
"Sangat sunyi" Ucap gadis tersebut.
Ia menghela nafas panjangnya dan kembali terbaring di atas ranjang.
"Tapi aku lapar" Ucapnya seraya mengusap perutnya yang sedang bergemuruh.
Seseorang datang mengetuk dan berucap, tentu suasana di sana tetap hening.
"Apa kamu sudah tidur Zinta?" Dokter Sheila bertanya dengan kepastian.
Lantaran tak ada jawaban yang berbalas, hingga ia hanya bisa menerka sesuai keadaan.
"Dia pasti kelelahan hingga langsung tertidur" Ucapnya seraya beranjak pergi ke lantai dasar.
Tiba-tiba terdengar suara sinyal penghubung sedang berdengung. Dokter Sheila terlihat menyibukkan diri, saat menerima panggilan tersebut.
π"Gimana kalau kau datang kesini secepatnya?" Seseorang bertanya dalam saluran telepon.
π"Maaf saat ini aku tidak bisa" Jawab Dokter Sheila.
π"Kenapa? Seharusnya kau tak bisa mengabaikan panggilan darurat ini" Sahutnya.
π"Ketua memberi amanah agar menjaga gadis itu dengan baik" Jawabnya.
__ADS_1
π"Itu demi kebaikanmu, kau harus percaya padaku. Ajak dia pergi atau tinggalkan dia sendirian di sana" Seseorang mengakhiri pembicaraan dengan singkat.
Dokter Sheila memejamkan mata, menyimak ucapan dan ketika segalanya menjadi jelas.
"Baiklah aku pergi" Ucapnya dan segera bergegas menuju tempat yang sedang dibahas sebelumnya.
Dari salah satu ranting pohon yang terjatuh, sebuah penangkap cahaya seolah memanggilnya. Hanya ditujukan pada orang-orang tertentu.
Saat ia memeriksanya, dengan perlahan cahaya itu berpindah dan tanpa sadar mengantarnya pada alam luas yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
"Apa yang kau tunggu? Ini kesempatanmu Zinta. Lihatlah bagaimana alam ini terlihat nyata, tak ada orang yang menghalangi langkahmu" Suara itu berucap dari dalam lubuk hatinya.
"Benar" Zinta mengatakannya dengan langkah pertama.
Ketika itu pukul dua belas lebih, tepat di tengah malam hari dan pijakannya pun berubah. Ia tersadar bahwa dirinya sedang tersesat, lantaran tidak tahu jalan pulang.
"Tapi aku hanya bisa mendengar suara angin" Ucapnya bermonolog.
Zinta tenggelam dalam pikirannya, kemudian ia mendengar gemericik air saling bersentuhan dengan rerumputan yang sedang menari.
"Bantuan datang!" Ucapnya dengan gembira.
Setelah berbalik arah, ia malah mendapati seekor serigala datang bergerombol dengan tatapan bringas. Isyarat itu menunjukkan ingin melahapnya seperti hidangan.
__ADS_1
Awuu..! Terdengar lolongan serigala di sepanjang malam itu.
"Jangan kemari! Pergi sana yang jauh. Aku bukan santapan mu!" Pekiknya dan berlari sekencang mungkin.
Lolongan panjang itu saling bersahutan dan mengejar dengan lincah mangsa di hadapannya.
"Sial! Kenapa benda canggih ini tak mau berfungsi" Ia benar-benar ketakutan dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan.
Dalam pelariannya, tak sebanding dengan kecepatan segerombolan binatang buas tersebut.
"Tidak!!"
Boom
Sebuah letusan memekakkan telinga membuatnya tersentak, persis setelahnya tembakan itu membelah udara.
"Seharusnya Zinta masih berada di rumah, aku harap suara lengkingan itu bukanlah dirinya" Ujar Fariz yang saat ini lebih sering disebut ketua, karena sebuah jabatan yang diberikan kepadanya.
"Tapi ada seorang pemuda ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat. Ia juga akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan gadis yang dicintainya, tentu semua akan berguna pada masanya" Ucap salah seorang peneliti sedang memberi tahu pada rekan setimnya.
"Setahuku tidak ada yang lebih keren dari ketua. Apa kau tidak mendengar ceritanya dengan lengkap?" Sahutnya.
"Serius aku melihatnya! Pasti kau sedang berpikir bahwa aku berhalusinasi kan?" Timpalnya kembali.
__ADS_1
"Nah itu, kau tahu" Sahutnya.
to be continued..