
Zinta menghubungi kedua sahabatnya itu melalui sambungan ponsel pintarnya, agar mau berkumpul di ruang laboratorium. Membahas mengenai permasalahan diantara mereka. Menunggu sendirian di teras depan rumahnya. Setelah membukakan pintu, tak sengaja mereka bertatapan langsung dengan Ibunya Zinta di ruang tamu.
Kemudian Ibunya tersenyum pada mereka, yang tiba-tiba suara langkah kaki beliau pun berhenti. Membalikkan badannya dengan cara menegur pada Zaskia serta Zevana.
“Hei, kalian siapa?” Tanya Ibunya penasaran.
“Hhmm.. kami..” Jawab Zinta dengan terbata-bata.
“Oh guru privatnya Zinta ya? Gimana, udah beres penelitiannya? Zinta anak yang jenius kan Prof?” Tanya Ibunya antusias seraya mengingat rupa seseorang yg mirip dengan guru privatnya Zinta.
“Ah? Iya benar, saya guru.. privatnya Zinta dan kedua orang yang disamping kanan saya juga termasuk guru privatnya Bu, salam kenal. Ooo.. penelitiannya sukses Bu, Zinta itu memang anak yang jenius dan berbakat Bu. Hhm.. karena berhubung Zinta sedang menunggu kami di ruang laboratorium, jadi kami harus segera kesana Bu permisi” Jawab Zinta.
Segeralah ia bergegas dengan cepat meninggalkan Ibunya, dan tibalah mereka di depan ruang laboratorium miliknya.
“Ohiya silahkan Prof" Ujarnya.
Beliau tersipu malu dan beranjak pergi keluar rumahnya.
Menjadikan bahan obrolan seru setelah mendengar ucapan Ibu dari sahabatnya yang terkesan menyenangkan.
“Benar-benar keluarga yang aneh” Ucap Zevana.
“Fiuh! Hampir aja ketahuan” Ucap Zinta sambil menaruh telapak tangannya ke dada.
Sementara itu saat di luar beliau berbicara sendirian dalam keheningannya.
“Lho.. sejak kapan Zinta punya guru private? Aneh” Ucapnya sambil terus berjalan kearah yang dituju.
“The number one Professor Zinta” Ucap Zinta sambil menempelkan ID card nya di monitor.
...(Kata sandi benar namun salah)...
Terdengar suara dari arah pintu laboratorium.
__ADS_1
“Ko bisa sih? Biasanya nggak pernah kaya gini, ok gue ulangi lagi” Kata Zinta kembali.
Zinta sudah mencoba hingga ketiga kalinya, namun belum adanya perubahan.
...(Kata sandi benar namun salah)...
Segeralah Zaskia merebut ID card nya dari pemiliknya.
“Mana sini ID card nya? Biar gue aja yang buka, the number one Professor Zinta" Ujar Zaskia geregetan.
...(Maaf kata sandi benar, tapi tidak berlogat bahasa sunda)....
“Ha haha pintunya pinter, tau aja” Ledek Zevana sambil tertawa terbahak-bahak.
“Coba sini, sekarang giliran gue yang beraksi! Ya ampun segini gampangnya, masa sampai dua orang aja nggak ada yang bisa juga? Sangat mengkhawatirkan” Ujar Zevana dengan gaya menyombongkan dirinya didepan sahabatnya.
...(Maaf kata sandi benar, tapi tidak menerima suara emak-emak)....
“Ha haha” Ledek Zaskia sambil tertawa lepas.
“Kenapa sih pintunya nggak kebuka terus? Eror kali Zin, kalau gitu gue coba dobrak aja ya, nih pintunya” Kata Zevana.
Sembari memulai ancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut serta bertumpu lah tubuhnya di pintu laboratorium.
“Jangan main dobrak pintu aja dong! Terus kalau pintunya rusak, lo mau tanggung jawab?” Hentak Zinta yang merasa risih akan tindakan Zevana yang terlalu gegabah.
“Telat Zin lo telat ngomongnya. Giliran badan gue udah sakit kena pintu aja, baru bilang jangan! Gimana sih” Gerutunya sambil mengelus bahu yang terasa sakit.
“Gimana mau selesai coba masalahnya, kalau kalian semua nggak ada yang bisa masuk ke dalem ruangannya? Terus langkah selanjutnya apa?" Celoteh Zaskia menambahkan sambil menggerutu.
“Bisa nggak sih kalian nggak pada nyalahin gue? Denger ya, disini gue juga korban praktek kimia yang sama!" Kata Zinta yang tak mau kalah beropini dengan perdebatan diantara mereka.
"Lagian juga, gue udah bener-bener teliti! Gue juga inget banget komposisi apa aja yang udah gue buat di penemuan itu. Dan yang paling gue nggak habis pikir, kenapa bisa ada efek sampingnya coba? Aneh banget kan?" Tanya Zinta.
__ADS_1
Zinta mencoba memposisikan keadaan sebenarnya dengan menyatukan analisis yang berkutat dalam pikiran.
"Gue sadar ko sama diri gue sendiri, bener kata semua orang di sekeliling gue. Sebutan tentang orang yang aneh atau orang stress, itu benar adanya. Pertama kalinya gue terima sebutan itu tanpa pikir panjang tepat di hari ini. Hari dimana gue gagal! Entah gue sanggup atau enggak nantinya, buat menyelesaikan solusinya sendirian” Sahutnya.
Mengucapkan kalimat kepasrahan hatinya dengan keadaan. Zaskia serta Zevana terdiam sejenak mendengarkan apa yang diungkapkan oleh Zinta.
Meringkuk lah ia di sudut tembok dekat kursi santai milik Ayahnya. Dengan perlahan air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi, kemudian ia terisak tangis dengan permasalahan diantara dirinya serta ketiga sahabatnya tersebut. Posisinya terus-menerus diserang berbagai macam tuntutan pertanyaan yang semakin menyudutkannya.
Sudah beberapa kali Zinta menjelaskannya pada mereka, namun mereka pun tak kunjung percaya dengan semua pernyataannya. Mereka menganggapnya hanya sebuah angin lalu dapat membela dirinya sendiri agar bisa terhindar dari permasalahan yang ada.
"Nothing will ever change! if you do it just cry!
/("Nggak bakalan ada yang bisa berubah! kalo yang dikerjain cuma nangis doang)" Gertak Zaskia sembari bergegas keluar tanpa menoleh sedikit pun.
...Masalah akan datang dan pergi...
...Tak tentu arah...
...Mengalir seperti air...
...Tak pernah terduga...
...Membawa pilihan...
...Jika kau berhasil, ia akan pergi...
...Jangan pernah kau tangisi dan sesali...
...Jika kau tak sanggup...
...Maka ia akan kembali...
...Menemanimu walaupun seorang diri...
__ADS_1
* to be continued