Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Menghilang


__ADS_3

"Ohiya hampir lupa. Gue punya info penting nih" Kata Zweta sambil mengendarai sepeda motornya.


"Info apa?" Sahut Zevana sambil memeluk ranselnya yang ditaruh di depan tempat duduknya saat menaiki sepeda motor.


"Adnan lagi kepo banget soal time travel. Soalnya tadi dia nanya-nanya gitu ke gue. Kira-kira dia tahu dari siapa ya? Lo ngerasa keceplosan nggak Zev?" Tanya Zweta menjelaskan ucapannya.


"Yang keceplosan ngomong itu Zaskia. Bukan gue ya" Jawab Zevana sambil melihat ke kanan dan ke kiri suasana perjalanan.


"Pantesan gue sampai mikir ini si Adnan tahu dari mana? Sedangkan gue aja nggak merasa ngasih tahu ke orang lain" Sahut Zweta dengan menghirup udara sore hari hingga ia terbatuk.


Uhuk..!!


Uhuk..!!


"Loh kenapa? Ko malah jadi batuk gitu?" Tanya Zevana yang melihat kearah sahabatnya.


"Nggak tahu nih kayaknya gue tersedak angin deh" Sahut Zweta sambil mendaratkan sepeda motornya ke pinggir jalan.


"Tersedak angin? Ada-ada aja" Ucap Zevana.


Ia berinisiatif mengusulkan pada Zweta agar segera minum air putih dahulu, supaya kondisi tubuh lebih tenang saat berkendara.


"Bentar ya Zev. Gue mau beli minum dulu nih" Ujar Zweta sambil memarkirkan sepeda motornya di depan minimarket.


"Iya gapapa gue nunggu diluar aja" Jawab Zevana dengan santai.


Suara pintu minimarket telah Zweta buka. Dengan gesit ia mengambil air mineral dan meneguknya sebelum membayarnya ke kasir.


"Ah.. seger" Ucap Zweta setelah meneguk air mineral yang ia bawa dari rak minimarket.


Zweta membuka resleting ranselnya, hingga ia tidak sadar jika pulpennya terjatuh ke lantai karena saking terburu-buru.


"Makasih ya mas" Ucap Zweta sambil menerima uang kembalian dari kasir minimarket.


Suara pintu minimarket kembali dibuka oleh Zweta karena ia hendak keluar. Ia bergegas pergi dan melanjutkan perjalanan kembali bersama Zevana sembari bersenda gurau.


"Pulpen yang bagus" Kata seseorang yang menemukan pulpen milik Zweta di minimarket.

__ADS_1


Setelah ia teliti ternyata ada ukiran nama bertuliskan Zedfour dengan perpaduan warna emas dan biru.


"Zedfour? Nama yang aneh" Ucap seseorang yang masih dirahasiakan identitasnya.


"Itu kayaknya pulpen punya mbak yang barusan deh mas" Kata kasir minimarket.


Seseorang yang melihat dari dalam ruangan dengan sigap menoleh kearah luar, rupanya ia mengetahui siapa nama si pemilik pulpen tersebut. Berlari ke arah luar dan segera memastikan pandangannya.


"Itu kan mereka, apa mungkin pulpen ini punya Zweta?" Gumam pria tersebut yang kebetulan sempat singgah ke minimarket.


Namun ia tidak berhasil bertemu dengan mereka, sebab kendaraan Zweta telah melaju dengan sangat cepat.


"Yah mana orangnya udah jauh lagi. Terus pulpennya gimana? Ohiya bener, gue ikutin mereka aja deh dari belakang" Kata seorang pria sambil bersiap untuk melaju.


Saking menikmatinya pemandangan sore hari itu, Zweta masih belum menyadari pulpen berharga milik Zinta yang ia pinjam tadi pagi terjatuh di minimarket.


Di tengah perjalanan pulang, Zweta merasa curiga dengan sepeda motor yang terlihat seperti mengikutinya dari belakang.


"Kayaknya ada yang ngikutin kita deh" Ujar Zweta yang sesekali pandangannya melihat ke kaca spion motornya.


"Ah yang bener?" Sahut Zevana.


Semakin lama gerak-gerik seseorang yang dimaksud itu hampir mendekati mereka berdua. Namun sayang wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena terhalang kaca helm yang berwarna hitam pekat.


Suara knalpot motor milik pria tersebut berbunyi seperti tanda ingin beraksi layaknya sebuah pertunjukan.


"Sorry ya Zev kayaknya kita bakalan ngebut. Lo pegangan yang kuat ya" Kata Zweta sambil menaikkan kecepatan sepeda motornya hingga 80 kilometer per jam.


"Hah serius Lo?" Sahut Zevana hingga terperangah setelah mendengarkan alasan Zweta berbicara.


Angin telah membawanya berlari semakin kencang dengan suara jeritan ketakutan yang berhembus diantara kerumunan nyawa di setiap orang.


"Ya Allah.. lo udah gila ya? Ini ngebut banget! Kita bisa celaka nanti, apalagi sekarang lagi jalan raya loh bukan di sirkuit motor" Seru Zevana sambil memegang seragam sekolah sahabatnya.


"Udah tenang aja Zev. InsyaAllah kita nggak bakalan kenapa-kenapa" Jawab Zweta untuk menenangkan pikiran Zevana.


"Udahlah nggak usah ditanggapi. Lagian juga dia nggak mungkinlah lagi ngikutin kita" Sahut Zevana yang semakin takut akan kecepatan laju motor yang dikendarai oleh Zweta tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Zevana berusaha untuk berteriak minta tolong. Namun sepertinya usaha Zevana menjadi sia-sia karena suatu hal yang membuatnya terkejut untuk yang kesekian kalinya. Sebuah truk tronton datang menghadang tepat di depan kendaraan mereka.


Kenapa begitu? karena Zweta tidak melihat arah jalan saking fokusnya dengan orang yang sedang mengikutinya dari belakang.


"Awas Zweta" ucap Zevana sambil menunjuk ke depan yang ia lihat.


Aahhhh..!!


Tiin


Suara klakson kendaraan roda dua dan roda empat saling beradu ketika melihat sepeda motor yang ditumpangi Zweta dan Zevana melaju kencang di jalur yang berlawanan arah.


BRUKK


Kemudian laju kendaraan pria itu berhenti di tempat kejadian perkara. Ia menjadi sangat tercengang lantaran ia tidak melihat korban kecelakaan yang sangat jelas ia lihat. Ya, Zweta dan Zevana telah menghilang dari pandangannya. Entah kemana perginya mereka.


Kini ia menjadi saksi bisu suatu peristiwa yang dialami teman sekolahnya yang menghilang dari tempat kecelakaan tersebut.


Seluruh tubuhnya bergetar, tidak tahu harus diberitahukan kepada siapa informasi penting ini. Lalu tersadar ia mulai melihat ke sekelilingnya.


"Hei mas minggir jangan berhenti di tengah jalan. Saya mau lewat" Kata seseorang pengendara mobil.


"Hah? Ohiya.. iya pak" Sahut pria itu sambil melajukan kendaraannya kembali.


🏍️BRUM


Sangat tidak asing suara knalpot yang terdengar di telinga. Rupanya pria yang dimaksud adalah Adnan. Dalam perjalanannya ia masih memikirkan apa yang dilihatnya barusan.


"Mereka pergi kemana? Setidaknya masih ada serpihan puing kendaraan yang berhamburan. Semua ini diluar pemikiran gue. Dan anehnya lagi kenapa cuma gue doang yang lihat kejadian itu?" Gumam Adnan di dalam hatinya yang masih membahas peristiwa tersebut.


Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggalnya yang beberapa kilometer lagi sampai.


Bisa jadi peristiwa yang Adnan lihat barusan adalah sebuah portal dimensi yang kebetulan sedang terbuka pada waktu tertentu. Zevana dan Zweta menghilang tanpa jejak.


Namun Adnan juga mendapatkan petunjuk lain yaitu sebuah pulpen bertuliskan Zedfour yang ia temukan di minimarket, kemungkinan pulpen tersebut milik Zweta menurut Adnan.


Ada rahasia apalagi yang disembunyikan oleh Zinta tersebut? Mungkin ini ada hubungannya dengan rahasia Zinta saat membuat penelitian bernama ZANN.

__ADS_1


Iya benar ada beberapa petunjuk yang belum terpecahkan. Petualangan apa lagi yang akan dilalui empat sahabat bernama Zevana, Zweta, Zinta serta Zaskia? Tetap semangat.


* to be continued..


__ADS_2