
"Kau sudah memeriksanya? Pastikan semuanya aman. Sepertinya aku perlu memindahkan mesinnya, agar tak ada seseorang yang mencurigai kita disini," Ujar Zweta tampak bersiap-siap.
"Aku sudah beberapa kali mengerjakannya, dan tetap kembali ke pengaturan awal," Jawab Zaskia sambil berjalan ke arahnya.
"Begitu kah? Setahuku yang benar adalah, sekitar lima belas menit yang lalu kita berada di dalam sauna, dan setelahnya kita belum melakukan apa-apa," Sahut Zweta dan mengakhiri pembicaraan.
"Itulah maksudku," Jawab Zaskia.
"Jadi?," Zweta bertanya memastikan.
"Jadi aku memilih untuk beristirahat sejenak, dan kita mulai bergantian tugas," Godanya.
Namun, pada momen tersebut Zweta malah beranjak dari kursinya dan berupaya melakukan tindakan sesuai pemikirannya.
"Aku tak mengerti, mengapa dia berulang kali mengatakan untuk mengajakku pulang ke rumah? Sedangkan aku dengan jelas menolaknya, dan apalah dia terus membahas seseorang sedang menunggu ku," Protes Zinta bermonolog.
"Itulah mengapa pentingnya sebuah komunikasi," Ucap Zweta bermonolog.
Betapa sering, selama Zinta berada di tempat barunya, ia mendengar selangkah demi selangkah mulai mencapai pendengarannya.
Seketika ia tak sabar ingin cepat-cepat menemukan suara itu berasal, tepat di atas sana sebuah jawaban singkat membantunya menemukan solusi.
__ADS_1
"Kau benar, kita hanya perlu saling berkomunikasi," Jawab Zaskia seraya tersenyum.
"Mengapa kursinya bergerak?," Ucap Zinta yang mulai terlihat panik.
Sepertinya ia ingin bersembunyi jauh lebih dalam lagi. Hanya sekedar untuk menghindar darinya. Namun sesuatu terjadi dan menghalangi penglihatan mereka yang berada di sekitar mesin Z1.
"Orang seperti apa yang berani memarkir kendaraan di tempat tidak bersahabat ini?," Gumam Zedric ketika pijakannya berhenti.
Dalam sekian ratusan ribu kilometer per detik, sebuah cahaya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Seketika, pantulan sinar menjadi lekat dan memberi celah suara gaduh untuk menerjang ke arah sekitarnya.
BOOM!
Zedric tampak terjungkal setelah hampir terkena sebuah ledakan yang akan menghabisi nyawanya dengan sekali hantaman.
"Oh Sial! Bahkan kita baru memulainya, kenapa serangan itu kembali menyambut kita!," Zaskia berseru dan memastikan keadaan.
"Lihatlah, bagaimana sinar itu mampu menembus kacamata ku," Ujar Zweta menambahkan.
"Sekarang aku yang bertanya padamu, sudahkah kau memeriksa semua bagian mesinnya? Anggap saja ucapanku sebagai bentuk komunikasi," Ujar Zaskia memulai pembicaraan.
"Aku tidak ingin berdebat tentang hal yang seharusnya tak usah dibahas lagi," Jawab Zweta.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mengalah," Sahut Zaskia sambil berjalan menuruni sebuah anak tangga.
Sheila mengambil ponsel pintarnya, dan membuka nomer tujuan untuk menelpon seseorang.
π±"Kurasa dia telah mengetahuinya," Ujarnya dengan suara yang bergetar.
π±"Kau tahu darimana? Sedangkan sekarang Zinta sedang ada bersamaku," Jawab Salman menenangkannya.
π±"Benarkah? Syukurlah aku selamat, terimakasih sudah membantuku," Ujarnya dan kembali memadamkan ponsel pintarnya.
"Siapa yang sedang bersamamu?," Sahut Fariz setelah mendengar pembicaraan diantara mereka berdua.
"Fariz? Oh tentu saja kau ketua. Siapa lagi ya, kan?," Sahut Salman mengalihkan pembicaraan.
"Sudah lama setelah terakhir teknologi ini dibuat, sinyal pendeteksi ingatan kembali terhubung. Apa itu menandakan seseorang telah pulih? Dia pasti sedang berusaha mengingat masa lalunya kembali. Aku tak akan membiarkannya itu terjadi," Ucapnya penuh kebencian, karena ia berpikir bahwa Zedric telah membawanya.
"Mengapa kau mengatakan hal itu?," Salman melontarkan pertanyaan padanya.
Kini Salman dibuat panik setelah Sheila memperlihatkannya terlebih dahulu.
"Seorang peneliti sedang bepergian sendirian, tak sengaja melihat penampakan tamu tak diundang. Jadi apa kau masih beranggapan bahwa Zinta berada bersama mu? Ha haha," Ujar Fariz sambil tertawa.
__ADS_1
* to be continued..