
Bel pulang sekolah pun berbunyi.
“Zinta! Tadi Zaskia pesan ke gue, kalau lo dan Zweta disuruh kumpul ke halaman belakang sekolah sekarang, penting!” Kata Ali salah satu teman kelasnya.
Ia juga mulai merasa aneh setelah melihat keduanya, seperti ada hal yang disembunyikan. Namun ia tidak tahu harus bersikap seperti bagaimana, sebab ia segan bertanya langsung pada Zinta.
“Berhubung itu penting. Jadi apa boleh buat, ayo kita kesana” Ajak Zweta dengan semangat.
Di halaman belakang sekolah…
“Jinta! Anata wa korera subete ni sekinin o owanakereba narimasen! / ("Zinta! lo harus bertanggung jawab atas semua ini!)" Kata Zaskia.
Kebetulan ia menggunakan bahasa Jepang dengan campuran aksen bahasa Sunda.
“Ha haha suara lo kenapa Zas? Ko mendadak jadi beda banget? Udah gitu wajah lo jadi terlihat lebih dewasa, mana ada kumisnya lagi” Ledek Zevana tertawa geli sambil menunjuk kearah Zaskia berada.
“Not funny! Itu bukan kumis! hih ini tuh keringat gue belum dilap, ha haha. Zev, lo bikin gue tambah ilfil aja deh sama diri gue sendiri. Iya awalnya gue juga nggak percaya sama keadaan ini, dan gue mulai sadar pas ngaca di wastafel. Entah kapan ya, perubahan yang drastis ini mulai gitu aja? But as I remember, semalem keadaan gue masih baik-baik aja. Hingga gue curiga sama penemuannya Zinta. Mungkinkah kita bisa kaya gini, karena praktek kimia kemarin?” Tanya Zaskia.
Ia bersuara lantang dengan aksen campuran logat sunda serta bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Tentu hanya untuk meyakinkan pendiriannya.
“Kalau gitu, gue juga mau minta pertanggung jawaban lo!” Sahut Zevana.
Entah apa yang membuat Zevana menjadi ikut memanas dalam keadaan saat ini.
“Zev suara lo.. juga berubah! Tapi gue nggak lihat perubahan dari segi fisik lo” Sahut Zaskia yang juga terperangah melihat perubahan pada Zevana.
“Emang iya” jawab Zevana sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
“Iya juga sih, gue belum merasakan perubahan yang aneh selain dari segi suara aja" Ucap Zevana.
“Berarti bener kata lo Zas, kayaknya ada kemungkinan jika semua perubahan ini, berawal setelah kita meneguk ramuan itu” Ujar Zinta.
__ADS_1
Ucapannya sempat mempertanyakan beberapa pihak, lantaran mereka tidak melihat hal aneh yang ditemukan pada Zinta. Serta mulai tidak bersemangat.
“Tapi gue nggak ngeliat perubahan yang aneh sama lo, Zin?” Sahut Zaskia kembali.
“Suara gue emang nggak berubah, tapi penampilan gue yang berubah!” Jawab Zinta sambil melepaskan rambut palsu serta maskernya.
“Aaahhhh!!” Terdengar suara histeris mereka bertiga secara bersamaan.
“Zinta udah jadi Profesor lebih cepat tanpa kuliah” Sahut Zevana dengan spontan.
“Oiya sampai sekarang gue masih curiga sama lo Zweta. Soalnya gue perhatiin dari tadi, lo itu.. tenang-tenang aja deh” Ujar Zaskia sedikit curiga.
Bola matanya terpaku tajam pada seseorang yang diajaknya bicara.
“Iya Zwet, bukannya kita meneguk ramuannya bareng kemarin ya? Tapi kenapa lo nggak ada perubahan sama sekali?” Tanya Zevana ikut curiga dan merasa ada yang tidak beres dengan Zweta.
"Dangsin-i jeongmallo wonhaneun geos-eun mueos-ibnikka!,”/ ("Apa yang sebenarnya lo inginkan!)" Sambar Zaskia menaikkan nada suaranya.
“Apa sih yang mesti kalian curigai dari gue? Bukannya yang mesti disalahin itu Zinta? Kenapa malah ke gue? Gue disini udah ngikutin prosedur yang ada yah” Jawab Zweta dengan gaya andalan santainya.
“Kalau emang lo udah ngikutin prosedur, tapi kenapa nggak ada perubahan yang aneh sama lo? Walaupun cuma sedikit! Apa jangan-jangan…” Sahut Zinta geregetan.
Telapak tangannya sudah mulai mengepalkan kuat dan mulai bergerak perlahan kearahnya. Kemudian langkahnya berhenti tepat didepan wajahnya Zweta.
“Bener Prof, waktu praktek kemarin gue emang nggak meneguk ramuannya sama sekali. Gue cuma pura-pura aja, seperti layaknya asli” Jawab Zweta.
“Oh.. jadi lo udah merencanakan semuanya dari awal?” Tanya Zaskia dengan nada yang ketus.
“Terserah kalian mau bilang apa, pastinya gue punya alasan kenapa gue nggak mau ngikutin!” Timpal Zweta dengan tegas.
“I want to know, emang apa sih alasan lo itu?” Tanya Zaskia kesal.
__ADS_1
“Alasan gue simpel ko, dari awal Zinta ngasih tau penelitiannya cuma seminggu doang, gue ngerasa nggak yakin aja. inget ya baik-baik, gue bukannya menghindar, tapi antisipasi buat diri sendiri supaya nggak terjadi hal yang merugikan tanpa sesuatu yang pasti” Jawab Zweta dengan jawaban yang logis.
“Licik! Tenang aja Zwet, gue nggak akan minta bantuan lo sedikit pun! Pokoknya gue mesti nyari segala cara buat kembali seperti semula. Dan gue nggak mau acara pidato media internasional hancur gitu aja, cuma gara-gara tabung reaksi yang udah merubah penampilan gue, bukan itu aja..suara gue pun sekarang udah berubah! Setiap gue ngomong pake bahasa asing, disitu nada bicara gue akan tetep ada dan nggak pernah berubah” Sahut Zaskia sambil terisak menangisi keadaanya di situasi yang menegangkan saat ini.
“Sama gue juga! Nggak akan minta bantuan lo Zwet!” Sambar Zevana yang ikutan memperkeruh suasana.
“Kenapa nggak ikutan aja sekalian Prof kaya mereka? Kalau lo juga nggak akan minta bantuan gue?” Tanya Zweta.
Mengambil keputusan sendiri secara tegas, merupakan langkah cerdasnya untuk menangani masalah. Segeralah ia beranjak pergi dan meninggalkan tempat itu.
Zinta hanya bisa terdiam untuk mendengarkan perdebatan. Setelah pertengkaran hebat telah usai, mereka pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Kini kedekatan diantara mereka pun sudah terlihat mulai renggang, dan teman satu kelasnya yang lain juga saling membicarakan mereka.
Zevana dan Zaskia menjadi anti bertegur sapa dengan Zweta, sedangkan Zinta memikirkan berbagai cara untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
Zinta hampir putus asa, sebab dia tidak bisa masuk ke dalam ruang laboratoriumnya. Hari-hari pun berlangsung, berganti hampir mendekati pertandingan bola basket putri yang diikuti oleh Zevana, ia pun semakin cemas.
...Ketika semua keluar dari rencana...
...Pertemuan pertama...
...Menjadi akhir dari segalanya...
...Awalan yang penuh canda...
...Kini berubah menjadi cerita...
...Hanya tersimpan ingatan...
...Terabaikan oleh waktu...
* to be continued...
__ADS_1