekarang udah.." jawab Zinta terkejut sambil menurunkan kacamatanya ke bawah.
Ia tidak bisa melihat Adnan jika tidak pakai kacamata bernama eye camera tersebut. Kemudian ia pakai kembali seperti semula, lalu Adnan pun terlihat kembali.
"Nggak tahu. Masih belum jelas. Tapi gue udah pamitan ke yang lain. Mungkin karena gue belum ketemu sama lo atau bisa jadi Zaskia belum mengikhlaskan. Jadinya gue masih berkeliaran kaya gini" sahut Adnan dengan rasa bersalah sambil duduk di pinggir tempat tidurnya Zinta.
"Jujur gue masih belum percaya keberadaan lo Nan. Soal Zaskia gue bisa nebak sih. Pasti berat kehilangan lo" jawab Zinta dengan berlindung pada selimut yang diberikan Zedric barusan karena ia merasa kedinginan.
"Iya mungkin. Tapi mau gimana lagi? gue juga udah nggak ada. Nggak bakalan bisa ketemu. Eh ngomong-ngomong ko lo bisa ngeliat gue sih?" tanya Adnan penasaran memperhatikan wajah Zinta.
"Jangan dekat-dekat. Ini sangat dingin" ucap Zinta dengan suara yang menggigil kedinginan.
"Ohiya sorry" jawab Adnan ia pun berpindah tempat duduk dan menjauhinya.
"Mungkinkah suara akses terhubung menandakan keberadaan Adnan?" gumam Zinta yang sempat berpikir bahwa ini masih sebatas mimpi yang belum tentu benar.
__ADS_1
...Melewati ruang waktu...
...Hadirmu selalu ada dalam sepi ku...
...Hanya ingin bisa bertemu...
...Walau sepintas khayalan semu...
...Berusaha ikhlas melupakan...
...Tidak mampu mengatakan...
...Seseorang yang dirindukan...
...Kini sudah meninggalkan...
...Arti kebahagiaan tersisa kenangan...
...Surat dari Zaskia Untukmu Adnan...
đ¸đ¸đ¸
"Plis gue juga mau tenang. Setelah baca surat ini, gue semakin sulit untuk melupakan" ucap Adnan dengan berlinangan air mata.
"Tapi apakah semua itu akan berjalan lancar?" batin Zinta berbicara dalam hatinya.
"Jika masih ada kesempatan, apa lo masih mau ketemu Zaskia?" tanya Zinta padanya.
Adnan tertegun mendengar ucapan dari Zinta. Ia merasa tidak mungkin bisa bertemu kembali, mengingat dirinya sekarang sudah menjadi hantu yang melayang seperti Casper.
"Gimana caranya?" tanya Adnan semakin penasaran.
"Tenang aja semuanya udah diatur" jawab Zinta dengan tersenyum.
Adnan hanya bisa menuruti perintah Zinta, karena hanya ia yang bisa melihatnya seorang.
"Lo kan yang udah nolongin gue dalam pusaran?" tanya Zinta mengalihkan pembicaraan.
"Jadi lo lihat gue juga disana?" tanya Adnan kembali memutarkan pertanyaan pada Zinta.
"Berarti benar tebakan gue selama ini. Adnan bisa merasuki tubuh Zaskia" gumam Zinta dengan memikirkan beberapa pertanyaan yang menyebabkan dirinya ingin sekali menelusuri petunjuk tersebut.
"Jadi secara nggak langsung lo nyuruh gue merasuki Zedric gitu? nggak mau lah gue" sahut Adnan menjadi tertawa mendengar ucapan Zinta.
"Lo bisa dengar isi hati gue ya?" tanya Zinta dengan tatapan yang serius.
__ADS_1
"Gue kan hantu" jawab Adnan tetap disana menemaninya agar tidak merasa kesepian.
...****...
Zweta telah bersiap diri membawa barang perlengkapannya dari rumah sakit, karena dokter Renata sudah memberikan informasi terkait Zevana yang sudah boleh dibawa pulang ke rumahnya.
Ia memang belum memberi kabar pada orangtua Zevana terkait kepalanya yang terbentur dan sempat dirawat inap karena mengalami koma. Seiring berjalannya waktu ia pun tetap akan mengantarkan sahabatnya ke rumahnya. Biar nanti semua penjelasan akan ia tanggung sendiri, jika memang ada suatu pertanyaan yang diutarakan padanya.
"Zevana kita siap-siap pulang ke rumah ya. Nanti gue juga bakalan minta bantuan suster, buat bantuin lo sampai ke depan loby rumah sakit" ucap Zweta sambil membawa barang bawaannya.
"Makasih ya" batin Zevana menjawab namun tidak bisa diucapkan.
Ia hanya bisa memperhatikan gerak-gerik seseorang dalam pandangannya saja. Seluruh anggota badannya pun belum bisa ia gerakkan secara keseluruhan.
Terlihat dua orang perawat sedang membawa brankar untuk membawa Zevana menuju lobby rumah sakit serta membopongnya masuk ke dalam taksi.
Ucapan terimakasih pun Zweta ucapkan pada bantuan tenaga medis yang selalu siap membantunya selama di rawat inap.
cklek..!
Zweta telah menutup pintu taksi yang ditumpanginya. Ia memberikan alamat rumah Zevana agar segera diantarkan secepatnya.
"Maaf pak nanti minta tolong bantuannya ya" ucap Zweta pada supir taksi.
Supir taksi tersebut menganggukkan kepalanya pertanda ia siap untuk membantu.
Ting.. Tong..
Bel sudah dibunyikan oleh Zweta di depan rumah sahabatnya. Pintu itu terbuka yang menyambut adalah ibunya Zevana yang bernama Mita.
"Assalamualaikum Tante, saya Zweta. Saya kesini mau mengantarkan Zevana. Maaf baru ngabarin" ucap Zweta dengan penuh tanggung jawab sebagai sahabat.
"Waalaikumsalam maaf mau ngabarin apa ya?" tanya Mita menjadi sedikit kebingungan.
Terdengar langkah kaki seseorang dari dalam rumah yang menghampiri mereka, rupanya seseorang yang dimaksud adalah ayah Zevana yang bernama Fahri.
"Ko tamunya nggak diajak masuk ke dalam mi? kasian kan masa berdiri terus, bisa capek nanti" ujar Fahri mengajak Zweta masuk ke dalam rumahnya.
"Ohiya lupa. Hayuk masuk ke dalam rumah Zweta" ajak Mita sambil meraih tangan Zweta.
Tiba-tiba pandangan kedua orangtuanya tercengang melihat kondisi anaknya saat ini. Karena mereka tidak tahu apa pun kabar terkini mengenai putri semata wayangnya.
"Zevana?" ucap Fahri dan Mita yang segera membantunya turun dari taksi dan membawa ke dalam rumah secara bersama-sama.
* to be continued..
__ADS_1