
Terdapat beberapa peranan penting ikut serta dalam pengejaran Zevana yang dilarikan ke rumah sakit. Kebetulan kecepatan kendaraan yang digunakan Zedric tergolong sangat cepat setara dengan pembalap MotoGP kisaran antara 100 hingga 130 kilometer per jam.
"Thanks ya, gue mau masuk ke dalam dulu sebentar" ujar Zinta seraya melepaskan helm motor yang dipakainya.
Zedric hanya bisa berdiam diri dan memposisikan sebagai pendengar saja. Dengan rasa penasaran itulah, tadinya ia berniat mengikuti Zinta dari belakang tanpa sepengetahuannya.
Namun semua itu ditepisnya dengan alasan bisa diandalkan sesuai yang diharapkan.
"Gue akan nunggu lo disini hingga selesai" gumam Zedric didalam hatinya.
Zinta berlarian dimulai dari pelataran rumah sakit hingga ruangan yang dicarinya. Mungkin saja mereka menjadi orang terdekat pertama yang datang lebih awal.
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan yang dilakukan oleh Zinta.
"Ya silahkan masuk" jawab seseorang dari dalam ruangan tersebut.
Setelah mendengar suara yang menjawab ketukan pintu, ia segera melangkahkan kaki menghampiri seseorang yang menelponnya.
Zinta melihat perawakan dalam pandangan yang sekilas tidak asing dalam pikirannya. Karena merasa familiar itulah, Zinta tidak segan untuk bertanya langsung mengenai identitas yang sebenarnya.
"Maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Zinta merasa curiga dengan suasana yang semakin panik.
"Ini gue Zaskia" bisik Zaskia sembari melepaskan rambut palsu yang dipakai di kepalanya.
"Nggak jelas lo Zas" ucap Zinta dengan ekspresi kesal, merasa dirinya sedang dipermainkan sepihak.
Zinta segera membalikkan badan, ingin segera keluar dari ruangan tersebut yang dianggap sebuah lelucon. Namun langkahnya terhenti, karena Zaskia melanjutkan pembicaraan langsung ke inti cerita.
"Zevana baru aja masuk rumah sakit. Menurut informasi yang didapat dari maminya, dia hanya berpesan mau tidur lebih awal dengan tujuan nenangin pikiran serta mencari tempat yang nggak bisa ditemukan orang. Hal yang menjadi pertanyaan selanjutnya di pagi hari ini, maminya bilang Zeva udah nggak ada" ujar Zaskia menjelaskan secara detail padanya.
"Nggak ada? maksudnya gimana sih? lo kalo ngomong yang jelas Zas" ujar Zinta yang masih belum bisa menelaah perkataan sahabatnya.
"Yang lebih nggak masuk akalnya, lo ngapain pake acara nyamar jadi Profesor segala hah?" sambar Zinta dengan segala pertanyaan yang diajukan padanya.
"Maaf dengan sikap gue yang udah bohong segala. Gue pikir itu ide yang bagus buat jadi pengalihan supaya lo cepat datang kesini" sahut Zaskia dengan rasa bersalah yang sudah dilakukannya .
Setelah mendengar alasan yang dipikir masuk akal, Zinta mencoba untuk menyampingkan rasa kesalnya terlebih dahulu.
"Terus dimana orangtuanya Zevana sekarang?" tanya Zinta semakin penasaran.
__ADS_1
"Lagi di jalan mau kesini juga. Mungkin sebentar lagi sampai" jawab Zaskia memberi tahu.
"Apa? gue mau lihat kondisinya Zevana" ucap Zinta bergegas menemui sahabatnya.
Dalam pandangan, Zevana terlihat kaku dengan rasa dingin yang menyelimuti seluruh anggota badannya. Zinta mengetahui secara pasti dimana nyawa Zevana berada.
"Gue harus bawa Zevana pergi dari sini" ujar Zinta berusaha memindahkan Zevana ke tempat yang lain.
"Nggak semudah itu Zin" sahut Zaskia memberi tahu bahwa pihak keluarga Zevana sudah berada tidak jauh dari pandangannya.
...****...
Zedric yang sedari tadi menunggu Zinta di ruang tunggu pun merasa kepikiran dengannya, terlebih lagi ia sempat menoleh pada sebuah pintu yang terhalang oleh tirai.
"Sebenarnya masalah apa yang ditutupi oleh Zinta ya?" gumam Zedric didalam hatinya.
Tak berlangsung lama, Zinta pun hadir diantara tirai yang menjadi pandangan Zedric saat ini.
Setelah membuka tirai tersebut, pandangan matanya hanya berpusat pada seseorang yang menjadi pusat perhatian yaitu kedua orangtuanya Zevana sudah sampai rumah sakit dengan gerakan yang gesit.
"Kayaknya dia lagi melamun deh. Udah lama banget gue nggak lihat Zinta kaya gini" gumam Zedric didalam hatinya tidak menyadari senyumannya ikut merekah.
"Permisi, pasien atas nama Zevana dirawat di ruangan kamar nomer berapa ya sus?" tanya Fahri pada perawat yang bekerja di rumah sakit.
"Di kamar 406 Pak" jawab perawat tersebut.
"Terimakasih" sahut Mita dan Fahri secara bersamaan mengikuti arah rawat inap yang dimaksud.
Zinta pun menyadarkan dirinya, segera masuk ke dalam ruangan memberi tahu Zaskia agar mau dijadikan penyamaran terhadap Zevana untuk sementara waktu.
"Nggak mau lah gue" sahut Zaskia menolak ajakan Zinta.
"Gue tahu semuanya sangat bertentangan. Tapi nggak ada cara lain yang dilakukan dalam situasi yang mendesak kaya gini" sahut Zinta menegaskan ucapannya.
Cklek..
Suara pintu terbuka yang dilakukan seseorang dari arah luar. Kesedihan mendalam menjadi suasana yang selalu hadir menemani dalam setiap aktivitas kedua orangtuanya Zevana belakangan ini.
"Vana ini mami sayang, tolong jangan tinggalin mami dan papi secepat ini ya" ucap Mita dengan membelai rambut Zevana yang sedang terbaring di tempat tidur pasien.
"Zev kenapa semuanya mendadak banget? papi baru aja mau ngajak sekeluarga liburan bareng" ucap Fahri dengan berlinangan air mata.
__ADS_1
Mita mengusap wajah anaknya yang awalnya terasa dingin, kini sudah terlihat mulai ada kemajuan.
Fahri pun mengecek nadinya yang masih berfungsi dengan hembusan nafas yang beraturan.
"Alhamdulillah mi Zeva selamat" ucap Fahri dengan rasa bersyukur karena sebelumnya mendapat kabar dari istrinya bahwa anaknya sudah tidak ada.
Setelah Zaskia mengikuti saran dari sahabatnya, ia mulai menyadari bahwa menjadi orang yang dipercaya itu tidaklah mudah. Suatu alasan yang kuat adalah membantu menyelamatkan Zevana yang tersesat dalam mimpinya, seperti yang sudah dikatakan oleh Profesor Zinta.
"Mami dan papi akan selalu menjaga kamu hingga sembuh, sayang" ucap Mita memberikan segudang perhatian serta membelikan banyak hadiah untuk anaknya.
"Semoga kalian semua selamat, mungkin bantuan gue dapat diandalkan dalam situasi ini" batin Zaskia merasakan kepedulian yang tinggi terhadap orang yang selalu membantunya di kala susah.
Sementara itu di lain tempat, Zinta menghubungi Zedric untuk dijadikan bantuan darurat yaitu membopong Zevana untuk dipindahkan ke dalam mobil Zaskia.
π² "Halo Zed gue butuh bantuan lo" ucap Zinta memberi tahu informasi sambil menutup kembali ponselnya.
"Kenapa Zin?" tanya Zedric segera menghampirinya.
"Zevana kenapa?" tanya Zedric sekali lagi dengan perasaan khawatir.
"Gue akan jelasin semuanya setelah kita pergi dari sini" jawab Zinta dengan berlari membuka pintu mobil Zaskia yang sudah menunggu di parkiran.
Akhirnya Zedric mau menuruti permintaannya karena ia ingin mendengar informasi yang sebenarnya mengenai sahabatnya.
Zedric merasakan dingin dan kaku setelah membopong Zevana, ia menatap lekat pada perempuan yang terlihat penuh kesedihan.
Segera ia melepaskan jas putihnya untuk dipakaikan pada tubuh Zevana yang merasa kedinginan.
"Zev tenang ya, kita akan secepatnya nemuin lo" batin Zedric.
"Terus motor gue gimana? masa iya ditinggal disini?" tanya Zedric pada Zinta setelah membaringkan Zevana di kursi mobil.
"Soal motor biar nanti Pak Rohim yang urus ya?" pinta Zinta pada sopir pribadinya Zaskia.
"Siap bos" jawab Pak Rohim segera memisahkan diri dan menemui tugas barunya tersebut.
"Oke deh gue yang nyetir mobilnya, lo jagain Zevana ya" ucap Zedric dengan menyalakan mesin kendaraannya.
"Kalo disuruh pilih diantara mereka berdua, siapa yang akan lo pilih Zed?" tanya Zedric pada dirinya sendiri.
* to be continued
__ADS_1