
Zweta dan Zaskia tampak bertengkar setelah sebuah lintasan cahaya mampu memecah belah keadaan.
"Kau mau kemana?," Zweta bertanya ingin memastikan sesuatu.
"Dia bahkan masih bisa bertanya. Apa tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan olehnya? Sungguh, saat ini aku tidak mau ditegur sapa oleh siapapun!," Protes Zaskia di dalam hati.
"Jangan berbuat hal yang merugikan," Imbuhnya. Ia tahu poin penting apa saja yang harus dilakukan.
Lantaran tak ada tanggapan yang berbalas, kemudian Zweta tampak mengamati cahaya yang dapat dilihat melalui bintang, galaksi dan benda-benda angkasa dapat meninggalkan sumbernya bertahun-tahun yang lalu.
"Bahkan benda terjauh yang bisa dijamak dalam alam semesta, adalah apa yang kita lihat di bumi sekarang. Namun ledakan dahsyat itu terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Aku tak habis pikir, kejadian ini hampir mendekati teorinya," Ujar Zweta sambil mengambil buku pengetahuan yang tak jauh darinya.
"Sangat merepotkan!," Keluhnya sambil berjalan beberapa langkah untuk memeriksa area di ruangan bawah.
Zinta mendengar gesekan pintu masuk pada lantai berlapis besi dari ruangan atas dan berpindah mendekati pendengarannya. Seseorang datang seakan dapat membaca pikirannya, dan dia pun berhenti. Tatapan itu kini berubah menjadi sendu, dia turun dari sebuah anak tangga dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Sudah berapa lama dia berada disini? Bahkan aku baru saja melihatnya," Ucapnya di dalam hati.
Ia menatapnya termenung. "Hai, apa kau sedang sibuk? Maaf sepertinya aku tersesat, bisakah kau mengijinkan aku menginap disini?," Sapanya sambil mencoba mendekat.
Namun langkahnya seakan menjauh, lantaran ia tersentak saat gadis itu memulai percakapan dengannya.
__ADS_1
"Apa ini menandakan aku tidak boleh menginap? Baiklah terimakasih," Ujar Zinta seraya berbalik badan, lalu ia tampak membuka kembali pintu keluarnya.
"Aku merasa kita pernah sedekat itu, mungkinkah dia..? Ah pasti aku sedang terbawa suasana. Jika benar, mengapa dia tidak mengenaliku?," Gumamnya penasaran.
"Terlibat petualangan bersama ilmuwan, tidak seperti yang kubayangkan. Namun kenyataannya hingga sekarang pun, kami masih mengalami peristiwa tak mengenakan, entah tujuan apa yang diinginkan oleh mereka," Curhatnya.
Langkah Zinta mendadak terhenti setelah mendengar tiap baris kata disimak olehnya.
"Ramuan ini seharusnya bisa diandalkan!," Keluhnya kembali.
Ia pergi ke ruangan sebelah. Saat dia kembali membawa sebuah mangkuk berisi air hangat yang ditaruhnya di atas meja. Tetapi pada akhirnya, ia tak mampu menyeka air matanya yang menggenang.
"Seharusnya kau mengatakan antibiotik dan campuran desinfektan dapat membantu menghentikan infeksi," Ujarnya memberitahu kemudian.
"Zaskia! Bersiap-siap lah!," Seseorang berseru melalui monitor.
Sebuah momentum berkelebatan muncul dalam ingatannya, Zinta tampak memegangi kepalanya dan sedikit merintih kesakitan.
"Apa yang terjadi?," Zaskia bertanya khawatir.
Ketika Zedric merasakan desakan kuat dan bisa bangkit dari serangan musuh, Kilauan cahaya menjadi enggan berseru. Angin telah menjaganya dan yang tersisa kini adalah pertahanan.
__ADS_1
"Siapa yang memerintahkan penyerangan ini kepadaku!," Zedric tampak meluapkan emosi pada seseorang dihadapannya saat ini.
"Seharusnya kau tahu mengapa serangan ini bisa muncul!," Dia menjawab dengan membalikkan pertanyaan.
Detik-detik penentuan makin mendekat dengan langkah, berjalan melewati rerumputan kemudian melihat sekeliling.
"Lihatlah sinyal pendeteksi sedang memburu angin di kegelapan! Bahkan semakin kau mengingatnya, maka semakin kuat pula serangan ini menerjang! Ha haha," Sahutnya sambil tertawa.
"Sekarang atau nanti kau kan menginap?," Lantaran panik, Zaskia segera membuat keputusan untuknya.
"Kau akan ikut bersama kami, tapi tidak dengan satu malam saja," Ujarnya.
Tiba-tiba badai salju mulai turun di langit malam gelap gulita dan mengisi wilayah itu dengan kedinginan. Beberapa saat setelahnya terdengar bising suara mesin Z1 yang sepertinya akan melaju. Zedric segera lekas berjalan merangkak dan mengudara untuk memberikan perlindungan pada tiap badan mesinnya.
"Tutup kembali ingatannya! Hingga dipastikan dia tidak punya kenangan indah yang tersisa," Perintahnya tak mau kalah.
"Aku tak tahu harus mengingat apa," Ucap Zinta dan ia pun berteriak histeris.
"Serang mesin itu!,"
BOOM
__ADS_1
Ledakan dahsyat kembali diluncurkan, namun suara menggema itu hanya mampu bertahan di lengkungan jalan penghubung saja. Dalam semalam Zedric berhasil memasuki pintu masuk di bagian ruang bawah mesin, tempat Zinta berada.
*to be continued..